
"Ahk, lupa!" pekik Asiah.
"Apa?" tanya Rayyan dan Yusuf secara bersamaan.
"Apa saat ijab qobul tadi ada rekaman videonya?" tanya Asiah.
"Kenapa?" tanya Rayyan dengan curiga.
"Aku hanya ingin melihatnya," jawab Asiah sambil menahan senyumnya.
"Ada, Kak. Tadi aku sudah rekam semua," ujar Alin yang berdiri agak jauh dari mereka bertiga.
"Kamu punya rekamannya? Nanti kirim sama aku, ya!" Asiah kembali ceria seolah tidur panjangnya itu hanya sebuah istirahat yang sejenak.
"Aku curiga sama kamu, deh. Pastinya mau kamu apa-apain tuh rekaman," kata Rayyan.
"Asiah, ingat. Pernikahan kalian ini jangan terpublikasikan dulu pada umum. Kalian akan pindah kampus saat ajar semester baru nanti. Karena di kampus sekarang mahasiswa dilarang menjalin hubungan dengan dosennya," ujar Yusuf pada putrinya.
"Iya, Ayah. Asiah tahu, ini hanya untuk koleksi pribadi saja.
"Ok, Kak. Nanti aku kirimkan sama Kakak," ucap Alin.
Semua orang pun berbincang-bincang karena ada yang baru bertemu lagi setelah sekian lama. Namun, ada juga yang pamit karena hari sudah sangat larut malam. Bagi yang mau menginap Yusuf sudah menyediakan kamar tamu.
***
Saat semua orang sibuk dengan suka cita mereka karena Asiah akhirnya sadar. Rania malah keluar kamar dan berbaring di sofa karena dia sudah tidak kuat menahan kantuk dan badannya terasa remuk. Keberadaan dia yang tidak ada di kamar Asiah, membuat Rain mencari ke setiap sudut ruangan.
__ADS_1
"Kamu sedang apa?" tanya Raihan saat berpapasan dengan Rain.
"Mencari Nia. Dia, kok nggak kelihatan," jawab Rain.
"Alin, kamu tahu di mana Nia berada sekarang?" tanya Raihan pada istrinya yang merangkul lengannya sambil menahan kantuk.
"Nggak tahu," jawab Alin dengan menutup mulutnya karena sejak tadi terus menguap.
"Kak pulang, yuk! Ngantuk banget, nih," ucapnya Alin.
"Ah, benar juga ini sudah malam. Nia pastinya sudah tidur. Coba cari dia di sofa atau kamar tamu. Dia itu anaknya mudah tertidur," ujar Raihan kepada Rain.
"Benar juga. Nia itu tukang tidur," ucap Rain tahu akan kebiasaan gadis itu dari dulu.
"Yuk, aku duluan. Kasihan Alin sudah mengantuk apalagi besok masuk sekolah," kata Raihan sambil berjalan keluar kamar.
"Alin, malu dilihat banyak orang," bisik Raihan.
"Sudah sana, kasihan Alin sudah merem gitu matanya," ucap Mentari dan mau nggak mau Raihan pun menggendong Alin di punggungnya. Dalam hati Raihan menggerutu sedangkan Alin bersorak.
***
Betapa terkejut Rain, saat melihat istrinyanya sudah tertidur pulas di atas sofa. Dia pun membangunkan Rania dengan mengguncangkan bahunya pelan.
"Nia, bangun. Ayo, kita pulang!" lirih Rain.
"Nia, sudah tertidur?" tanya Fatih saat dia dan istrinya lewat hendak pulang.
__ADS_1
"Iya, Yah. Kayaknya Nia kelelahan karena seharian ini beres-beres terus," jawab Rain.
"Sayang, bangun! Suamimu ngajak pulang," ucap Fatih sambil ikut mencoba membangunkan putrinya dengan membelai kepalanya.
Rania membuka matanya, dia melihat ada ayahnya di sana. Rasa kantuk berat dan badannya juga terasa sakit membuat dia malas bergerak.
"Gendong!" pintanya dengan tangan terulur.
Rain dan Fatih saling menatap. Fatih berpikir kalau sekarang tugas itu harus Rain yang lakukan. Sementara itu, Rain merasa sangat malu karena sudah lama dia tidak pernah bersentuhan secara intim seperti itu dengan wanita. Terakhir kali, adalah saat menggendong Rania sewaktu samih SMP.
Melihat tatapan mertuanya, maka Rain pun membopong tubuh Rania dengan gaya bridal style. Rania juga mengira kalau yang menggendongnya adalah ayahnya yang seperti biasanya. Dia pun melingkarkan kedua tangannya pada leher Rain.
Telinga Rain menjadi merah karena merasakan bibir Rania menempel di lehernya. Dadanya juga menempel dan menekan pada tubuhnya. Rain merasakan sesuatu rasa yang asing saat ini. Biasanya dia tidak merasakan sesuatu jika dekat seorang perempuan. Kecuali, Amira. Dia sering deg-degan jika dekat dengan gadis bercadar itu.
"Apa Nia terasa berat?" tanya Mentari karena Rain belum melangkahkan kakinya juga.
"Tidak, Bunda. Rain sedang ambil posisi yang bisa membuat Nia, nyaman," jawab Rain.
"Kalau begitu, ayo!" Mentari mengajak bersama-sama turun ke bawah.
'Wangi Ayah, kok berubah, ya? Ini seperti wangi Kak Rain!' batin Rania saat merasakan goncangan pada tubuhnya.
Dengan perlahan Rania pun membuka matanya. Betapa terkejutnya dia saat menyadari dirinya sedang berada dalam gendongan Rain.
"Kyaaaak!" teriak Rania.
***
__ADS_1
Mulai bulan depan, aku akan cerita perkonflik tiap pasangan dulu. Pasangan pertama aku ambil Raihan dan Alin, terlebih dahulu. Pasangan lainnya jadi piguran untuk sementara waktu 🤭🤭. Jangan lupa dukung aku terus ya.