
"Bismillahirrahmanirrahim,"
"Saya nikah dan kawinkan engkau Rain Alvan Abdulmalik Andersson bin Alexander Green Andersson dengan putri saya Rania Ghania Nurul Hakim dengan mas kawin uang sebesar dua puluh miliar rupiah, dibayar tunai."
"Saya terima nikah dan kawinnya Rania Ghania Nurul Hakim binti Al Fatih Green Hakim dengan mas kawin uang sebesar dua puluh miliar rupiah dibayar tunai."
"Sah!"
"Sah!" Hanya kedua saksi, Mentari dan Bintang yang membalas.
"Alhamdulillah,"
“Baarakallahu laka wa baarakaa alaika wa jamaa bainakumaa fii khoir.” (Artinya: mudah-mudahan Allah memberkahi kamu, baik dalam suka maupun duka dan selalu mengumpulkan kamu berdua pada kebaikan).
Pak Penghulu merasa ada yang aneh. Dia pun melihat ke arah warga desa.
Para warga di sana terdiam. Keluarga Fatih saling beradu pandang. Mereka merasa aneh dengan situasi sekarang. Mereka tidak tahu kalau para warga desa itu tercengang dengan jumlah mas kawin yang diberikan oleh Rain untuk Rania. Sebenarnya, untuk ukuran keluarganya ini termasuk sedikit karena pernikahan ini dilakukan secara dadakan dan membawa uang yang ada di brankas saja.
"Ada apa dengan mereka?" tanya Rania pada Rain dengan berbisik.
__ADS_1
Saat ini Rania sudah memakai baju muslimah berwarna putih yang tadi dibawa oleh Mentari karena baju yang dipakainya tadi kotor akibat perkelahian tadi. Begitu juga dengan Rain, asistennya membawakan uang dan baju untuknya.
"Entahlah," jawab Rain.
"Ini nggak salah kasih mas kawin uang dua puluh miliar?" tanya seorang warga.
"Iya, benar. Uang yang bada di dalam koper itu totalnya dua puluh miliar," jawab Adnan, asisten Rain.
"Apa Anda pikir, atasan kami ini orang miskin?" tanya Adiba, orang kepercayaan Rain.
"Wah, beneran uangnya ada dua puluh miliar itu!" seru salah seorang warga desa.
"Bapak-bapak ... ibu-ibu, harap tenang! Kalian jangan berisik. Kita selesaikan dulu acaranya sampai selesai. Kita belum memberikan ucapan selamat kepada kedua mempelai!" seru penghulu dan diikuti oleh Kepala Desa yang menenangkan warga.
Baik Mentari maupun Bintang merasa tidak tenang. Keduanya berharap kekacauan saat pernikahan ini, tidak sampai pada kehidupan rumah tangga Rain dan Rania.
"Kak, mereka tidak akan apa-apa 'kan? Aku jadi gugup begini. Entah kenapa aku merasa takut dengan rumah tangga yang akan dijalani oleh mereka," kata Bintang.
"Ya Allah, mudah-mudahan mereka berjodoh dunia sampai akhirat." Mentari berdoa demi kebaikan putri dan menantunya.
__ADS_1
"Aamiin," kata Bintang.
'Sepertinya aku melupakan sesuatu?' batin Bintang bertanya-tanya.
***
Acara pernikahan Rain dan Rania pun selesai dan para warga desa juga mendoakan agar rumah tangga mereka langgeng sampai maut memisahkan. Walau pernikahan mereka diadakan secara mendadak.
Kini mereka kembali ke Jakarta. Mobil Rain yang rusak pun diurus oleh Adnan dan Adiba. Rania pulang ikut dengan mobil Rain. Saat dalam perjalanan kedua orang itu saling diam. Tidak ada yang mereka ucapkan setelah sah menjadi suami istri.
'Ya Allah, kenapa aku harus menikah dengan Kak Rain? Padahal aku mau dia jadi pasangannya Kak Amira,' batin Rania.
'Tunggu. Apa Kak Rain dan Kak Amira sedang menjalin hubungan?' Rania melirik ke arah Rain dan ingin menanyakan hal ini. Namun, dia urungkan saat melihat senyum Rain padanya.
'Ahk! Masa bodo. Yang pastinya sekarang kita ini sudah jadi pasangan suami istri.' Rania mengetuk-ngetuk keningnya.
'Bagaimana reaksi Alin dan Chelsea nanti, ya? Saat tahu aku sudah menikah.' Rania sibuk dengan pikirannya sendiri.
***
__ADS_1
Bagaimana kisah kehidupan rumah tangga Rain dan Rania? Tunggu kelanjutannya ya! Lagi-lagi aku lupa dengan nama kepanjangan para tokoh aku 😢😢. Kalau ada yang ingat komen, Ya? Biar nanti aku revisi.