
"Apa kamu mau menikah denganku?" tanya Yusuf dengan berbisik. Suara yang selalu membuat Zulaikha terbuai akan alunan lembutnya.
"Ma–Mau! A–Aku ... ingin menikah denganmu, Om." Zulaikha mengeluarkan air mata kebahagiaan. Matanya kini memancarkan cahaya kebahagiaan.
"Terima kasih, Zulaikha. Terimalah diri aku yang lemah dan miskin ini. Terimalah diriku apa adanya," kata Yusuf dengan mata saling mengunci saling menjerat agar tidak lepas dari pandangan mereka.
"Justru aku yang harus bilang, terimalah diriku ini apa adanya. Aku gadis yang minim ilmu agama. Aku yang selalu cereboh dan berbuat bodoh. Aku yang membutuhkan bimbingan dari orang yang lebih sabar dan ikhlas akan ketidak Tahuan dan ketidak mampuan diriku. Apa Om, mau menerima segala kekurangan yang ada di dalam diriku ini?" Zulaikha berkata dengan berbisik.
"Ya. Aku akan menerima dirimu apa adanya. Menerima dengan segala kelebihan dan kekurangan dirimu," balas Yusuf.
"Terima kasih, Om!"
Zulaikha sangat senang mendengarnya. Dia langsung begitu saja menerjang tubuh Yusuf yang ada di sampingnya. Sehingga laki-laki itu berada di bawah kungkungannya.
Mendapat tanda sinyal bahaya, Yusuf langsung membalikan kembali tubuh Zulaikha agar berbaring seperti semula.
"Astaghfirullahal'adzim. Zulaikha ini berbahaya!" Yusuf pun bangun dan langsung beranjak dari tempat tidur milik Zulaikha.
"Kenapa, Om?" tanya Zulaikha dengan pose menggoda Yusuf.
"Kamu itu terlalu berbahaya bagi aku Zulaikha! Saat ini kita belum jadi suami istri. Kamu bukan mahram bagi aku." Yusuf sedang berusaha menahan dirinya. Keberadaan Zulaikha berada di atas tubuhnya tadi, meski hanya sebentar sudah menimbulkan reaksi pada tubuhnya.
"Kalau begitu sekarang saja kita menikah!" Zulaikha pun bangun dari tempat tidurnya. Dia berdiri di hadapan Yusuf.
__ADS_1
"Tidak bisa begitu Zulaikha. Kita harus bicara dan meminta restu dari orang tua kita. Setelah itu baru kita bisa menikah. Aku ingin menemui kedua orang tua kamu. Dan meminta putri cantik mereka ini untuk dijadikan istri dan ibu bagi anak-anakku."
Mata Zulaikha kembali berkaca-kaca. Bibir dia bergetar hendak bicara, tetapi tidak mampu. Hanya kepalanya saja yang menggeleng.
"Tidak perlu. Itu tidak perlu, Om. Mereka tidak akan peduli. Apapun yang terjadi pada diriku ini mereka tidak akan ikut campur. Jadi, kita bisa menikah tanpa meminta restu kepada mereka."
"Bagaimana bisa seperti itu, Zulaikha? Kita membutuhkan wali nikah."
"Papa aku non Muslim. Jadi, yang akan menjadi wali aku adalah wali hakim. Karena aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi yang berhak menjadi wali nikahku."
Yusuf baru tahu kenyataan ini. Dia ternyata masih tidak tahu apa-apa tentang gadis pilihan hatinya ini. Meski dulu Yunus sudah memberi tahu siapa Zulaikha, walau hanya sebagian kecil saja. Dia juga mencoba mencari tahu tentang masa lalu Zulaikha. Membaca berita zaman dahulu saat kasus yang menimpanya menjadi surotan publik. Namun, di dalam berita itu tidak disebutkan identitas kedua orang tuanya. Hanya diberitahukan nama keluarga Basir saja yang tercantum dalam berita.
"Lalu, keluarga Basir ... yang konglomerat itu?"
"Mereka hanya kaum kerabat dari pihak Mama. Tidak bisa jadi wali nikah aku."
Zulaikha pun terdiam. Ada benarnya juga apa yang dibicarakan oleh laki-laki yang kini berdiri dihadapannya itu.
"Baiklah. Aku akan menghubungi Papa dan Mama. Lalu akan bilang kepada mereka, kalau aku sudah menemukan belahan jiwa yang selama ini aku nanti."
"Izinkan aku untuk menemui mereka. Aku ingin meminta dirimu secara langsung kepada orang yang sudah membuat kamu hadir ke dunia ini."
Tatapan dan suara lembut Yusuf membuat Zulaikha tidak bisa bicara apa-apa lagi. Dia hanya menggunakkan kepalanya. Ada rasa terharu saat mendengar ucapan Yusuf barusan. Dia merasa keberadaan dirinya di dunia ini ternyata ada yang menganggap dirinya berharga.
__ADS_1
Yusuf pun menghapus air mata Zulaikha yang sejak tadi terlalu banyak keluar dari mata indahnya. Mencintai Zulaikha itu bagi Yusuf serasa naik rollercoaster. Mengaduk-aduk emosi, pikiran, dan perasaannya.
"Kebetulan ada orang tua aku datang ke sini. Aku ingin mengenalkan dirimu kepada mereka."
Betapa terkejutnya Zulaikha. Dia tidak menyangka kalau calon mertuanya sedang berkunjung ke kota.
"Aduh, Om. Kenapa baru bilang sekarang!" Zulaikha panik.
"Mana muka aku sekarang sedang kacau nggak karuan. Mata bengkak, hidung merah, akh ... benar-benar kacau!" Zulaikha melihat wajahnya di cermin.
"Apa aku harus ke salon dulu? Om, aku harus bagaimana saat bertemu dengan mereka nanti? Orang tua Om suka menantu yang seperti apa?"
Melihat reaksi Zulaikha yang panik seperti itu malah membuat Yusuf tersenyum tipis. Tingkah Zulaikha itu sering membuatnya gemas dan cemas.
"Om, aku harus bagaimana?"
"Aduh, Om. Perut aku, kok, jadi mulas begini?"
Zulaikha meracau terus sambil mondar-mandir dengan wajahnya yang terlihat cemas.
"Cukup persiapkan saja diri kamu! Paling kamu akan banyak di cecar pertanyaan oleh mereka," kata Yusuf menahan tawanya. Dia senang banget mengerjai gadis nakalnya.
"Apa?" Kaki Zulaikha bergetar, wajah memucat, dan jantung terasa melompat-lompat.
__ADS_1
***
Bagaimana kisah mereka selanjutnya? Tunggu kelanjutannya ya! Jangan lupa untuk selalu klik like, komentar, favorit, hadiah, dan Vote-nya juga ya. Dukung aku terus. Terima kasih.