
Rain menepikan mobilnya dan membuka jendela kaca. Lalu dia menatap ke arah Rania yang sedang berbincang dengan Charles dan Barkah. Sebenarnya ada Alin dan Chelsea juga di sana. Terlihat kalau istrinya itu tertawa entah karena apa. Terlihat kalau Barkah sedang membuat lelucon untuknya dengan gerak tubuh dan bibirnya yang sedang mengatakan sesuatu.
Tanpa sengaja netra Rain dan Rania beradu. Maka, gadis remaja itu pun beranjak dan pamit pada teman-temannya yang ada di sana. Terdengar jelas teriakan Barkah dan Charles yang kecewa karena Rania pulang duluan.
"Assalamu'alaikum, Kak Rain." Rania mencium tangan suaminya.
"Wa'alaikumsalam, Nia. Bagaimana sekolah hari ini?" Rain memasangkan sabuk pengaman untuk istrinya.
"Hm, Alhamdulillah baik dan menyenangkan," balas Rania.
"Hari ini kita belanja ke mall atau ke pasar induk?" tanya Rain sambil melajukan mobilnya.
"Ke pasar induk saja, Kak. Harga lebih murah dan barangnya lebih fresh. Sekalian mau cari ikan yang masih hidup," jawab Rania dengan riang.
"Hn."
***
Rania sudah seperti emak-emak yang sedang belanja. Dia memilih semua buah dan sayuran sesuai keinginannya. Dia tahu kwalitas barang dan rasa dengan mencium bau kulitnya saja. Bahkan dia tidak segan-segan menawar barang belanjaannya. Wajahnya yang cantik dan ramah membuat para pedagang suka pada Rania. Sehingga mereka memberi lebih pada belanjaan yang di beli Rania.
"Buah-buahan sudah di beli semua. Kita sekarang kebagian sayuran!" ajak Rania dengan semangat tidak tahu kalau Rain membawa banyak keresek di kedua tangannya.
"Nia, aku simpan buah-buahan ini ke mobil dulu," kata Rain saat Rania sedang memilih sayuran.
"Iya, Kak. Aku tunggu di sini," balas Rania saat melirik ternyata tadi dia belanja begitu banyak buah-buahan, padahal itu untuk di apartemen bukan di rumahnya yang banyak orang.
Saat Rania sedang asik memilih sayuran di salah satu kios. Ada seseorang yang menepuk bahunya.
"Eh, siapa, ya?" tanya Rania karena ada tiga orang wanita bercadar berdiri di belakangnya.
"Um-mu Habibah? Kak A-mira?" panggil Rania ragu-ragu.
"Assalamu'alaikum, Rania." Suara lembut yang Rania kenali milik Amira.
"Wa'alaikumsalam, Kak Amira, Ummu, dan …." Rania menagkupkan tangan di dadanya.
"Aku, Aminah," kata perempuan berbaju biru.
"Kak Animah? Aduh … maaf, tangan Nia kotor," lanjut Rania karena tidak bisa berjabat tangan dengan mereka.
"Kamu sedang belanja apa?" tanya Ummu Habibah.
"Belanja sayuran, Ummu," jawab Rania.
"Kalau Ummu dan Kakak-kakak sedang belanja apa?" tanya Rania karena mereka membawa banyak keresek.
__ADS_1
"Mau ada tamu dari Pesantren Hidayah ke rumah Tahfiz Nurul Iman. Jadi, kita belanja banyak," jawab Ummu Habibah.
"Nia, apa sudah selesai belanjanya?" Rain datang menghampiri istrinya.
"Rain!" Ummu Habibah, Amira, dan Aminah membalikan badan mereka dan melihat sosok pemuda yang tinggi dan berwajah tampan, tapi datar.
***
Sepulang kuliah Asiah tidak langsung pulang. Sopir yang menjemputnya pun di suruh pulang duluan karena dia ada keperluan.
"Kita cari bahan tugas ke Perpustakaan Nasional?" tanya Asiah pada Sulaiman yang sedang menyupir.
"Lebih baik kita cari buku ke toko loak atau toko yang menjual buku-buku bekas. Jadi, kita bisa santai tidak terburu-buru untuk mengembalikan bukunya. Takut kita tidak keburu, nanti malah kena denda," jawab Sulaiman.
"Benar juga," lanjut Asiah.
Keduanya pun berjalan menelusuri toko-toko buku bekas mencari buku yang sesuai dengan materi dari tugas dosen mereka. Keduanya asik mencari buku sambil membicarakan buku yang sedang mereka pegang atau baca. Mereka keluar masuk dari satu toko buku ke toko buku lainnya. Biasanya banyak mahasiswa yang mencari buku untuk materi kuliah di tempat seperti ini. Mau terbitan tahun berapa pun selalu ada, asal kita jeli dalam mencarinya di rak-rak buku yang berjumlah sangat banyak itu.
Selain mencari buku untuk mengerjakan tugas, mereka berdua juga berburu buku cerita yang sudah sangat langka di pasaran. Novel-novel zaman dahulu yang terasa romansa ceritanya, sangat disukai oleh Asiah.
Bagi Asiah dan Sulaiman, hal ini sangat menyenangkan. Apalagi mereka punya kesamaan suka baca buku cerita detektif dan dongeng fantasi barat.
"Aku paling suka cerita drakula," kata Asiah.
"Aku lebih suka werewolf," ucap Sulaiman.
"Kalau aku suka werewolf karena menurut aku, dia itu sosok yang kuat dan keren," ucap Sulaiman.
"Gawat, sudah jam lima lebih! Aku harus buru-buru pulang. Raya keburu sampai rumah, nih." Asiah cepat-cepat keluar toko dengan membawa beberapa buku di tas kereseknya yang baru saja dia beli.
***
Sulaiman mengantarkan Asiah sampai ke depan pintu gerbang rumahnya. Perempuan itu pun berlari dengan cepat saat tahu lewat satpam penjaga rumah, kalau suaminya sudah pulang dari tadi.
"Gawat, Raya pasti marah!" pekik Asiah sambil berlari sekuat memasuki rumahnya.
Asiah masuk dengan terburu-buru bahkan dia tidak mengucapkan salam saat masuk ke dalam rumah. Zulaikha yang melihat itu hanya menggelengkan kepalanya.
Begitu Asiah masuk ke kamarnya terlihat kalau Rayyan sedang duduk sambil melihat ke arah jendela. Bahkan dia sudah selesai mandi. Tercium wangi sabun saat Asiah mendekatinya.
"Maaf, A. Aku pulang terlambat," kata Asiah pelan dan nadanya bergetar, takut kalau suaminya akan marah.
"Salamnya mana, Asiah?" Rayyan melirik ke arah istrinya.
"Assalamu'alaikum, A." Salam Asiah dengan gugup karena ditatap tajam oleh suaminya.
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam," balas Rayyan.
Asiah ingin menangis karena Rayyan diam saja sambil menatapnya. Tidak ada senyuman dan pelukan untuknya. Hampir 10 menit mereka masih di posisi masing-masing. Tidak ada yang memulai pembicaraan sampai Asiah terisak menahan tangisnya.
"Kenapa?" tanya Rayyan dengan datar.
"Kenapa Aa mendiamkan aku? Tidak tanya aku? Tidak mengajak aku bicara," kata Asiah sambil menahan tangisnya.
Rayyan pun berdiri lalu merentangkan kedua tangannya. Asiah pun berlari ke dalam pelukannya. Dia menangis dalam pelukan suaminya.
"Ke mana kamu pergi? Kenapa tidak bilang pada aku atau orang tuamu?" tanya Rayyan.
"Aku pergi mencari buku ke toko loak. Ada tugas dari dosen," jawab Asiah.
"Bersama siapa?" tanya Rayyan.
DEG!
Jantung Asiah terasa berhenti berdetak sepersekon detik. Dia yakin kalau suaminya akan marah jika dia bilang pergi hanya berdua saja, bersama Sulaiman.
"Beberapa teman," jawab Asiah bohong.
'Ya Allah, maafkan hamba-Mu ini sudah berbohong pada suami,' kata Asiah dalam hatinya.
"Kenapa tidak kirim pesan kepadaku?" tanya Rayyan.
"Aku lupa," jawab Asiah.
"Jangan lupa lagi kedepannya, nanti jadi kebiasaan," ujar Rayyan.
"Iya, Asiah janji tidak akan lupa kasih kabar lagi kalau ada apa-apa," ucap Asiah.
"Sudah sana mandi, sebentar lagi waktunya Magrib," suruh Rayyan.
"Cium," rengek Asiah sambil mendongakkan kepalanya.
Rayyan pun memberikan satu kecupan di kening istrinya. Asiah menginginkan ciuman di bibir, dia pun menjinjitkan kaki dan menarik tekuk suaminya. Ciuman mesra pun dia berikan pada Rayyan dan mendapat balasan dengan hal yang serupa dari suaminya itu.
"Terima kasih, A." Asiah tersenyum bahagia.
'Asiah, kenapa kamu jadi suka berbohong kepadaku?' batin Rayyan.
***
Rain dan Rania bertemu sama Amira! Kira-kira apa yang akan terjadi di antara mereka nanti? Asiah belum kena imbas dari perbuatannya, apa yang akan dilakukan oleh Rayyan kedepannya? Tunggu kelanjutannya ya! Jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kirim Bunga, Kopi, dan Vote juga. Like dan Komentar untuk membuat aku semakin bersemangat untuk terus berkarya 🤗🤗.
__ADS_1
Sambil menunggu Rayyan dan Asiah up bab berikutnya. Yuk baca juga karya teman aku ini. Seru loh ceritanya.