Duda Vs Anak Perawan

Duda Vs Anak Perawan
# Kejujuran Bilqis


__ADS_3

"Tidak mau! Aku maunya kamu yang menjadi istriku, pendamping hidupku, dan ibu bagi anak-anak aku nanti," kata William dengan tegas.


    Kata-kata yang keluar dari mulut William membuat Bilqis semakin merasa bersalah di satu sisi. Namun, di sisi lainnya dia merasa senang karena perasaan cintanya itu mendapat balasan. Ternyata kini cintanya tidak bertepuk sebelah tangan.


     Diangkatnya wajah Bilqis oleh William, dan dihapusnya air mata yang membasahi pipi yang semakin tirus. Laki-laki bule itu menyapu air mata Bilqis menggunakan ibu jarinya yang besar.


"Aku ingin mendengar penjelasan, kenapa kamu tidak bisa datang hari itu? Aku tahu kamu itu bukan orang yang suka ingkar janji. Aku tahu kamu juga menantikan hari itu," kata William dengan pelan.


    Diperlakukan lembut oleh duda bule ini malah membuat hati Bilqis semakin meleleh. Tekad dia untuk melupakan laki-laki ini menguap hilang entah ke mana. Sekarang dia malah mengharapkan pujaan hatinya itu mau menerima dia apa adanya.


"Maaf Mister," kata Bilqis tergugu tangannya mencengkram erat baju William.


"Katakan dengan jujur, ada apa?" tanya William lagi.


"Itu …, aku ingin membicarakan ini berdua saja." Bilqis menatap balik netra William yang berwarna biru.


    Duda bule itu pun menganggukkan kepala. Dia pun meminta kepada Rania dan Chelsea untuk melanjutkan bermain. William juga meminta Zainab untuk mengawasi anak-anak selagi dia dan Bilqis bicara.


"Kamu harus ceritakan semuanya padaku nanti? Jangan buat aku mati penasaran," bisik Zainab di dekat telinga Bilqis.


"Hm, nanti malam kita begadang," balas Bilqis dan keduanya kini tersenyum.


***


    William meminjam ruang paviliun di rumah Abah. Kedua orang itu duduk saling bersisian. Bilqis merasakan tubuhnya gemetar karena ada rasa takut, malu, dan merasa bersalah.

__ADS_1


"Bilqis, katakan kenapa kamu sampai pergi?" William menatap perempuan berjilbab yang sedang menunduk.


"Hari itu aku sangat senang dan tidak sabar ingin cepat-cepat malam rasanya. Bahkan Asma terus menggoda aku. Dia tahu kalau kita akan melakukan pertemuan itu. Namun, aku mendapat telepon dari Ibu yang meminta menjemputnya di rumah Zakaria, a—" perkataan Bilqis terpotong.


"I–Ibu? Siapa dia?" tanya William sambil mengerutkan kening.


"Maria, Ibu tiri aku," jawab Bilqis dengan pelan. Dia yakin kalau William akan memarahinya karena dulu dia sering bilang jangan terlibat dalam hal apapun dengan Ibu dan Kakak tirinya.


"Ish, jangan bilang kalau kamu sudah dijebak dan tidak bisa datang ke pertemuan itu gara-gara Ibu tiri kamu itu," ucap William dengan kesal.


    Bilqis menatap William dengan mata berkaca-kaca, bibir yang bergetar karena menahan tangisannya. Dia jadi ragu untuk jujur mengatakan kejadian selanjutnya.


    William bisa melihat ketakutan dan luka dari tatapan mata Bilqis. Dia pun menggenggam tangan yang semakin terlihat kurus dari terakhir mereka bertemu. Mana mungkin dia tega memarahinya karena sudah tidak menurut perkataan dia dulu.


"Katakan saja semuanya, aku tidak akan marah padamu," kata William.


"Iya." William pun mengangguk.


"Sebelum Magrib aku hendak pulang bahkan aku sudah pamit pada orang yang punya rumah. Namun, aku tidak ingat apa-apa lagi. Sampai aku terbangun …." Bilqis kembali menangis tergugu.


    William sudah tahu kira-kira apa yang terjadi selanjutnya. Dia merasa bergejolak amarahnya. Kedua tangannya terkepal kuat.


"Aku terbangun di tempat tidur … dalam keadaan tidak memakai pakaian," kata Bilqis akhirnya.


    Membayangkan Bilqis tidur di tempat tidur laki-laki lain membuat William marah. Dia juga bisa merasakan perasaan Bilqis bagaimana waktu itu. Sehingga memutuskan pergi jauh.

__ADS_1


    Diraihnya tubuh kurus yang terlihat terguncang karena tangisannya ke dalam pelukan hangatnya. William berkata, "Jangan bersedih seperti ini. Apapun yang sudah terjadi kepadamu, bagiku … kamu adalah perempuan istimewa yang sudah Allah hadirkan dalam hidupku."


"Tapi, a–aku sudah tidak perawan lagi," ucap Bilqis pelan dengan rasa malu.


"Aku ingin menjadikan kamu pendamping hidup, bukan karena kamu masih perawan."


    William masih memeluk tubuh yang terasa kecil dalam dekapannya. Dia ingin melindungi perempuan ini. 


    Bilqis kini menatap William, mencari kesungguhan dalam matanya. Dia menemukan hal itu dari tatapan mata si duda bule.


"Aku ini sudah kotor," kata Bilqis untuk meyakinkan William kalau dia bersungguh-sungguh dengan ucapannya tadi dan mau menerima dirinya ini apa adanya.


"Bagi aku kamu adalah anak perempuan baik hati yang peduli pada orang lain."


"Aku bukan perempuan yang sempurna," kata Bilqis.


"Akan aku buat kamu berasa menjadi seorang perempuan yang sempurna dengan cinta aku ini," balas William.


"Tidak ada yang bisa aku berikan kepadamu, Mister," ucap perempuan itu.


"Cukup berikan cinta, kasih, dan sayang kamu kepadaku. Juga kesetiaan kamu dalam mendampingi aku seumur hidupmu," ujar William.


"Aku mencintaimu, William Green," kata ini mengalun lembut dari mulut Bilqis.


***

__ADS_1


😍😍 Wah Bilqis dilamar secara tidak langsung tuh. Apakah perjalan menuju ke pelaminan akan mulus atau masih berliku?🥺🥺. Jangan lupa untuk selalu kasih dukungan untuk aku dengan kirim Bunga, Kopi, dan Vote. Like dan Komentar juga untuk penyemangat aku 🤗🤗


__ADS_2