
Harap baca sampai selesai ya, teman-teman. Kemudian, kasih like dan komentar. Semoga hari ini kalian bahagia selalu.
***
BAB 91
Cuaca yang sangat dingin membuat Rayyan merasa nyaman dengan tidur memeluk istrinya. Sampai alarm yang dia pasang pun tidak terdengar. Biasanya dia akan terbangun sebelum jam 03.00, tetapi kini sudah jam 04.00 belum bangun juga.
Gerakan dari Asiah membuat Rayyan terbangun. Betapa terkejutnya dia saat melihat jam di dinding. Apalagi saat Asiah membalikan badannya dan tangannya menggapai nakas karena alarm di jam weker berbunyi.
Rayyan pun menjatuhkan dirinya ke lantai dan berguling ke kolong ranjang. Dia yakin kalau Asiah menyadari kehadiran seseorang di dekatnya saat itu.
Asiah yang merasa mendengar suara sesuatu, langsung menengok ke arah tempat Rayyan tadi. Namun, tidak ada apa-apa yang di sana. Lalu, dia pun berjalan ke kamar mandi untuk ambil berwudhu. Masih ada waktu 30 menit menuju adzan Subuh.
Rayyan merasa jantungnya berdebar takut ketahuan oleh Asiah. Begitu istrinya masuk kamar mandi. Dia pun bergegas keluar dari kolong tempat tidur dan berlari ke kamar kembarannya.
***
Rain menutup mulut Rania yang berteriak. Posisi mereka masih saling memeluk.
"Hei, bangun tidur itu seharusnya berdoa. Bukannya berteriak," kata Rain.
Rania pun bersungut-sungut setelah suaminya pergi ke kamar mandi. Dia merasa aneh. Kenapa saat terbangun dia sudah berada di kamarnya? Bukannya berada di kamar orang tuanya.
Hujan masih mengguyur dengan lebat. Rain pun sholat Subuh berjamaah bersama mertua, istri, dan iparnya. Mereka berjamaah di mushola yang berada di lantai bawah.
"Ayah, kenapa Nia bisa kembali ke kamar sendiri? Bukannya semalam Nia, tidur bersama Ayah dan Bunda?" tanya Rania begitu selesai berjamaah sholat.
"Bukannya kamu sendiri yang kembali ke kamar kamu semalam," jawab Fatih dan mendapat tatapan tajam dari istrinya. Fatih hanya tersenyum dan mengedipkan matanya kepada sang istri.
"Benarkah? Kok, Nia nggak ingat, ya," ucap Rania.
"Tanya saja sama Rain. Jam berapa kamu kembali ke kamar kamu?" titah Fatih pada putrinya.
"Kamu itu mungkin rindu sama Rain. Jadi, tanpa sadar berjalan balik lagi ke kamar di mana suami kamu berada," lanjut Asiah.
"Ah, masa?" ujar Rania tidak percaya. Dia justru merasa sedang menghindari suaminya, semalam itu.
"Kak Rain, jam berapa aku kembali ke kamar?" tanya Rania.
"Entahlah. Aku tidak lihat," jawab Rain.
"Sudah-sudah, masalah tidur saja jadi masalah. Lagian kan itu sudah berlalu," sanggah Mentari.
"Habis, saat Nia bangun tadi. Kak Rain peluk Nia dengan erat," ucap Rania malu kalau sebenarnya mereka berdua saling berpelukan.
"Enak banget kamu, tidur sambil memeluk suami," kata Asiah iri. Rania malah memanyunkan bibirnya.
__ADS_1
"Ya, nggak apa-apa, Nia. Kalian kan pasangan suami istri," pungkas Fatih dan disetujui oleh Mentari.
Rain memilih diam dari pada beradu mulut. Moodnya sedang bagus sejak semalam. Dia pun sebenarnya menahan senyum sejak tadi karena mengingat kejadian semalam.
***
Flashback on.
Handphone milik Rain berbunyi saat pemuda itu sedang memeriksa tugas hasil kerja Rania tadi. Melihat nama mertuanya di layar dengan cepat dia menggeser tombol berwarna hijau.
"Assalamu'alaikum, Yah," salam Rain.
"Wa'alaikumsalam. Rain tolong bawa Rania kembali ke kamar dan tidur bersama kamu, ya," pinta Fatih.
"Iya, Yah. Rain ke sana sekarang," balas Rain dan bergegas ke kamar mertuanya.
Rain melihat Rania sedang tidur di tengah-tengah kasur. Dia pun membopong tubuh istrinya.
"Terima kasih, Rain. Kamu memang pengertian," kata Fatih sambil tersenyum lebar.
"Iya. Tidak apa-apa kok, Yah. Maaf karena Nia sudah mengganggu tidur Ayah dan Bunda," balas Rain.
"Tidak apa-apa. Semoga dia tidak cepat bangun. Agar tidak kembali lagi ke sini," harap Fatih dengan wajah lesu. Sementara Rain, hanya tersenyum tipis.
***
Rain pun membaringkan tubuh Rania di ranjangnya. Dia menatap wajah istrinya dengan lekat. Wajah polos milik Rania, dia belai dengan pelan. Dikecup keningnya dengan lembut. Tidak ketinggalan dengan kedua kelopak mata, hidung mancung, dan kedua pipinya. Rain sempat ragu ingin mencium bibir Rania. Dia takut kalau pas mencium bibir itu, istrinya akan terbangun. Jadinya, dia hanya menatap bibir ranum itu sambil mengusapnya.
Rania mengeratkan pelukannya kepada Rain. Laki-laki itu sampai menahan napasnya, saat dada Rania menekan dadanya. Sebagai laki-laki normal tentu saja ini sinyal berbahaya.
"Astaghfirullahal'adzim, Rania … benar-benar menyiksa aku," gumam Rain sambil memijat kepalanya.
"Jangan salahkan aku, kamu yang memulai," lanjutnya.
CUP
Bibir lembut milik Rania dicium dengan lembut oleh Rain. Sebisa mungkin dia mengendalikan dirinya jangan sampai kelewat batas.
DEG!
Jantung Rain seakan copot saat Rania membalas ciumannya. Pemuda itu membuka matanya, yang dia lihat istrinya itu masih memejamkan mata saat membalas ciumannya. Maka, Rain pun melanjutkan aksinya.
Flashback off.
***
"Rain atau Nia, nih? Biasanya yang suka peluk-peluk itu 'kan, Nia. Iya … nggak, Yah?" Mentari menggoda putrinya.
__ADS_1
"Ya, Bun." Fatih mendukung ucapan istrinya.
"Wah, kalian pada sekongkol buat keroyok Nia, nih." Rania menatap sebal kepada semua orang. Dia pun pergi dengan wajah cemberut.
"Yah … Bun, Rain ke atas dulu," pamit Rain dan menyusul Rania.
Rain berjalan cepat dan masuk lift bersama. Dirangkulnya bahu Rania dan dicium puncak kepalanya.
"Sudah jangan cemberut begitu. Nggak ada salahnya juga aku memeluk kamu atau sebaliknya. Kita kan pasangan suami istri," ujar Rain.
"Sebal saja. Masa Nia jalan sendiri pindah ke kamar," gerutu Rania.
"Anggap saja ada seorang Pangeran gagah yang tampan, sudah membawa kamu dan membaringkan kamu di kamar," ucap Rain dan itu membuat Rania tersenyum.
"Ya, anggap saja begitu. Kalau begitu, aku harus bertemu dengan pangerannya, nih," kata Rania.
"Buat apa?" tanya Rain penasaran.
"Buat kasih hadiah," jawab Rania dengan senyum cantiknya.
"Apa hadiahnya?" tanya Rain lagi.
"Biasanya kalau di negeri dongeng itu, hadiahnya ciuman biar jadi pasangan abadi," jawab Rania, lalu dia berlari begitu pintu lift terbuka.
Rain tercengang saat mendengar perkataan Rania barusan. Senyum lebar langsung menghiasi wajahnya yang biasa datar bahkan cenderung dingin.
"Akan aku tagih ciuman itu," gumam Rain sambil berjalan menuju kamar Tuan Putri.
***
Wajah Rania sudah seperti udang rebus. Betapa malunya dia saat ini karena sudah mengungkapkan perasaannya secara tidak langsung kepada suaminya.
"Aduh, malu-maluin. Apa benar aku suka sama Kak Rain? Ini gara-gara Chelsea semalam yang ngomong kalau aku sudah suka sama Kak Rain," gumam Rania sambil memegang dadanya yang sedang berdebar kencang.
"Tuan Putri yang cantik, sedang apa?" bisik Rain dibelakang Rania.
"Aaaaakh!" teriak Rania. Dia pun membalikan badannya. Dilihatnya Rain sedang tersenyum tampan kepadanya.
'Tidak, jantungku! Aku mohon jangan menggila detakannya. Ya Allah, ada apa dengan aku?' batin Rania meratap.
"Kenapa? Katanya mau memberikan hadiah," kata Rain dengan suaranya yang lembut dan membuat Rania tidak berkutik. Tatapan mereka beradu saling menarik dengan kuat. Sehingga, tidak ada seorang pun yang mau memutuskan jerat pandangan itu.
Rania yang diam membuat Rain gemas. Dia maju selangkah, sehingga keduanya hampir menempel.
"Jadi nggak, mau kasih hadiahnya?" tanya Rain.
"Dipending, sampai jangka waktu yang tidak ditentukan," jawab Rania gugup dan melangkah mundur.
__ADS_1
***
Kira-kira Rain akan sabar menanti nggak tuh buat hadiahnya. Apa sih yang sudah dibicarakan Chelsea pada Rania? Tunggu kelanjutannya ya!