
Alex membawa kue pengantin itu ke lapangan halipad yang ada di atap hotel. Yusuf dan Fatih juga ikut ke sana. Dengan cekatan Alex mengikis kue yang berukuran besar itu.
"Tuan Fatih, apa ini akan baik-baik saja?" tanya Yusuf saat melihat Alex memasukan tangannya ke dalam kue itu.
"Tenang saja. Dia ahlinya dalam hal seperti ini," jawab Fatih.
"Mister Alex itu sangat hebat, ya? Dia bisa apa saja." Yusuf menatap kagum kepada laki-laki yang kini menarik sebuah benda yang diduga bom waktu.
'Tentu saja dia bisa menjinakkan bom. Dia kan bisa buat bom,' kata Fatih dalam hatinya.
"Ya, dia orang yang mengerikan. Makanya orang-orang harus berpikir ulang sebelum berani berurusan dengannya," kata Fatih.
"Fatih, minta orang datang ke sini dan bawakan perlengkapan untuk menjinakkan bom. Waktunya tinggal setengah jam lagi," ucap Alex.
"Nggak akan sempat kalau kita mendatangkan alat itu dari markas," balas Fatih.
"Ahk! Bagaimana ini?" Yusuf panik. Dia takut bom itu akan meledak.
"Tenang saja. Pakai alat pemotong kabel juga bisa," ujar Alex.
"Benarkah?" Yusuf menatap tak percaya.
Seorang pengawal keluarga Fatih memberikan alat pemotong kabel. Dengan cepat Alex memotong satu persatu kabel itu. Waktu yang tersisa tinggal 15 menit. Mereka pun kembali ke ballroom hotel, kecuali Alex yang menganti bajunya karena banyak krim yang menempel di bajunya.
***
Pesta berlangsung dengan meriah. Zulaikha tampil dengan sangat cantik. Bahkan para tamu undangan banyak yang memuji kecantikannya. Hal ini malah membuat Yusuf cemburu. Apalagi banyak para lelaki lajang yang menatap penuh puja pada Zulaikha.
"Pengantin wanitanya sangat cantik."
__ADS_1
"Zulaikha, cantik banget hari ini!" pujian tiada hentinya diberikan kepada pengantin wanita.
"A~ang, apa aku cantik hari ini?" tanya Zulaikha dengan nada menggoda.
"Setiap hari kamu itu terlihat sangat cantik, Sayang," jawab Yusuf.
"Ah~, Aang ini suka buat aku melambung," balas Zulaikha tersenyum malu-malu dengan lirikan nakalnya.
"Ini masih siang, Sayang. Nanti malam kalau kamu mau menggoda Aang. Akan Aang sambut dengan baik," kata Yusuf gantian menggoda istrinya.
"Apaan, sih. Aku masih capek, semalam juga tidur cuma sebentar," gerutu Zulaikha. Yusuf yang gemes hanya bisa mencubit hidung mancungnya.
"Ih, gemesnya istri aku!" Yusuf tersenyum lebar sedangkan Zulaikha mengaduh karena hidungnya di pencet.
***
Rayyan seperti main kucing-kucingan dengan kedua orang tuanya. Setiap ada Fatih atau Mentari di dekat dirinya, dia langsung pergi menjauh.
"Raya, ada apa?" tanya Asiah saat melihat Raya masuk ke dalam kolong meja.
"Ada Ayah, Bunda, dan Daddy. Jika mereka tanya bilang saja sedang berkeliling mencari makanan." Rayyan bicara dengan pelan.
Asiah pun keluar dari kolong meja dan menjauh dari sana. Agar tidak ditanya-tanya oleh mereka.
"Ian, ke mana ya?" tanya Mentari.
"Mungkin sedang bersama Rain dan Mega. Mereka kan jarang bertemu," jawab Fatih.
"Dengar-dengar Bintang sudah pulang duluan ke Indonesia, tapi aku belum bertemu dengannya," kata Mentari pada suaminya.
__ADS_1
"Sibuk mungkin. Katanya dia yang mengawal Zulaikha kemarin saat mendapat serangan dari Qorun," balas Fatih.
Tanpa mereka tahu kalau di kolong dekat mereka Rayyan sedang bersembunyi. Dia bisa mendengar apa yang sedang orang tuanya bicara.
"Ngomong-ngomong Qorun, bagaimana nasibnya?" tanya William.
"Dia di penjara bawah tanah. Dia itu punya kelainan jiwa. Nanti bisa-bisa dia dibebaskan dengan alasan kesehatan mental terganggu. Padahal dari dulu dia memang seperti itu," jawab Fatih.
Rayyan memundurkan badannya saat melihat sepasang sepatu ada di depannya. Dia yakin kalau sepatu itu milik Ayahnya.
DUK!
"Aw!" aduh Rayyan.
Kepala Rayyan membentur sesuatu. Dia pun melirik ke samping tepat pada benda yang sudah mengenai kepalanya.
"Ini apa, ya?" Rayan melihat benda selubungi kain hitam. Lalu dia membuka tali yang mengikat kain itu. Terlihat sebuah kotak dan ada timer di sana.
"Bom waktu!" teriak Rayyan dan itu terdengar oleh keempat orang di sana.
Fatih yang mendengar ada suara anaknya pun berjongkok hendak melihat ke dalam kolong meja. Sementara Rayyan hendak berlari keluar.
"Raya!"
"Ayah! Ada bom waktu!" tunjuk Rayyan ke dalam kolong.
"Apa?" Keempat orang dewasa dan beberapa orang di sana terkejut mendengar ucapan Rayyan.
"Tinggal satu menit lagi, akan meledak!" pekik Rayyan panik.
__ADS_1
***
😱😱Bisakah mereka menjinakkan bom waktu itu? Akankah Rayyan akan mendapatkan tambahan hukuman? Tunggu kelanjutannya ya! Jangan lupa kasih dukungan buat aku dengan kasih Bunga, Kopi, dan Vote 😍😍. Transfer energi kalian buat aku dengan kasih Like dan Komentar 🤗🤗.