Duda Vs Anak Perawan

Duda Vs Anak Perawan
BAB 97. Ide Rain


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Terus kasih like dan komentar. Semoga kalian selalu diberikan kesehatan.


***


Bab 97


      Jika malam yang dingin ini membuat Rayyan dan Asiah tengah berbahagia memadu kasih. Berbeda dengan kedua laki-laki yang sedang berada di ruang kerja. Rain sibuk dengan laptopnya sedangkan Raihan sibuk dengan handphonenya. Sebenarnya mereka terpaksa melakukan itu hanya untuk menghabiskan waktu. 


     Hujan deras yang mengguyur sejak tadi sore membuat suhu udara sangat dingin. Raihan dan Alin pun menginap di apartemen milik Rain. Kalau keadaan begini sudah dipastikan jalanan banjir.


"Ahk! Bosan. Kenapa sih, Nia dan Alin ingin tidur satu kamar. Dingin begini 'kan enaknya tidur sambil pelukan," gerutu Raihan.


     Rain hanya diam saja, walaupun dalam hatinya membenarkan. Tadi dia juga merasa senang saat Raihan bilang tidak bisa pulang dan akan menginap. Dia berpikir kalau malam ini akan tidur bersama Rania kembali seperti malam kemarin. Tidur sambil berpelukan. Namun, istrinya itu malah langsung mengajak Alin tidur bersama dan masuk ke kamarnya.


"Ah, aku punya ide!" seru Raihan.


"Apa?" tanya Rain penasaran.


"Rain, bawa Nia ke kamar kamu, jika dia sudah tidur. Nanti aku akan tidur dengan Alin di kamar Nia," jawab Raihan dengan senyum lebar dan alis terangkat.


"Paling sekarang mereka masih sibuk ngobrol. Entah sampai jam berapa mereka akan tidur. Dulu juga mereka tidur jam satu dini hari karena bunda datang yang mengomel. Mereka bertiga begadang membicarakan sesuatu yang tidak bermanfaat sama sekali," ujar Rain.


"Pastinya ngomongin drakor, dracin, K-Pop. Nggak ada gunanya sama sekali. Coba mereka berbagi ilmu yang bermanfaat. Bicara berjam-jam pasti banyak pahala yang di dapat," gerutu Raihan karena tahu apa yang sering anak muda bicarakan saat ini.


"Aku mau tidur. Ian, mau tidur di mana?" tanya Rain sambil membereskan meja kerjanya.


"Mau tidur bersama Alin. Dingin banget malam ini. Duh, dia sudah tidur belum, ya?" Raihan bertanya-tanya.


"Kita lihat saja dulu," ucap Rain dan mengeluarkan sesuatu dari kotak.


"Itu?" Mata Raihan langsung berbinar melihat alat yang sudah dibuat oleh Alex—Papanya Rain.


"Ya, kamera pengintai," balas Rain dengan senyum tipisnya.


      Kamera pengintai itu berbentuk lalat dan seukuran dengan lalat asli. Rain mengendalikan lalat itu lewat laptop miliknya. Lalat itu pun berada di kamar Rania sekarang. Terlihat kedua gadis itu sedang menangis sambil melihat ke arah laptop. Rania dan Alin sedang menonton drakor ternyata.


"Sedang apa mereka?" tanya Raihan sambil berjalan mendekati Rain yang sedang memantau lewat laptop.


"Tuh," jawab Rain saat Raihan berdiri di sampingnya.


"Benar, seperti duga aku. Mereka malah asik nonton drakor. Rain matikan daya listrik biar mati lampu saja sekalian. Jika begitu, kayaknya mereka berdua akan berhenti nonton, deh," pinta Raihan.


"Tidak akan mempan. Meski gelap-gelapan mereka pasti lanjut nonton," ucap Rain sambil mengeluarkan sesuatu dari kotak lainnya.


"I-tu apaan?" tanya Raihan saat Rain kembali menerbangkan yang tadi diambil olehnya di dalam kotak.


"Sesuatu yang akan membuat mereka menghentikan nonton drakor mau tidak mau, suka tidak suka," jawab Rain.

__ADS_1


      Alat yang tadi dikeluarkan oleh Rain adalah sejenis serangga. Kedua pemuda itu masih memantau kedua gadis melalui laptop. Tidak lama kemudian terlihat keduanya sudah tertidur.


"Bagaimana bisa itu terjadi?" tanya Raihan dengan senyum lebar karena merasa sangat bahagia.


"Serangga barusan itu untuk membuat orang jatuh tertidur," jawab Rain dan tidak lama kedua serangga itu pun kembali dan ditaruh di dalam kotak lagi.


"Hei, dari mana kamu punya alat sebagus itu?" tanya Raihan penasaran.


"Buatan Kak Langit. Aku dikasih satu," jawab Rain dan berdiri.


      Akhirnya Rain membawa Rania tidur di kamarnya. Sementara itu, Raihan tidur bersama Alin di kamar samping. Kedua pemuda itu pun langsung tertidur sambil memeluk istrinya. Malam yang sangat dingin itu pun tidak terasa. Hanya kehangatan yang mereka rasakan.


***


     Waktu pun berlalu dengan cepat. Seminggu setelah Rayyan baikan lagi sama Asiah. Kini mereka tinggal di rumah terpisah. Yusuf sudah yakin kalau Asiah sudah sanggup menjadi seorang istri. Rayyan memilih tinggal di apartemennya dahulu sampai rumah impiannya dengan Asiah selesai dibuat. 


     Kedua sejoli itu benar-benar menikmati masa-masa pengantin baru untuk kedua kalinya. Apalagi di sini mereka hanya tinggal berdua saja tanpa ada orang tua atau pelayan.


"Aa, tunggu di meja makan sana. Aku kesulitan bergerak kalau masak sambil dipeluk seperti ini," gerutu Asiah.


"Tidak mau. Aku ingin terus memeluk seperti ini," ucap Rayyan sambil mempererat pelukannya.


"Kenapa Aa, jadi manja begini?" tanya Asiah sambil mengusap rahang suaminya.


"Bukan manja, Sayang. Tapi, suasana yang mendukung aku buat begini sama kamu," balas Rayyan sambil menatap nakal pada Asiah.


"Aa, malam ini aku mau menginap di rumah Ayah," kata Asiah mengancam Rayyan.


"Tidak boleh. Kita sedang menjalankan misi untuk kasih cucu buat orang tua kita," ucap Rayyan.


CUP


"Kalau begitu lepaskan dulu pelukannya. Aku harus selesaikan masak, agar kita bisa makan buat tenaga nanti," kata Asiah merayu suaminya.


"Baiklah kalau begitu istriku. Aku akan bantu memasak," balas Rayyan dan mendapat sambutan dari Asiah.


***


"Nia, hari ini kita makan malam di luar," kata Rain setelah selesai sarapan.


"Apa ada undangan pesta perusahaan?" tanya Rania.


'Apa Nia lupa sekarang tanggal berapa?' batin Rain.


"Iya, ini pesta yang sangat spesial. Makanya, kamu harus dandan yang sangat cantik," kata Rain.


'Salah nggak, Kak Rain. Biasanya dia tidak suka aku tampil sangat cantik, jika pergi ke acara perjamuan,' batin Rania.

__ADS_1


"Oke. Nanti Nia akan berdandan ke salon. Agar tampil sangat cantik," balas Rania.


"Aku nanti yang akan jemput kamu pulang dari sekolah," ucap Rain dan diangguki oleh Rania.


***


     Ibrahim masih terus saja berusaha mendekati Rania. Ada saja cara agar Rania bisa dekat dengannya. Sekarang, Rania disuruh memeriksa tugas milik teman sekelasnya. Itu hukuman karena sudah melamun saat pelajaran berlangsung. Hal yang tidak pernah dilakukan oleh dirinya. Guru-guru lain pun tidak pernah memberikan hukuman kepada murid yang melamun.


"Nia, ini!" Ibrahim memberikan satu gelas minuman jus mangga dan satu kotak spaghetti.


"Terima kasih, Pak," balas Rania sambil menerima dan meletakan di kursi samping. Lalu, melanjutkan lagi sisa pekerjaan yang belum selesai. Dia ingin cepat-cepat pulang karena ada janji dengan suaminya.


***


"Kak Ghaza sama Kak Bintang kapan berangkat ke Eropa?" tanya Rain sambil menatap kakak iparnya itu.


"Lusa sepertinya. Aqilah merengek ingin ikut menengok kakak-kakaknya," ucap Ghazali.


"Salam saja untuk si kembar. Semoga cepat di wisuda. Si kembar sudah mau di wisuda sedangkan Nia baru mau kuliah," ujar Rain.


"Itu karena Kak Fatih dan Kak Mentari tidak mengizinkan Nia ambil kelas akselerasi. Mereka ini Nia tumbuh jadi anak biasa pada umumnya. Kalau aku justru sebaliknya, ingin agar anak-anak cepat selesai sekolah dan ambil alih perusahaan. Capek tahu mengurus perusahaan di luar negeri dan di dalam negeri itu. Aku hanya ingin mengurus rumah sakit ini saja. Sudah cukup bagiku," aku Ghazali.


"Benar, juga. Maaf, Kak. Aku harus menjemput Nia. Dia sudah waktunya pulang," kata Rain sambil berdiri.


"Kamu sekarang jarang main ke rumah semenjak sudah menikah. Sebegitu senangnya kah, mengurung diri berdua di apartemen?" goda Ghazali.


"Aku belum bisa ngapa-ngapain sama Nia," keluh Rain.


"Aku saja menikahi Bintang saat usianya delapan belas tahun. Dia melahirkan saat usia sembilan belas tahun. Tapi, nggak apa-apa, tuh." Ghazali membisikan sesuatu kepada Rain.


"Nia, tujuh belas tahun saja belum, Kak." Rain merasa merana banget.


"Makanya jangan menikah sama bocah ABG," kata Ghazali menyindir adik iparnya.


"Sudah, ah. Menyesal aku mampir ke kantor Kak Ghaza. Seharusnya setelah menjenguk tadi langsung pulang saja," gerutu Rain.


     Saat berjalan di koridor rumah sakit tanpa sengaja Rain bertemu dengan Aminah. Suatu pertemuan yang tidak terduga.


"Rain?" Aminah yang menyadari pertama kali.


"Aminah. Sedang apa di sini?" tanya Rain setelah mengenali suara dari perempuan bercadar itu.


"Kak Amira sakit, dia sedang di rawat di lantai atas," jawab Aminah.


"Kak Amira, sakit? Sakit apa?" tanya Rain.


***

__ADS_1


Rain akan galau nggak, ya? Saat tahu Amira sakit. Rania atau Amira? Rayyan lagi senang-senangnya membina rumah tangga, nih. Raihan kayaknya masih harus dalam kesabarannya. Bagaimana kisah mereka selanjutnya? Tunggu kelanjutannya, ya!


__ADS_2