
Yusuf senang saat melihat wajah Zulaikha setelah sekian lama tidak melihatnya. Mungkin baru satu hari lebih beberapa jam lebih tepatnya. Dikarenakan biasanya dari pagi sampai malam dia sudah terbiasa melihatnya. Ini lebih dari 24 jam tidak melihatnya terasa sudah sangat lama.
Wajah Zulaikha agak pucat dan ada kantung mata. Hal yang baru dilihat oleh Yusuf dari Zulaikha. Dia ingin bertanya tentang keadaannya, tetapi kelihatan kalau Zulaikha itu masih marah padanya.
Yusuf melihat meja di samping sofa tempat duduknya ada laporan biodata lengkap seorang laki-laki bernama Yunus bin Yahya. Lelaki muda berwajah tampan. Yusuf bertanya-tanya siapa laki-laki yang biodatanya diberi tanda cek list.
'Laki-laki ini siapa, ya? Kenapa yang diberi tanda hanya dia?' tanya Yusuf dalam hati.
Saat Asiah ingin ikut tinggal bersama Zulaikha, Yusuf melarangnya karena dia tidak mau kalau Zulaikha sakit lebih lama lagi gara-gara main dengan Asiah nantinya. Dia berharap kalau Zulaikha cepat sembuh dan kembali ke apartemennya.
***
Selama Yusuf bertamu, Zulaikha seolah menghindari agar tidak bertatapan dengannya. Yusuf tahu kalau Zulaikha masih marah padanya gara-gara masalah kemarin. Dia juga ingin meminta maaf padanya kalau Zulaikha merasa sudah disakiti olehnya.
"Sayang, ini hampir Magrib. Pulang dulu, ya! Biarkan Kak Zulaikha istirahat. Nanti kalau Kak Zulaikha sudah sembuh, kamu bisa main lagi dengannya." Yusuf mencoba merayu anaknya.
Dengan mimik muka yang cemberut, Asiah turun dari sofa yang dia dudukku dengan Zulaikha. Mata bening Asiah menatap Zulaikha, ada permintaan agar dia diizinkan tinggal di sini bersamanya. Namun, Zulaikha pura-pura tidak mengerti. Bukannya dia tidak mengizinkan Asiah untuk tinggal bersamanya, tetapi Ayahnya 'lah yang sudah melarangnya.
"Ayah, adzan Magribnya juga belum terdengar berkumandang. Kita di sini dulu sebentar lagi," rayu Asiah kepada Yusuf.
__ADS_1
"Tidak bisa, Sayang. Kita juga harus mengantarkan Ibu Bilqis ke rumahnya," tolak Yusuf.
Asiah pun berjalan dengan langkah gontai ke arah Ayahnya. Yusuf pun mengajak mereka pulang. Saat di depan teras rumah, Bilqis memberanikan diri bicara lagi.
"Zulaikha, aku harap kamu cepat sembuh," kata Bilqis dengan penuh harap.
"Iya, terima kasih, sudah mau menjenguk aku sampai jauh-jauh ke sini," balas Zulaikha.
"Zulaikha semoga cepat sembuh dan aku harap secepatnya kamu kembali lagi ke apartemen. Apa kamu tidak merindukan masakan buatan aku?" Yusuf melihat ke arah wajah Zulaikha dengan lekat.
Retina coklat milik Zulaikha membesar dan berkaca-kaca. Dia rasanya ingin memeluk tubuh laki-laki di depannya ini.
"Iya, tentu saja. Jika dengan itu kamu akan cepat sembuh akan aku lakukan dan memastikan kamu memakan masakan aku," jawab Yusuf.
"Lalu ..., jika dengan memeluk tubuh Om, dapat menyembuhkan sakit aku ini. Apa akan Om izinkan aku melakukannya?" tanya Zulaikha.
Yusuf merasa sangat senang gadis nakalnya sudah kembali lagi. Satu sentilan dia berikan ke dahinya Zulaikha.
"Kebiasaan!" Yusuf tersenyum lebar.
__ADS_1
Zulaikha yang memegang keningnya pun merasa sangat senang. Senyum cantiknya langsung terukir di wajah. Mood orang sakit emang mudah berubah. Satu sentilan dari Yusuf saja sudah membuat dirinya senang.
'Dengan perlahan aku akan curi hatimu, Om,' batin Zulaikha.
"Cepatlah kembali, aku merasa ada yang kurang jika tidak ada kamu saat makan," bisik Yusuf yang membuat hati Zulaikha melambung. Dalam satu detik berikutnya Zulaikha memeluk tubuh Yusuf tanpa sadar.
Bilqis yang melihat itu membelalakkan matanya. Ada rasa cemburu yang tiba-tiba menyusup di relung hatinya. Selama ini jangankan memeluk tubuh Yusuf, memegang tangannya saja tidak berani.
"Aku janji akan cepat sembuh dan kembali ke sana." Zulaikha pun langsung menguraikan pelukannya begitu tersadar dengan apa yang baru saja dia lakukan.
"Maaf, Om. Tanpa sadar aku sudah memeluk tubuh Om." Zulaikha menatap Yusuf dengan merasa bersalah.
"Dasar gadis nakal!" Yusuf kembali menyentil kening Zulaikha.
"Om, jangan keseringan sentil jidat aku! Kalau nanti kayak ikan lohan bagaimana? Aku nggak cantik lagi!" Zulaikha memasang wajah cemberut dan membuat Yusuf gemes. Apalagi bibir merahnya yang lembut sempat dia sentuh kemarin.
"Sudah, ah! Om mau pulang. Kamu ..., Om tunggu di sana." Kedua orang itu tersenyum bahagia.
***
__ADS_1
Bagaimana kisah mereka selanjutnya? Tunggu kelanjutannya ya! Jangan lupa untuk selalu klik like, komentar, favorit, hadiah, dan Vote-nya juga. Dukung aku terus. Terima kasih.