
Kehidupan rumah tangga Raihan dan Alin semakin harmonis dan romantis. Mereka sekarang tidak malu-malu lagi saat berciuman. Hanya saja, nggak di depan orang lain. Kadang mereka juga makan malam bersama di luar. Alasannya biar bisa sayang-sayangan dan nggak ketahuan sama Bi Mar dan Mang Asep.
"Kak Ian, morning kiss!" Alin mendongakkan kepalanya.
Raihan pun harus membungkuk karena perbedaan tubuh tinggi mereka sangat jauh. Dia pun memberikan ciuman kepada kening istrinya.
"Kok, di kening! Di bibir, nggak?" Alin memberengut.
"Sana minum susu dulu! Biar tambah tinggi," kata Raihan dengan tatapan nakalnya.
"Aku juga sudah bertambah tinggi lima sentimeter, Kak." Alin menghentakan kakinya.
"Masih pendek," balas Raihan.
Alin yang kesal pun membalikan badannya dan pergi ke ruang makan yang ada di lantai bawah. Lalu meminum susunya.
"Alin, Sayang," panggil Raihan.
"Apa?" balas Alin dengan ketus.
Raihan pun mencium bibir Alin dengan lembut. Hal ini membuat Alin terkejut sekaligus senang.
"Rasa vanila," kata Raihan, lalu duduk di kursinya.
Alin tersenyum malu-malu, dan mencubit tangan suaminya. Dia menundukkan kepala, takut ada Bi Mar atau Mang Asep, yang melihat mereka.
"Kenapa? Tadi, katanya ingin di cium," goda Raihan.
"Kalau Bi Mar dan Mang Asep melihat kita sedang ciuman, bagaimana?" bisik Alin dengan mata melirik ke sana kemari takut dua orang itu melihatnya.
Raihan menahan tawanya. Mau ada Bi Mar atau Mang Asep pun bagi dia tidak akan masalah. Mereka juga akan mengerti.
"Apa semua persiapan sudah selesai? Kita berangkat ke Lembang setelah Ashar. Nanti aku jemput kamu di rumah Bunda. Kita langsung berangkat dari sana," kata Raihan.
"Nia, jadi ikut nggak?" tanya Alin.
"Entahlah. Pastinya dia masih capek pulang dari Lombok kemarin," jawab Raihan sambil menambah sambalnya lagi. Dia suka kalau makan pakai sambal, untung Alin bisa membuatnya. Mau sarapan, makan siang, atau makan malam, yang namanya sambal harus ada.
"Pasti akan seru kalau banyak yang ikut. Kita ajak juga Kak Mega sama Kak Raya, bagaimana?" Alin melirik ke arah suaminya yang masih menikmati sarapannya.
"Tidak! Kita hanya pergi berdua saja," ucap Raihan.
"Kenapa, Kak?" Alin menatap suaminya dengan curiga.
"Tidak mau diganggu." Raihan sudah menyelesaikan sarapannya.
***
Raihan dan Alin pergi ke Lembang, Rayyan dan Asiah pergi berbulan madu keliling Indonesia. Sementara pasangan Rain dan Rania pergi ke puncak Bogor. Mereka menikmati waktu liburan dengan pasangan masing-masing. Hanya Mega dan Chelsea yang tidak pergi liburan karena Chelsea sedang sakit.
Raihan dan Alin sudah sampai ke villa. Dia sana suhu terasa dingin meski hari belum malam. Hal ini membuat Alin terus ingin berada di dalam pelukan suaminya.
__ADS_1
"Dingin banget, sih!" kata Alin sambil mengeratkan pelukannya pada Raihan. Alin menyelusupkan kelapanya di dada bidang suaminya.
"Kalau tidak mau dingin, sana pakai mantel kamu!" titah Raihan.
"Mending dipeluk sama Kakak," balas Alin sambil menghirup wangi tubuh suaminya.
"Ini modus kamu, agar bisa terus menempel sama aku," Raihan mencium pucuk kepala istrinya.
***
Malam harinya Raihan dan Alin mengunjungi Observatorium Bosscha. Betapa senangnya Alin bisa melihat galaksi dan bintang-bintang yang jaraknya jauh dengan jelas.
"Wah, Kak, indah banget!" pekik Alin ketika melihat lewat teropong bintang raksasa itu.
"Iya, kamu puas-puasin lihat semua itu," balas Raihan.
"Kakak tidak mau melihatnya?" tanya Alin.
"Aku sudah sering. Kamu saja biar nggak ngeces nanti saat ngidam," goda Raihan.
"Ngidam? Siapa yang sedang hamil?" Alin memasang wajah cemberut. Raihan hanya tersenyum.
Alin pun melanjutkan lagi menjelajahi jagat raya, alam semesta ini. Taburan bintang yang memenuhi langit, lagi-lagi membuatnya takjub. Dia juga bisa melihat planet-planet. Seperti Venus dan Mars. Sayangnya waktu berkunjung di sana dibatasi waktunya. Alin merasa belum puas.
"Jangan sedih begitu. Besok kita ke sini lagi," kata Raihan.
"Aku masih ingin melihat bintang-bintang di langit," ucap Alin.
"Kemana?" tanya Alin.
"Ikut saja. Kamu pasti akan suka," ucap Raihan.
***
Raihan membawa Alin ke kamarnya dan mematikan lampu, sehingga di sana gelap. Alin yang terkejut langsung memeluk suaminya.
"Kak, kok mati lampu?" tanya Alin panik.
"Tenang. Ikuti aku!" titahnya.
Alin pun mengikuti langkah suaminya. Ternyata Raihan mengajaknya ke balkon kamar.
"Lihat ke langit!" perintah Raihan pada Alin.
"Kakak, ini …!" pekik Alin senang.
"Ya, kita juga bisa melihat bintang dari sini jika cuaca cerah," ucap Raihan.
"Indah sekali! Terima kasih, suamiku!" Alin memeluk tubuh Rayyan.
"Cuma meluk saja!" kata Raihan.
__ADS_1
"Menunduk," kata Alin malu-malu karena di tidak bisa menggapai wajah suaminya.
"Tidak mau," pungkas Raihan. Lalu dia memangku Alin agar bisa sejajar dengannya.
"Aaahk! Kakak, kamu membuat aku terkejut," kata Alin sambil mengalungkan kedua tangannya ke leher Raihan.
"Sekarang sudah bisa 'kan?" ucap Raihan dan Alin pun mengangguk. Lalu dia memberikan kecupan-kecupan nakalnya untuk menggoda suaminya.
"Mulai nakal ya, kamu." Raihan membawa Alin duduk di kursi yang ada di balkon itu.
Kini Alin duduk dipangkuan suaminya. Dia melihat langit malam yang cerah ditemani irama jantung Raihan.
"Apa kamu bahagia?" tanya Raihan dengan berbisik.
"Ya, aku sangat bahagia, Kak," jawab Alin.
"Berapa tahun lagi aku harus menunggu kamu biar cepat gede?" tanya Raihan putus asa. Dia belum dibolehkan menyentuh istrinya oleh kedua orang tua dan mertuanya.
"Sampai Alin lulus kuliah," jawab Alin.
"Itu terlalu lama, Sayangku," kata Raihan mencubit hidung Alin dengan gemas.
"Kalau begitu, setelah selesai menyusun skripsi," balas Alin sambil mengusap rahang Raihan.
"Nggak mau. Itu masih terlalu lama," tolak Raihan.
"Kalau begitu, saat usia aku dua puluh tahun," ucap Alin.
"Tidak–" Alin mencium bibir suaminya.
"Aku laporkan sama Ayahku dan Ayah Fatih, loh! Kalau Kakak sudah tidak sabar," ancam Alin.
"Begini nasib menikah sama bocah," gumam Raihan.
"Salah sendiri mau menikah sama bocah. Ya, Kakak tanggung sendiri akibatnya," balas Alin.
DEG!
Jantung Raihan terasa berhenti. Dia merasa kalau Alin tidak pernah menginginkan pernikahan ini. Bahkan dia belum pernah kata cinta dari Alin untuk dirinya.
"Ya, kamu benar. Seharusnya aku cari wanita dewasa untuk aku ajak nikah," kata Raihan datar.
Mendengar ucapan Raihan barusan, membuat Alin sangat terkejut. Dia menatap suaminya dengan mata yang berkaca-kaca. Lalu Alin berdiri dari pangkuan itu dan berkata, "Apa Kakak mau menceraikan aku dan mencari wanita dewasa?"
***
Baru saja sayang-sayangan, eh mereka malah marahan lagi😏🙄. Bagaimana kisah mereka selanjutnya. Jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih Bunga, Kopi, dan Vote juga. Like dan Komentar juga untuk tambah penyemangat buat aku 🤗🤗.
Sambil menunggu Raihan dan Alin up bab berikutnya. Aku punya bacaan yang rekomen banget buat kakak baca. Cus meluncur ke karyanya.
__ADS_1