
Bilqis sangat menantikan kedatangan William yang dia janjikan. Waktu 1 bulan itu berasa sangat lama. Ini baru 3 minggu, masih ada waktu 1 minggu lagi. Dia berharap kalau hasilnya itu sesuai harapannya. Dia sendiri kenapa tidak bisa berpaling dari laki-laki bule yang usianya terpaut sangat jauh dengannya.
"Bilqis …?" Seorang wanita paruh baya memanggilnya.
Bilqis yang baru saja keluar dari kantornya. Mencari sumber suara yang manggilnya barusan.
"Hm … Ibu?" tanya Bilqis melihat seorang wanita tua yang terlihat kumal.
"Iya, Bilqis. Ini ibu!" jawab wanita tua itu dengan mata yang berkaca-kaca.
"Ibu … kenapa …? Apa yang sudah terjadi pada Ibu?" tanya Bilqis dengan tatapan nanar.
"Ibu … ditipu," jawab wanita yang penampilannya sangat jauh dengan yang terakhir dia lihat.
"Ditipu sama siapa?" tanya Bilqis sambil menuntun wanita tua itu untuk duduk di kursi dekat pintu masuk kantornya.
"Setelah kita berpisah. Aku dan Hasan menempati rumah kami yang dulu—" perkataan Maria (aku lupa nama ibu tirinya Bilqis) terpotong oleh ucapan Bilqis.
"Ibu masih punya rumah?" tanya Bilqis karena setahu dia, ibu tirinya bilang sudah tidak punya harta apa-apa lagi. Sampai rumah orang tuanya dijual untuk melunasi utang karena bisnis yang gagal. Setelah itu Ibu tirinya lagi menjual rumah peninggalan Kakeknya.
"Iya, itu rumah milik Hasan peninggalan ayahnya," jawab Maria.
'Enak benar mereka, sudah jual dua rumah milik aku. Ternyata mereka punya rumah sendiri.'
"Terus bagaimana kabar kalian selama ini?" tanya Bilqis dengan sedikit nada kesal.
"Ibu menikah lagi. Tapi, suami baru ibu itu pengangguran dan suka judi. Utang dia banyak dan suatu hari datang rentenir ke rumah. Sertifikat tanah rumah milik kami di ambil dan mereka jual rumah itu untuk melunasi utang suami baru ibu." Maria bercerita sambil meneteskan air mata.
__ADS_1
"Sekarang ibu tinggal di mana?" tanya Bilqis ada rasa iba yang menyusup ke relung hatinya.
Maria menggelengkan kepalanya. Lalu dia menunduk dan tidak bicara. Terlihat jemari tangannya mengusap pipi kanan kiri.
Bilqis juga diam. Masih terbayang bagaimana ibu tirinya ini, dulu menjual dirinya pada Samiri. Rasa sakit hati waktu itu seakan berakar kuat di dalam ingatannya. Dia juga sudah berjanji pada William tidak akan terlibat atau ikut campur urusan ibu tiri dan kakak tirinya.
"Ibu hidup di jalanan," kata Maria akhirnya keluar dari mulutnya.
Bilqis sangat terkejut mendengar itu. Dia tidak menyangka kalau ibunya akan hidup luntang-lantung di jalanan.
"Lalu Kak Hasan sekarang ada di mana?" tanya gadis berjilbab marun itu.
"Dia dipenjara karena diduga sudah melakukan penipuan," jawab Maria.
'Ya Allah, Engkau tahu apa yang terbaik bagi semua makhluk ciptaan-Mu. Aku tidak tahu takdir yang akan terjadi kedepannya. Engkau menemukan aku dengan Ibu tiri, pasti sudah Engkau atur dan akan hikmah dari takdir ini.'
***
"Belum, Sayang. Tunggu sebentar lagi, ya?" jawab Yusuf dan memberikan satu kecupan di kening istrinya.
"Dede sudah lapar," ucap Zulaikha dengan suara ala anak kecilnya.
"Kalau nggak ada Asiah di sini, sudah aku serang kamu, Sayang. Kamu itu selalu ngemesin," bisik Yusuf dan Zulaikha malah mencium bibir suaminya sekilas.
"Sayang …."
"Asiah lagi sibuk sama handphonenya," bisik Zulaikha.
__ADS_1
Tanpa mereka tahu kalau Asiah juga lagi sibuk chat-an sama Rayyan. Kekasihnya yang kini sedang mengenyam pendidikan di Kanada.
[Aa, jaga kesehatan, ya!]
^^^[Iya. Kamu juga. Jangan makan es krim banyak-banyak cukup 1 cup saja.]^^^
[Aku makan 2 cup sama rasa coklat. Kalau lagi kangen sama kamu, A.]
***
"Daddy, kapan mau datang ke Indonesia lagi?" tanya gadis kecil yang sedang menelepon sambil bergelayut manja pada Bundanya.
[Kenapa, Sayang?]
"Kangen ingin jalan-jalan sama Mommy Bilqis."
[Hm ... kapan ya? Minggu depan saja. Bagaimana?]
"Yey! Daddy akan datang ke Indonesia."
***
Visual karena teman-teman GC lagi pamer tokoh mereka. Aku juga mau pamer sama teman-teman. 😆😆😆
Si Duda yang sudah bikin Zulaikha kelepek-kelepek 😍.
__ADS_1
Calon Besan Yusuf dan Zulaikha 🥰🥰🥰