
Bintang membuka pesan dari Zulaikha karena panggilannya tiba-tiba dimatikan saat baru saja terhubung. Betapa terkejutnya Bintang saat tahu kalau mobil yang membawa Zulaikha sedang diserang oleh musuh.
"Kak," bisik Bintang pada Angkasa yang baru saja masuk ke rumah bersama Langit dan Papanya, Alex.
"Ya, ada apa?" tanya Angkasa melihat raut wajah Bintang yang tegang.
"Zulaikha sedang diserang dalam perjalanan ke sini, saat ini. Calon suaminya dia itu tidak bisa berkelahi apalagi pegang senjata. Bagaimana ini? Aku takut kalau terjadi sesuatu pada mereka." Bintang berkata sambil menahan tangisnya.
"Apa kalian akan diam saja di sini?" tanya Alex.
"Nggak, Pa. Bintang ingin menolongnya, hanya saja saat ini di sini banyak anak-anak. Bagaimana jika mereka bertanya kita kemana?"
"Itu biar urusan Papa. Kalian pergilah!"
"Terima kasih, Pa. Doakan kami, ya!" pinta Bintang sambil memeluk Alex. Si Trio Kancil pun berpelukan dan segera pergi ke markas mereka. Tentu saja tanpa sepengetahuan Mamanya.
***
Trio Kancil berangkat menggunakan kendaraan masing-masing. Bintang bersama Michael, Angkasa bersama Peter, dan Langit bersama Akira.
Mobil mereka melaju sangat kencang menuju titik keberadaan Zulaikha. Yang jaraknya cukup jauh dan sudah memasuki pinggiran kota.
Sementara mobil yang dinaiki oleh Yusuf mendapat serangan dari sisi kanan, kiri, dan belakang. Mereka tidak membicarakan mobil itu kabur.
Brak! Brak! Brak!
Tiba-tiba mobil yang ada di depan mobil Zulaikha ditabrak dengan kecepatan tinggi sehingga terdorong kesamping berputar-putar dan membuka celah untuk mobil yang memiliki Yusuf dan Zulaikha.
"Yes, ini kesempatan!" Si sopir pun langsung tancap gas dengan kecepatan maksimum.
"Aaaaakh! Sopir gila! Kenapa ngebut begini? Perut aku mual!" Zulaikha berteriak sambil mengumpat.
"Yunus, kamu bisa gunakan pistol milik aku. Meski kamu yang menggunakannya, tim penyelidik pasti akan melayangkan sasaran padaku karena pistol itu miliki. Pakailah penutup kepala agar wajahmu tidak terekam kamera cctv," jelas si sopir. Maka Yunus pun mengikuti perintahnya.
__ADS_1
Yunus membuka jendela mobil dan menembakan peluru yang sudah terpasang peredam suara, sehingga tidak akan bunyi nyaring.
Syuuut! Prang!
Kaca mobil depan milik lawan pecah. Lalu Yunus mengarahkan pistol itu pada ban mobil mereka satu persatu.
Syuuut! Duar!
Syuuut! Duar! (Anggap saja bunyi ban mobilnya meletus karena kena tembakan 😉)
Yunus berhasil menghentikan dua mobil yang mengejarnya. Tinggal satu lagi. Namun, yang ini sopirnya pandai mengemudi dengan berkelak-kelok.
Tiba-tiba mobil yang mereka naikin pun mendapat serangan dari lawan. Ban mobil depan dan ban bagian belakang terkena tembakan. Sehingga, mobil mereka berputar lalu berhenti.
"Aaaaakh!" teriak Zulaikha semakin mengeratkan pelukannya kepada Yusuf.
"Ada apa ini?" tanya Yusuf.
"Sepertinya musuh bisa menembak dan mengenai ban mobil kita," jawab sopir.
Prang! Prang! Prang!
Mobil mereka dihujani tembakan oleh musuh. Lalu tidak lama kemudian sebuah mobil berwarna merah mendekat ke arah mereka. Yusuf pun melihat ke arah sana. Terlihat ada Bintang membukakan pintu mobil.
"Om Yusuf bawa Zulaikha ke sini!" titah Bintang.
Mobil berwarna putih milik Angkasa pun melaju melewati mereka. Terlihat Angkasa mengarahkan pistolnya ke arah lawan. Pistol berisi peluru bius dengan dosis tinggi di tembakan ke arah lawan mereka.
Yunus pun membukakan pintu yang tadi terkunci. Kini Yusuf dan Zulaikha menaiki mobil milik Bintang.
Dor! Dor! Dor!
Musuh pun kembali melancarkan serangan ke arah Yusuf dan Zulaikha. Bintang dan Michael menembakan peluru ke arah musuh tadi.
__ADS_1
"Dasar tidak sopan santun, eh salah. Tidak punya perikemanusiaan! Orang sedang melakukan penyelamatan malah di tembakin," teriak Zulaikha saat akan naik mobil.
"Zul, mereka itukan penjahat! Jadi, nggak punya sopan santun, dan perikemanusiaan. Kalau mereka punya itu, maka tidak akan melakukan kejahatan seperti ini!" balas Bintang. Mobil pun melaju meninggalkan tempat itu.
"Oh, iya. Benar juga, ya?" Zulaikha menampilkan senyum lebar yang memperlihatkan deretan gigi putihnya.
"Heran deh sama Om Yusuf, suka kamu dari bagian mananya?" ejek Bintang yang merasa kalau Zulaikha itu selalu berbuat bodoh dan super ceroboh dari zaman kecil dulu.
"Kebaikan hatinya dan tindakan ceroboh dan bodohnya yang sering buat aku tidak bisa melepaskannya. Aku selalu memikirkan dia," jawab Yusuf dengan serius.
"Oh, Om. Aku makin cinta!" Zulaikha mencium pipi Yusuf saking bahagianya dia.
"Aku laporkan loh sama Asiah. Kalau kamu cium-cium Om Yusuf," kata Bintang hanya bercanda.
"Jangan!" teriak Zulaikha dan Yusuf bersamaan.
Bintang tertawa terkekeh. Kemudian terdengar Langit menghubunginya.
[Kak Angkasa, aku sudah sampai ke tempat Oliver dan Buggy. Tapi, belum melakukan serangan. Ternyata dia melibatkan gangster jalanan New York dan Los Angeles. Baik yang dikediamannya maupun vila miliknya.]
"Langit kamu jangan gegabah, kita akan datang secepatnya," balas Bintang.
[Ya, apa yang dikatakan Bintang itu ada benarnya]
[Baik, Kak Angkasa!]
"Siap, aku menuju ke sana!" seru Bintang.
"Bintang kamu jangan gila! Membawa kami ke sarang musuh!" teriak Zulaikha sambil memukul bahu Bintang.
***
Bagaimana kisah mereka selanjutnya? Tunggu kelanjutannya ya! Jangan lupa untuk selalu klik like, komentar, favorit, hadiah, dan Vote-nya juga. Dukung aku terus ya. Terima kasih.
__ADS_1