
Sudah satu Minggu Bintang dan Zulaikha melahirkan. Orang tua Yusuf dan Zulaikha juga sudah tinggal bersama mereka. Ayahnya Yusuf juga sudah bisa jalan kembali, meski belum bisa berlari. Namun, ini suatu kemajuan dalam kesehariannya. Asiah juga sering mengajak Kakek Yahya dan Grandpa Clive, berjalan-jalan atau main ke rumah Rania.
Zulaikha belajar memandikan bayi setelah selama ini di mandikan oleh Mami atau Ibu mertuanya. Dia membasuh secara perlahan badan putranya dengan kain washlap.
"Athaya, anak yang tampan … anaknya Mama Zulaikha," ucap Zulaikha dan bayi itu pun tersenyum sambil menggerakkan tangan dan kakinya.
"Aw, tampannya anak aku ini," kata Zulaikha lagi.
"Buat Aqilah suka sama kamu. Jangan kamu yang suka duluan sama dia, ya. Ingat itu, Sayang," nasehat Zulaikha pada bayi yang baru berumur seminggu itu.
Maharani dan Hajar hanya saling lirik dan menggelengkan kepalanya. Keduanya sudah tahu kalau Zulaikha selalu nggak mau kalah sama Bintang.
"Sayang, kamu ini ada-ada saja. Mana mengerti Athaya yang begituan," ujar Yusuf sambil mencubit pipi istrinya.
__ADS_1
"A~ang, nggak tahu kalau Athaya itu suka senyum dan tertawa jika melihat Aqilah. Sementara anaknya Bintang itu cuma menatap Athaya saja. Aku nggak mau nanti kalau anak kita jatuh cinta atau mengejar-ngejar anaknya Bintang." Zulaikha melirik sekilas pada suaminya.
"Kamu itu ada-ada saja. Mereka itu masih bayi, mana mungkin mengerti akan cinta," ujar Yusuf dan membantun istrinya menyiapkan perlengkapan baju dan kosmetik bayi (bedak, kayu putih, cream bayi, minyak rambut, baby oil, dll).
"Siapa tahu, kayak Asiah sama Raya. Mereka masih balita, tapi sudah buat janji akan menikah. Bisa saja nanti juga dengan Athaya, nama yang pertama kali dia panggil itu Aqilah karena sudah kesengsem pada bayi yang wajah bule bermata biru itu." Zulaikha memasang wajah cemburu.
Yusuf diam saja kalau Zulaikha sudah mulai ngomel-ngomel begini. Dia anggap istrinya itu sedang meluapkan rasa cemburunya pada bayi yang masih merah.
***
"Keputusan yang tepat kita langsung kabur hari itu. Kalau terlambat sedikit saja si Kembar akan datang bersama Rania dan Chelsea. Aku tiba-tiba saja merasa kalau Raya dan Ian akan pulang terlambat ke Indonesia karena sedang ada ujian. Sejam saja kita terlambat, sudah bisa dipastikan keempat bocah itu akan terus menempel pada kita," ujar William begitu selesai melakukan video call dengan keempat bocah itu.
Bilqis hanya tersenyum simpul. Waktu itu begitu selesai shalat Subuh, langsung mengajak ke bandar. Bahkan sarapan pun di pesawat. Suaminya merasakan kalau ada firasat yang tidak enak yang akan menimpa mereka. Begitu di atas pesawat, Ian menelepon dan menanyakan keberadaannya. William jawab sedang pulang ke rumah, tetapi tidak disebutkan rumah yang mana. Barusan si Kembar menghubunginya lagi begitu mereka sampai di mansion keluarga Green. Betapa marahnya mereka saat tahu merasa sudah dicurangi.
__ADS_1
"Jadi, sekarang kita mau apa?" tanya Bilqis.
"Pulang ke mansion nanti sore. Bisa-bisa si Kembar tambah ngamuk lagi kalau kita biarkan mereka di sana terlalu lama," jawab William.
"Anak siapa? Yang sibuk ngasuh siapa?" gerutu William.
"Jangan seperti itu. Ingat, dulu juga Mama Aurora juga yang mengurus kamu, Mas." Bilqis mengusap rambut kepala suaminya yang berada di pangkuannya.
"Iya, kamu benar, Bunny."
***
Kakek Willi kabut karena merasakan keberadaan si Kembar yang sedang mendekat 🤣🤣 makanya langsung kabur. Si Zul ada-ada saja, mana ada bayi baru seminggu sudah Cepe-Cepe sama bayi perempuan 🤦🏼♀️🤦🏼♀️. Keseruan apalagi yang akan terjadi pada mereka? Jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih Bunga, Kopi, dan Vote. Mumpung hari Senin. Like dan Komentar juga untuk penyemangat aku 🤗🤗.
__ADS_1