Duda Vs Anak Perawan

Duda Vs Anak Perawan
#Kelilipan


__ADS_3

     Bekal makan Zulaikha tidak di ambil olehnya tadi. Saat Yusuf menyadari kalau bekal itu tertinggal dia berinisiatif mengantarkan bekal itu ke sekolahnya. Setelah mendapatkan izin dari penjaga sekolah. Yusuf memasuki parkiran bagian mobil.


     Zulaikha pergi ke sekolah bersama Yunus. Sejak keluar dari apartemen Yusuf, dia cemberut terus. Tidak ada senyum mengejek pada Yunus atau adu mulut darinya.


     Keadaan yang tidak di sukai oleh Yunus. Melihat Zulaikha hanya diam dan mengabaikannya. Meski di pancing beberapa kali untuk bicara. Jawaban yang diberikan oleh Zulaikha selalu singkat.


     Suasana hari ini sangat cerah, angin juga bertiup dengan sepoi-sepoi. Namun, membuat beberapa dedaunan tua dan kering berguguran. Saat itu mata Zulaikha kelilipan.


"Aduh!" rintih Zulaikha.


     Yunus yang melihat itu bertanya, "Kamu kenapa?"


"Mata aku kemasukan debu kayaknya," jawab Zulaikha sambil memegang matanya.


"Jangan di kucek matanya!" larang Yunus.


     Yunus pun mendongakkan kepala Zulaikha dan menundukkan kepala sendiri. Kemudian berkata, "Sini aku tiup!"


     Cara ini memang ampuh. Baru satu tiupan saja membuat mata Zulaikha kembali lagi terbuka normal meski agak berair.


"Bagaimana?" tanya Yunus.


"Ya, sudah baikan. Terima kasih," jawab Zulaikha.


     Senyum tampan pun mengembang di wajah Yunus. Dia senang kalau nona mudanya itu baik-baik saja. Keduanya pun berjalan kembali menuju kelas. Tanpa mereka tahu kalau ada seorang laki-laki yang berdiri dari salah satu sudut dan mengepalkan tangannya dengan kuat sampai memutih. Dia melihat kejadian itu dari sudut belakang Zulaikha.


"Dasar bocah. Bilangnya cinta sama aku. Tetapi, dibelakang dia sudah punya kekasih. Bahkan tidak tahu malu berciuman di halaman sekolah seperti itu," kata Yusuf bermonolog.

__ADS_1


     Perasaan Yusuf langsung buruk. Bahkan tanpa sadar di melemparkan paper bag itu ke kursi belakang. Dia pun pergi ke kantornya.


***


     Seharian ini Yusuf diam dan memasang wajah dingin. Tidak ada senyum ramah di wajahnya. Bicara pun hanya satu atau dua kata saja. Hal ini membuat Bilqis bertanya-tanya. Dia sejak tadi ingin bertanya, apa ada masalah yang membuat perasaannya buruk? Namun, saat ini adalah jam kerja. Dia harus bersikap profesional.


     Pikiran Yusuf masih terbayang-bayang saat Zulaikha sedang berciuman dengan laki-laki berseragam putih abu-abu. Dia menjadi gusar dan rasanya ingin meluapkan amarahnya. Namun, dia tidak pernah meluapkan kemarahannya kepada orang lain. Apalagi yang tidak tahu apa-apa.


'Zulaikha! Kenapa kamu selalu saja mengganggu aku!' batin Yusuf berteriak.


     Jam istirahat pun tiba. Yusuf dan Bilqis mengunjungi Yayasan Al-Huda. Ternyata ada Sarah juga di sana. Ibrahim, keponakannya dipindahkan ke sana. Agar mendapatkan pendidikan agama. 


"Akhirnya Baim, mau juga pindah ke sini?" tanya Yusuf.


"Iya. Dasar bocah, di iming-iming mainan dan liburan ke luar negeri nggak mau. Begitu tahu ada Asiah di sini, dia langsung mau," kata Sarah sambil terkekeh.


***


     Asiah menatap Ayahnya dalam diam. Dia masih kesal karena gara-gara Ayahnya Zulaikha marah.


"Asiah kenapa makannya belum habis. Apa sedang tidak enak badan?" tanya Bilqis saat melihat bekal makan siang Asiah baru sedikit yang dimakan.


     Yusuf pun mengalihkan pandangannya pada Asiah. Dilihat bekal milik putrinya itu hampir masih utuh, karena terlalu sedikit yang baru dimakan olehnya.


"Sini, mau Ayah suapi?" tanya Yusuf sambil mengulurkan tangannya mengambil kotak bekal.


"Asiah sudah kenyang, Yah. Nggak mau makan lagi," jawab Asiah kemudian dia beranjak dari sana karena baru dia sadari kalau boneka Barbie miliknya ketinggalan di dalam kelas.

__ADS_1


"Asiah, tunggu!" Yusuf pun beranjak mengikuti putrinya.


"Kamu, mau kemana?" tanya Yusuf sambil menuntun tangan anaknya.


"Ke kelas, Yah. Boneka Barbie aku ketinggalan di sana," jawab Asiah tanpa melihat wajah Yusuf, seperti biasanya.


     Asiah tahu tidak boleh marah sama orang tua. Karena itu dosa. Dia tidak mau jadi anak nakal, maunya jadi anak sholeha agar bisa mengirimkan doa untuk Bunda yang sudah meninggal. 'Hanya doa anak sholeh yang akan sampai pada orang tuanya yang sudah meninggal'. Itulah kata yang dulu sering dibilang oleh guru mengajinya, yaitu sang Bunda sendiri.


"Apa ada yang sakit?" Yusuf menghentikan langkahnya dan berjongkok di depan Asiah.


     Asiah hanya menggelengkan kepala.


"Apa kamu marah sama, Ayah?" tanya Yusuf.


     Lagi-lagi Asiah menggelengkan kepala.


"Apa Asiah sedang sedih?" tanya Yusuf dengan sedikit frustasi karena selalu salah menebak.


"Apa Ayah sudah minta maaf sama Mama Zulaikha? Tadi pagi Ayah sudah membuatnya sedih dan marah 'kan!" Asiah kali ini menatap wajah Yusuf.


"Itu ...."


***


Bagaimana kisah mereka selanjutnya? Tunggu kelanjutannya ya! Jangan lupa untuk selalu klik like, komentar, favorit, hadiah, dan, Vote-nya juga. Dukung aku terus. Terima kasih.


Teman-teman mampir juga ke karya teman aku ini. Ceritanya bagus loh.

__ADS_1



     


__ADS_2