
Yusuf memperhatikan tingkah polah istrinya. Dia merasa ada yang aneh dengan keadaan istrinya itu. Wajahnya jadi pucat dan panik. Dia juga terlihat tidak tenang.
"Sayang ...!" panggil Yusuf dengan mesra.
"Ya, Om. Ada apa?" Zulaikha mendadak gugup dia sampai salah panggil.
"Kok, Om? Bukannya tadi manggilnya Sang," ucap Yusuf mengerutkan keningnya.
"Eh, iya. Lupa," jawab Zulaikha sambil tersenyum kaku. Otaknya masih berpikir bagaimana caranya agar dia bisa selamat malam ini.
"Ada apa?" tanya Yusuf.
Belum juga Zulaikha menjawab. Terdengar suara adzan Isya. Hal ini malah semakin membuat Zulaikha panik.
"Adzan, Om! Adzan!" pekik Zulaikha langsung berdiri dan hendak ke luar rumah.
"Hei, mau ke mana?" tanya Yusuf sambil menahan tangan istrinya.
"Mau ke Mami," jawab Zulaikha spontan lalu menutup mulutnya.
"Ke Mami? Mau apa?" tanya Yusuf sambil mendudukkan si Gadis Nakal itu di pangkuannya.
"Mau ... mau ...." Zulaikha menunduk sambil memainkan ujung jilbabnya.
"Kita shalat berjamaah dulu. Lalu kita bicarakan apa masalah kamu," ucap Yusuf dengan lembut. Zulaikha pun mengangguk.
***
Setelah selesai sholat Isya. Yusuf dan Zulaikha saling berhadapan di atas sajadah masing-masing.
"Katakan ada apa? Kita sekarang sudah menjadi suami istri. Jika kamu ada masalah atau sesuatu yang terasa mengganjal di hati. Katakan kita sama-sama cari jalan keluarnya jika itu masalah. Aku ingin kita bisa saling berbagi. Mau itu sesuatu yang menyenangkan atau yang menyakitkan," kata Yusuf sambil memegang tangan istrinya.
Dikarenakan Zulaikha masih menunduk maka, Yusuf pun mengangkat dagu istrinya. Dilihatnya mata yang biasanya berbinar itu, kini seakan mengisyaratkan kekhawatiran.
"Katakan? Kalau kamu diam saja, mana mungkin aku tahu apa yang kamu inginkan dan kamu pikirkan, Sayang," ucap Yusuf dengan suaranya yang lembut dan pelan.
"Tapi, Aang jangan marah, ya?" Zulaikha akhirnya bicara.
"Kalau kamu nggak salah dan melanggar perintah Allah, In Sya Allah nggak akan marah," jawab Yusuf.
"Katanya melakukan malam pertama itu menakutkan? Sakit? Dan nanti tidak bisa jalan. Aku takut semua itu," ucap Zulaikha dengan mata yang kini berkaca-kaca.
Yusuf menjadi bingung. Dulu saat dia pertama kali melakukan malam pertama dengan Aisha. Istri pertamanya juga bilang kesakitan bahkan sampai menangis. Dan besoknya juga dia jalan dengan tertatih.
__ADS_1
"Sayang, dengarkan aku. Untuk pertama kali melakukan hal seperti itu siapa pun pasti akan merasakan sakit, tapi kalau sudah sering nggak akan sakit. Asal kita memperlakukan pasangan kita dengan baik dan penuh perasaan. Dan yang utama adalah kita melakukan ini niatnya ibadah. Maka rasa sakit itu akan tergantikan dengan rasa kebahagiaan. Ya, bisa dibilang kita akan merasa bahagia, jika sudah selesai bercinta," jelas Yusuf dengan wajah yang memerah bahkan sampai ke telinga.
"Tapi, A~ang ... apa tidak ada cara, agar tidak sakit meski pertama kali melakukan itu?" tanya Zulaikha menatap lekat suaminya.
"Sakitnya pasti ada hanya saja akan aku usahakan agar kamu tidak fokus akan rasa sakit itu," jawab Yusuf sambil mengelus pipi istrinya.
Zulaikha pun mengangguk. Dia peluk tubuh Yusuf dan mencium mesra bibirnya. Dia meminta maaf karena tadi berusaha untuk kabur di malam pengantin mereka.
"Sekarang kamu sudah siap menjalankan ibadah suami istri ini?" tanya Yusuf sambil membelai pipi mulus milik istrinya.
"Ini Sya Allah, siap!" jawab Zulaikha dengan senyum cantiknya.
"Kalau gitu, kita ambil wudhu lagi dan shalat dulu!" ajak Yusuf sambil berdiri dan mengulurkan tangan kepada si Gadis Nakal.
"Kok, shalat lagi? Kita kan baru saja selesai shalat Isya, A~ng." Zulaikha mengerutkan kening.
"Sa~yang, berhubungan badan itu ibadah jika kita niatkan karena Allah. Ada adat-adab yang harus kita lakukan saat melakukan itu. Kita dalam keadaan suci, berdoa perlindungan dari gangguan syetan, saat bersetubuh melakukan dengan benar sesuai dengan aturan-Nya. Dan kita berharap dari kegiatan ini bisa melahirkan anak yang shaleh dan shaleha."
Selama Yusuf berbicara Zulaikha mendengarkan dengan seksama. Akhirnya dia pun mengerti. Dianggukkan kepalanya.
***
Kini Yusuf dan Zulaikha sudah duduk di atas kasur. Keduanya saling memandang mengagumi keindahan rupa yang sudah diberikan oleh Allah kepada pasangannya.
"Ini Sya Allah, siap!"
Yusuf pun memegang kepala Zulaikha. Dia merapalkan doa dan di ikuti oleh Zulaikha.
Bismillah, Allahumma jannib naassyyaithaana wa jannibi syaithoona maarazaqtanaa. Artinya: "Dengan menyebut nama Allah, ya Allah jauhkanlah kami dari (gangguan) setan dan jauhkanlah setan supaya tidak mengganggu apa (anak) yang akan engkau rezekikan kepada kami."
Kemudian diciumnya pucuk kepala Zulaikha. Si Gadis yang sebentar lagi akan melepas keperawanannya. Merasakan desiran halus di seluruh tubuhnya. Jantung dia pun bertalu-talu. Saat bibir hangat suaminya mencium kening, kedua kelopak mata, pipi kiri dan kanan, hidung, dan dagunya. Zulaikha merasakan desiran-desiran halus itu berubah menjadi terasa bergejolak. Apalagi saat mulut suaminya menginvasi mulut miliknya. Zulaikha sudah nggak mau kalah, dia ingin melampiaskan hasratnya itu.
Yusuf memperlakukan Zulaikha dengan lembut. Dia memancing gairah milik sang istri terlebih dahulu. Sentuhan-sentuhan yang dilakukan oleh Yusuf membuat Zulaikha mengalunkan melodi-melodi indah.
Sudah satu jam Yusuf membuat Zulaikha terasa di mabuk kepayang oleh sentuhan dan kata-katanya. Dia ingin memberikan kenangan dan pengalaman terbaik baik istri kecilnya itu.
"A~ng, kapan kita ... akan ke acara ... utamanya?" tanya Zulaikha dengan napas terputus-putus karena menahan gairah yang sudah menyelimuti dirinya.
"Sekarang apa kamu sudah siap?" tanya Yusuf dengan lembut.
"Hm," jawab Zulaikha dan mengangguk.
Malam itu mereka menghabiskan dengan berbagi peluh. Saling membahagiakan pasangan, dan ....(Bayangkan saja sendiri ya Kakak-kakak 😉)
__ADS_1
***
Rasa kebahagian Zulaikha dan Yusuf, tidak sampai kepada Asiah. Dia merasa sangat sedih karena selama satu bulan ke depan, dia tidak bisa bertemu dengan Rayyan.
"Bunda, kenapa Asiah juga tidak di hukum bersama Raya?" tanya Asiah kepada Mentari yang kini sedang tidur di sampingnya. Dia juga bersalah, tapi kenapa yang mendapatkan hukuman itu cuma Rayyan.
"Karena Raya sudah melakukan suatu kesalahan, Sayang." Mentari membelai rambut bocah perempuan itu.
"Kenapa? Dulu Ayah sama Bunda juga Asiah pernah lihat mereka berciuman. Lalu Mama Zulaikha juga berciuman dengan Ayah, Bukannya Bunda dan Ayah Fatih juga berciuman?" Asiah menatap wanita yang kini sedang membulatkan matanya karena terkejut.
"Itu boleh dilakukan jika sudah menikah," ucap Mentari diiringi senyum kaku.
"Berarti harus menunggu Raya dan Asiah besar dulu, ya?" tanya Asiah dengan menatap lekat pada Mentari.
"Iya, Sayang. Kalian harus besar dulu, lalu menikah," jawab Mentari.
"Ya, sudah kalau begitu aku ciuman sama Raya setelah menikah saja," ucap Asiah.
'Aduh ini bocah! Sekolah Dasar aja belum, ini sudah memikirkan pernikahan,' batin Mentari merasa miris.
***
Rayyan yang kini berada di dalam kamarnya memikirkan bagaimana cara agar dia masih bisa berhubungan dengan Asiah. Karena baginya keberadaan gadis itu sudah bagian dari hidupnya.
Saat pertama kali melihat Asiah dia langsung suka. Apalagi gadis kecil itu juga selalu menempel padanya. Sehari-hari di sekolah mereka selalu habiskan waktu bersama. Kini tidak terasa sudah beberapa bulan.
"Apa aku minta bantuan Daddy saja, ya?" gumam Rayyan.
"Handphone aku juga di sita, kamar di kunci dari luar, lagi. Aku harus apa?" Rayyan mulai frustrasi.
***
Bagaimana tuh reaksi si Zul keesokan harinya? Kira-kira apa yang akan dilakukan oleh Rayyan agar bisa bertemu dengan Asiah?" Tunggu kelanjutannya ya! Jangan lupa Kasih aku Bunga, Kopi, dan Vote. Agar semakin semangat untuk ngetik. Like dan Komen jangan lupa. Terima kasih.
Sambil menunggu Yusuf dan Zulaikha up bab berikutnya. Yuk baca karya sahabat aku ini. Ceritanya bagus dan seru loh!
__ADS_1