Duda Vs Anak Perawan

Duda Vs Anak Perawan
#Keluarga Bilqis


__ADS_3

     Yusuf kembali ke rumah sakit. Asiah dan Zulaikha menemaninya di sana. Setelah mengalami kejadian paling menakutkan dan menegangkan. Asiah tertidur lelap di pangkuan Zulaikha.


"Asiah tidurkan saja di sini!" Fatih menepuk ranjang di sisinya.


     Zulaikha pun membaringkan tubuh Asiah. Saat itu dia dan Yusuf berjarak sangat dekat bahkan ujung hidung mereka bersentuhan. Mata mereka saling menatap dan mengunci. Iman Zulaikha yang lemah, mudah sekali terhasut oleh bisikan setan. Dia memiringkan dan memajukan kepalanya ingin merasakan kembali benda lembut milik pujaan hatinya. Ketika jarak tinggal 2 centimeter, Asiah mengangkat kedua tangannya dan mengenai wajah Yusuf dan Zulaikha. 


"Auw ...!" Yusuf dan Zulaikha mengaduh sama-sama karena terkena tonjokan tangan bocah 4 tahun itu.


      Kini Yusuf dan Zulaikha saling menjauh. Jantung keduanya berdetak dengan sangat kencang.


'Alhamdulillah, aku masih di selamatkan dari perbuatan dosa,' batin Yusuf.


'Asiah, kenapa kamu ganggu Mama. Padahal tadi itu tinggal sedikit lagi!' batin Zulaikha merasa kecewa.


     Seperti malam sebelumnya Zulaikha tidur di sofa. Sementara Yusuf dan Asiah tidur di ranjang pasien. Serta seperti malam sebelumnya juga, cuaca malam ini pun sangat dingin. Lagi-lagi Zulaikha naik ke atas ranjang dan memeluk Yusuf dari belakang. Menghirup aroma wangi tubuh Yusuf seperti sebuah obat penenang baginya. Lagi-lagi Yusuf tidak sadar kalau Zulaikha ikut tidur bersama mereka. Sama seperti kemarin, Yunus memindahkan kembali Zulaikha ke sofa.


***


     Pagi hari setelah Dokter melakukan pengecekan, Yusuf sudah bisa pulang. Dia dan Asiah sangat senang akhirnya mereka bisa kembali lagi ke apartemen. Saat mereka bersiap-siap datang Bilqis ke ruangan Yusuf.


"Assalammualaikum," salam Bilqis saat masuk ke ruang rawat Yusuf.


"Wa'alaikumsalam. Eh, Bu Bilqis. Ada apa pagi-pagi sekali sudah ke sini?" tanya Yusuf melihat Bilqis datang.


"Apa Pak Yusuf akan pulang hari ini?" tanya Bilqis dengan suara lembutnya.


"Iya. Hari ini saya, pulang!" jawab Yusuf dengan seulas senyum.


"Bu Bilqis!" Asiah menghambur memeluk tubuh gadis berjilbab itu. Bilqis pun membalas pelukannya.


"Asiah apa kabar?" tanya Bilqis sambil mengelus kepala Asiah.


"Alhamdulillah, baik. Ibu tahu nggak? Kemarin Asiah, Adam, dan Baim diculik sama penjahat. Untungnya ada Ayahnya si Kembar yang nolongin kita," ucap Asiah dengan celoteh khasnya.


"Apa? Benarkah? Bagaimana itu bisa terjadi?" tanya Bilqis beruntun dengan wajah panik plus khawatir.

__ADS_1


     Asiah pun menceritakan kejadian yang menimpanya kemarin. Dia berbicara dengan menggebu-gebu dan beberapa melakukan gerakan berkelahi. Kedua tangan dan kakinya digerakan meniru Ghazali. Malah terkesan lucu saat mempraktekkan gerakan-gerakannya.


     Yusuf yang kemarin sempat takut kalau Asiah akan mengalami trauma pasca kasus penculikan dirinya. Namun, kalau dilihat sekarang ketakutan itu berkurang. Dia khawatir kalau putrinya harus sampai berurusan dengan dokter psikolog, akibat kejadian kemarin. 


     Kemarin saat ditanya oleh dokter psikolog, Asiah bicara dengan lancar. Saat tanya apa dia takut saat diculik? Asiah jawab takut. Lalu ditanya kembali, apa sekarang takut? Dia menjawab sudah tidak. Tidak ada hal yang aneh atau berubah dari diri Asiah. Bicara masih saja cerewet, makan masih lahap, tidur juga nyenyak.


     Yusuf melihat ke arah Bilqis yang sesekali meliriknya saat Asiah berbicara dengannya. Seakan ada yang ingin dia bicarakan.


"Ada apa?" tanya Yusuf dengan pelan.


"Bapak ingin bertemu," jawab Bilqis juga dengan pelan.


     Telinga Zulaikha sangat sensitif jika Yusuf dan Bilqis sedang berbicara. Dia penasaran apa saja yang sedang mereka bicarakan.


"Kapan?" tanya Yusuf lagi. Sudut matanya melirik ke arah Zulaikha. Terlihat jelas wajah si gadis nakal itu tidak senang.


"Sekarang," balas Bilqis sambil menundukkan kepalanya.


***


"Assalammualaikum," salam Yusuf dengan sopan.


"Wa'alaikumsalam," balas ketiga orang itu. Ternyata Bapaknya Bilqis itu dalam keadaan sadar.


"Bapak, Ibu, Kak Harun. Kenalkan ini Pak Yusuf sama putrinya, Asiah. Lalu ini Zulaikha, tetangga apartemennya.


     Daud–Bapaknya Bilqis, tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Sementara ibunya hanya memandang Yusuf dengan lirikan saja dan membuang muka. Berbeda dengan Harun, dia malah menatap Zulaikha tidak berkedip.


"Aku dengar kamu ingin menjadikan Bilqis sebagai istrimu?" tanya Daud to the point.


Deg! (Jantung Yusuf)


Deg! (Jantung Zulaikha)


     Jantung Yusuf langsung bertalu-talu. Dia harusnya membicarakan ini kemarin dengan Bilqis. Gara-gara Bapaknya masuk ke rumah sakit. Bilqis tidak masuk kerja. Jadi, dia belum membicarakan hal ini lebih lanjut dengan Bilqis.

__ADS_1


     Hati Zulaikha merasa terluka saat mendengar hal ini. Dia ingin menangis karena rasa sakit di dadanya. Dilihatnya Yusuf yang masih menatap ke arah keluarga Bilqis.


"Ya ...," jawab Yusuf terhenti karena dia menarik nafas, "aku pernah bilang seperti itu kepada Bilqis."


"Apa kamu serius?" tanya Daud dengan tatapan yang masih tertuju Yusuf.


"Saya–" ucapan Yusuf terpotong.


"Ibu tidak setuju. Bilqis itu masih gadis perawan. Masa dia harus menikah dengan seorang Duda yang sudah punya anak. Ibu lebih setuju kalau Bilqis menikah dengan Samiri," potong Hindun, ibu tiri Bilqis.


"Aku juga setuju kalau Bilqis menikah dengan Samiri. Dia masih lajang belum pernah menikah, hartanya juga banyak. Dia juga yang sudah membiayai operasi dan rumah sakit ini kemarin," lanjut Harun.


     Terlihat wajah Bilqis berubah menjadi sendu dengan mata yang berkaca-kaca. Tangannya memainkan ujung jilbabnya.


"Tapi Bilqis maunya sama Pak Yusuf. Dia laki-laki yang aku suka. Bilqis tidak suka dengan Samiri. Dia tidak bisa menjadi suami yang di idamkan olehku," balas Bilqis dengan suara yang bergetar karena menahan tangisannya.


     Zulaikha memahami perasaan Bilqis sebagai seorang wanita. Pastinya ingin menikah dengan laki-laki yang disukai dan bisa menjadi sosok suami idaman. Dia juga menginginkan Yusuf sebagai pasangannya.


"Lalu, bagaimana dengan kamu, Pak Yusuf. Apa Anda menginginkan Bilqis sebagai istrimu? Sementara ada laki-laki lain yang juga mengharapkan Bilqis menjadi istrinya. Dia rela membayar biaya pengobatan Bapak dan membayar hutang Harun." Daud ingin mendengar kesungguhan dari laki-laki pilihan anak gadisnya.


Yusuf tahu kalau dia harus mengambil keputusan demi masa depannya dan juga Asiah. Maka dia kali ini akan melibatkan Asiah juga.


"Asiah, sayang nggak sama Bu Bilqis?" tanya Yusuf kepada putrinya sambil berjongkok.


Asiah menganggukkan kepalanya dan berkata, "Ya, Asiah sayang sama Bu Bilqis."



Yusuf pun tersenyum dan berkata lagi, "Apa Asiah mau Bu Bilqis menjadi istri untuk Ayah?"


***


Bagaimana kisah mereka selanjutnya? Tunggu kelanjutannya ya! Jangan lupa untuk selalu klik like, komentar, favorit, hadiah, dan Vote-nya juga ya. Dukung aku terus. Terima kasih.


    

__ADS_1


__ADS_2