Duda Vs Anak Perawan

Duda Vs Anak Perawan
BAB 63. Bertemu Sulaiman Lagi


__ADS_3

     Malam ini Rayyan dan Asiah makan malam di luar. Asiah ingin makan yang di pinggir jalan. Dia sedang ingin melihat orang banyak sambil menghabiskan waktu bersama suaminya.


"Sayang, mau makan apa lagi?" tanya Rayyan agar Asiah makan yang banyak. Dia merasa istrinya semakin kurus.


"Hmmm, apa ya?" Asiah melihat ke sekeliling tukang dagang makanan yang berjajar.


"Es krim," kata Asiah sambil menunjuk ke sebuah booth penjual es krim.


"Jangan banyak-banyak, ya! Ini sudah malam," kata Rayyan mengingatkan sambil mencolek hidung istrinya.


"Tenang saja, aku tidak akan flu karena ada Aa yang akan menghangatkan aku," balas Asiah sambil tersenyum menggoda dan jahil pada Rayyan.


     Rayyan membeli cilok bumbu kacang. Dia juga menyuapi Asiah. Malah istrinya itu lupa dengan es krimnya. Dia menikmati makan cilok berdua dengan kekasih hatinya.


"Aaaaa," kata Rayyan sambil menyuapi Asiah dan dengan senang hati disambut oleh sang istri.


"A, kapan kita akan pindah ke rumah milik kita?" tanya Asiah sambil menatap langit malam.


"Sampai orang tua kita mengizinkan kita untuk hidup mandiri," jawab Rayyan. 


     Mandiri di sini adalah kemampuan Asiah dalam menjalankan tugas seorang istri. Mampu mengatur, mengurus, dan bertanggung jawab atas rumah tangganya. Namun, saat ini Asiah belum mampu menjalani semua itu.


"Apa sampai aku bisa dipercaya oleh mereka?" tanya Asiah lagi.


"Makanya kamu harus bisa bersikap lebih dewasa lagi. Jangan suka mudah ngambek, jangan mudah ngeluh, jangan mudah nangis juga," jawab Rayyan dengan nada menggoda istrinya.


"Apa aku orang yang sangat menyebalkan, A?" tanya Asiah dengan wajah sendu dan tatapan mata yang sayu.


"Tiap orang punya penilaian masing-masing terhadap diri seseorang. Bagi aku, kamu itu orang yang menggemaskan dan sering membuat aku khawatir. Sehingga aku tidak boleh lengah dalam mengawasi kamu. Sayang, kamu adalah orang yang sangat berharga bagiku," jawab Rayyan sambil menyentuh pipi Asiah dengan senyum menghiasi wajahnya.


"Terima kasih, A." Asiah memberikan pelukan pada suaminya.


     Kedua orang itu pun menikmati jalan-jalan malam sambil mencari cemilan yang di jajakan di sana. Senyum Asiah kini sudah kembali mengembang menghiasi wajahnya.


"Asiah? Raya?" panggil seseorang.


"Sulaiman!" balas Asiah dan Rayyan bersamaan.


"Kalian suka datang ke sini?" tanya Sulaiman lagi.


"Kadang-kadang. Kalau sedang ingin mencari makanan yang banyak variasi atau sedang ingin icip-icip jajanan," jawab Asiah.

__ADS_1


     Akhirnya, mereka bertiga bincang-bincang sambil menikmati makanan yang mereka beli. Sampai waktu menunjukan pukul 22.00 Rayyan baru mengakhiri jalan-jalan malam mereka.


***


     Sementara itu di ruang kerja Rain, pemuda itu sedang memandangi wajah istrinya. Dia menjadi gelagapan saat ditanya balik oleh gadis belia itu.


"Kalau Kak Rain sendiri, suka nggak sama Nia?" Karena merasa terpojok, maka Rania malah balik bertanya.


"Bagiku cinta itu di mana ada sebuah rasa yang lebih dari biasanya. Sejak dulu aku berharap cukup satu wanita yang aku cintai sebagai pasangan. Yaitu wanita yang menjadi istriku. Rasa cinta itu akan aku berikan padanya," ucap Rain.


     Jantung Rania terasa melompat-lompat, perutnya berasa ada ribuan kupu-kupu yang menari-nari di sana. Dia tidak tahu kenapa dirinya senang mendengar kata-kata suaminya barusan.


"Ber-arti aku … adalah wa-nita yang Kak Rain cintai?" tanya Rania.


"Saat ini aku melihatmu sebagai seorang adik perempuan bukan seorang wanita dewasa," jawab Rain dengan tatapan mata masih mengarah pada Rania.


"Hm, berarti aku juga harus melihat Kak Rain sebagai kakak laki-laki aku juga sama seperti pada Kak Ian dan Kak Raya. Aku tidak mau mencintai laki-laki yang tidak mencintaiku," balas Rania dengan senyum tipisnya.


     Rain menatap dalam diam. Dia sendiri bingung saat ini. Dia begitu sayang pada Rania. Namun, dia tidak melihat Rania sebagai seorang wanita.


      Handphone milik Rania berbunyi, lalu dia menerima panggilan itu. Rania pun beranjak dari sana dan ke luar ruang kerja. 


     Rain langsung membelalakkan matanya dan tanpa sadar dia berdiri lalu berjalan ke luar dan menyusul Rania. Entah kenapa dia jadi penasaran dengan isi pembicaraan Rania dengan Chelsea.


"Aku nggak masalah satu kelompok dengan mereka. Barkah orangnya humoris bikin suasana belajar jadi tidak kaku, kalau Charles, dia enak diajak diskusi dan punya wawasan luas," kata Rania memuji teman laki-laki sekelasnya itu.


      Rain yang berjalan mengikuti Rania dari belakang, sangat merasa kesal saat mendengar istrinya memuji laki-laki lain. Dia pun hendak protes, tetapi Rania keburu masuk kamar dan menutup pintunya.


"Nia, kamu ini gimana, sih! Aku tanya apa kamu jawabnya apa." Suara Chelsea terdengar ngedumel di seberang sana.


"Aku lagi main akting sedikit. Pura-pura saja ada kejadian begitu," balas Rania sambil tertawa dan duduk di kursi meja belajarnya.


"Memang ada apa?"


"Lagi menguji Kak Rain," jawab Rania.


"Memangnya kenapa Kak Rain?"


     Lalu Rania pun menceritakan apa yang mereka bicarakan tadi. Chelsea pun mendukung drama yang diperankan oleh sahabat baiknya itu.


"Aku dukung kamu, deh!" seru Chelsea dan tawanya terdengar begitu jelas ditelinga Rania.

__ADS_1


***


     Rayyan dan Asiah bersiap-siap akan pergi ke sebuah pesta undangan. Mereka akan menghadiri pesta yang sama dengan Rain dan Rania.


"Sayang, kamu jangan cantik-cantik dandanannya. Nanti banyak yang jatuh cinta padamu. Aku tidak suka kalau mata para lelaki itu terus memperhatikan kamu," kata Rayyan sambil memeluk Asiah.


"Aku tidak dandan secara berlebihan, Aa. Ini hanya make up sederhana saja," balas Asiah sambil mengusap pipi suaminya.


"Melihat kamu cantik seperti ini, rasanya tidak mau jadi ke pesta itu. Lebih baik aku kelonin kamu saja di kamar berdua," ujar Rayyan sambil mencium pelipis istrinya.


"Aa, masa aku masih harus dikurung lagi, sih!" Asiah membalikan badannya dan mengalungkan kedua tangannya pada leher Rayyan.


"Pokoknya saat di sana nanti, kamu jangan jauh-jauh dari aku," bisik Rayyan dan mengecup bibir istrinya.


***


     Rayyan dan Asiah turun dari mobil dan bersamaan dengan Rain dan Rania yang juga turun dari mobilnya. Mereka sama-sama terkejut sekaligus senang.


"Kak Raya!" Rania memeluk tubuh Rayyan dengan panggilan manjanya.


"Nia, kamu juga ikut ke pesta, tumben?" Rayyan membalas pelukan adiknya.


"Nia, kamu cantik sekali!" Kali ini pujian datang dari Asiah.


"Aku belajar dari Mommy Bintang," ucap Rania.


      Ya, Rania memakai make up dan memberikan kesan dewasa. Sehingga tidak akan ada yang menyangka kalau dirinya masih duduk di bangku SMA kelas 3. Dia berdandan begitu untuk menyesuaikan dirinya dengan Rain yang sudah dikenal banyak semua orang sebagai pengusaha muda yang sukses.


     Keempat orang itu masuk ke ballroom hotel bersama-sama. Banyak mata yang memandang ke arah mereka. Apalagi Rania itu merupakan wajah baru bagi mereka.


     Sebenarnya sudah banyak orang yang mengenal Rania putri dari pasangan Fatih dan Mentari. Namun, biasnya Rania hanya muncul di acara-acara yang hanya diadakan oleh pihak keluarganya saja.


"Siapa perempuan cantik yang ikut dengan mereka?" Bisik di ballroom terdengar oleh Rain.


***


Kira-kira Rain akan cemburu nggak, ya? Atau malah panas dia 😁. Apa kehidupan rumah tangga Rayyan dan Asiah akan adem ayem atau mulai panas? Tunggu kelanjutannya ya! Jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih Bunga, Kopi, dan Vote (Mumpung hari Senin, nih) Like dan Komentar juga untuk tambah penyemangat buat aku 🤗🤗.


Sambil menunggu Rayyan dan Asiah up bab berikutnya. Baca juga karya teman aku ini. Ceritanya nggak akan kalah seru loh. Yuk merapat ke karyanya.


__ADS_1


__ADS_2