Duda Vs Anak Perawan

Duda Vs Anak Perawan
BAB 94. Perasaan Rayyan


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Terus kasih like dan komentar. Semoga hari ini kalian bahagia.


***


Bab 94


    Mentari mendatangi kamar Asiah. Menantunya itu sejak pulang tidak turun ke lantai bawah. Dia takut sudah terjadi sesuatu padanya.


"Asiah, ini Bunda!" Mentari mengetuk pintu kamar. Namun, tidak ada sahutan dari dalam.


"Apa dia sedang tidur?" Maka Mentari pun membuka pintu kamar dan terlihat Asiah tidur dengan posisi kaki yang menjuntai ke bawah.


"Asiah kalau posisi tidur seperti ini kaki akan sakit," ujar Mentari sambil membetulkan posisi badan Asiah.


      Wajah Asiah basah oleh air mata. Dia yakin kalau Asiah menangis sampai tertidur. Setelah menyelimuti tubuh Asiah, Mentari pun keluar dan menghubungi putranya.


"Raya, apa yang sudah terjadi pada Asiah? Dia pulang dan mengurung di kamar, saat Bunda melihatnya dia itu habis menangis sampai tertidur," tanya Mentari.


^^^"Entahlah, Bun. Raya saat ini sedang ingin instrospeksi diri. Tidak mau diganggu dulu, juga tidak mau bertemu dengan orang lain," jawab Rayyan.^^^


"Ada apa, sih? Kenapa kalian jadi begini?" tanya Mentari dengan rasa kecewa.


^^^"Bun, Raya mau tanya. Dulu saat Ayah, Bunda, dan Ibu Zahra tinggal bersama. Apa pernah Bunda kepikiran kalau Bunda sudah merusak kebahagiaan Ayah dan Ibu Zahra? Atau Bunda meragukan perasaan Ayah untuk Bunda? Atau pernahkah Bunda berpikir kalau ternyata pasangan kita merasa tidak bahagia saat bersama kita?" berondong Rayyan bertanya dengan suaranya yang mencicit.^^^


    Air mata Mentari mengalir saat mendengar kata-kata yang keluar dari mulut putranya. Ya, dia dulu merasa sudah menjadi perusak kebahagiaan Zahra dengan Fatih. Sakit hati saat melihat kemesraan mereka berdua. Hatinya sakit saat tahu kalau suaminya itu sebenarnya selalu menolak permintaan Zahra untuk menikahi dirinya, sampai dia rela menikahinya agar Zahra senang. Menjadi orang yang hadir ditengah hubungan orang lain itu sangat menyakitkan. Sampai dia meminta perpisahan karena sadar diri siapa dirinya bagi mereka berdua. 


"Kenapa kamu bicara seperti itu, Sayang? Apa sesuatu telah terjadi?" Mentari malah balik bertanya.


^^^"Aku ternyata tidak mampu memberikan kebahagiaan untuk perempuan yang aku cintai. Bahkan dia lebih merasa nyaman saat bersama orang lain," kata Rayyan terjeda untuk menarik napasnya, "aku ini ternyata laki-laki yang tidak bisa apa-apa. Hanya keegoisan yang aku miliki untuk selalu menuntutnya menjadi seorang istri yang baik. Ternyata aku sendiri tidak memiliki nilai yang baik dimatanya. Seandainya Bunda berada di posisi aku, apa yang akan Bunda lakukan?"^^^

__ADS_1


     Kerongkongan Mentari tercekat. Dia tidak bisa bicara. Hanya suara tangisan yang tertahan keluar dari mulutnya. Perpisahan! Itu yang dia pilih dulu saat merasa tidak pernah dicintai dan diharapkan oleh suaminya. Tanpa dia tahu ternyata suaminya itu juga mencintai dirinya. Sehingga mereka kembali bersama dan hidup bahagia sampai sekarang.


"Apa sebaiknya kita bicarakan bersama. Mungkin saja ada kesalahanpahaman di antara kalian," akhirnya keluar juga kata-kata dari mulut Mentari.


^^^"Asiah pastinya akan memilih bertahan bersama Raya meski dia merasa tidak bahagia dan tidak merasakan kenyamanan dalam hidupnya. Dengan alasan cinta pada Raya. Sementara bagi Raya, cinta tidak mesti harus memiliki. Yang Raya inginkan adalah kebahagiaan. Raya ingin Asiah hidup dengan bahagia. Raya ingin membebaskan Asiah untuk mencari kebahagian dirinya," kata Rayyan dengan suaranya yang serak karena menahan tangisannya.^^^


"Bukannya kamu bahagia saat bersama Asiah? Kenapa kamu tidak mempertahankannya agar di sisi kamu selamanya?" tanya Mentari sambil mengusap air mata yang tidak hentinya keluar dari mata indahnya.


^^^"Apa aku akan merasa bahagia, meski tahu kalau Asiah merasa tidak bahagia saat bersama aku?" tanya Rayyan.^^^


"Bunda yakin kalau Asiah juga merasa bahagia selalu bisa bersama kamu terus," balas Mentari.


^^^"Apa Bunda tidak pernah berpikir, kenapa di luar sana banyak pasangan yang selingkuh? Padahal mereka mencintai pasangannya. Itu karena mereka merasa bahagia dan nyaman saat bersama selingkuhannya itu," ucap Rayyan dengan isak tangis lolos dari mulutnya.^^^


"Kenapa kamu merasa kalau Asiah tidak bahagia saat bersama kamu? Pikiran dari mana kalau istri kamu lebih bahagia dan nyaman saat saat bersama orang lain, bukan bersama diri kamu?" tanya Mentari dengan nada gusar.


***


     Suasana hati Rania yang sedang berbunga-bunga membuatnya tebar senyuman pada orang-orang yang ada di sekitarnya. Bahkan Ibrahim pun dibuat dag-dig-dug oleh senyuman itu. Apalagi sorot mata Rania yang memancarkan binar cinta dan kebahagiaan. Hal lain yang membuatnya gemas pada gadis itu adalah kerlingan-kerlingan nakal pada kedua temannya.


"Rania, tolong bantu bapak! Bawakan buku tugas milik teman-teman sekelas dan letakan di meja kerja, pinta Ibrahim.


"Cie … cie …! Yang dapat perhatian dari Pak Baim," goda teman-teman sekelas Rania. Ini membuat Rania kesal dan memasang wajah cemberut.


     Rania pun mendatangi ruang guru dan meletakan buku tugas di atas meja milik guru magang itu. Tanpa ada senyum seperti tadi, itu karena ulah gurunya ini membuat dirinya jadi bahan lelucon teman-temannya.


"Terima kasih, ya Rania Cantik," ucap Ibrahim sambil tersenyum tampan. 


     Hanya saja bagi Rania saat ini, senyuman milik suaminya lah yang terbaik dan terbagus. Mau tebar pesona seperti apapun Ibrahim, bagi Rania tetap Rain nomor satu.

__ADS_1


"Pak Baim, jangan panggil aku dengan nama yang aneh-aneh dan akan menimbulkan fitnah. Apalagi kalau sampai terdengar oleh murid-murid yang menyukai Bapak. Bisa-bisa aku habis dikeroyok oleh mereka," ujar Rania dan itu membuat Ibrahim tertawa terkekeh.


"Kamu itu lucu banget, sih!" Ibrahim tangannya sudah gatal ingin mengusap pipi chubby yang sedang menggelembung itu.


"Maaf ya, Pak Baim. Nia bukan badut tukang melucu," ujar Rania lalu pergi dari ruangan itu.


"Nia, aku ingin menjadikan kamu milikku," kata Ibrahim sambil memandangi punggung gadis yang sudah mencuri hatinya.


***


    Rain pulang lebih cepat untuk menjemput Rania. Pokoknya dia ingin pulang ke apartemen dan menghabiskan waktu bersama istrinya saja. Setelah mengirim pesan pada Rania kalau dia yang akan menjemput ke sekolah. Rain dengan cepat melajukan kendaraannya sebelum jalanan padat oleh anak-anak sekolahan.


TINN


     Rain membunyikan klakson mobil untuk memancing Rania yang sedang asik bercanda dengan teman-temannya. Tentu saja Charles dan Barkah ada di sana. Hal ini membuatnya kesal, lebih tepatnya Rain cemburu.


"Assalamu'alaikum, Ya Habibi." Rania mencium tangan Rain.


"Wa'alaikumsalam, Ya Humaira. Bagaimana sekolahnya?" tanya Rain sambil memasangkan sabuk pengaman untuk Rania.


"Menyenangkan seperti biasa. Eh, capek juga, karena sekarang kelas tiga itu terlalu banyak tugas agar muridnya belajar terus meski sedang berada di rumah juga," jelas Rania menggerutu dan itu membuat Rain tersenyum.


"Bagus, dong! Jadi, semua murid kelas tiga mau tidak mau harus belajar," ujar Rain sambil mengusap kepala Rania dengan gemas.


     Terlihat ada mobil yang menyalip mobil Rain. Pemuda tahu pemilik mobil itu. Dia pun merasa kesal karena lajunya mobil itu mengganggu laju mobilnya.


***


Rayyan lagi galau, Rain lagi bahagia, lalu Raihan? Tunggu kelanjutannya ya!

__ADS_1


__ADS_2