
"Kyaaak!" teriak Alin dan langsung di bekap oleh Raihan.
"Diam! Kamu ingin mereka semua masuk lagi ke kamar ini seperti kemarin," ucap Raihan.
"Hmmmp!" Alin mengangguk. Tanpa dia tahu kalau kamar itu kedap suara.
"Kalau begitu, cepat sana wudhu!" titah Raihan dan Alin pun dengan cepat lari ke kamar mandi.
"Lucu juga nih bocah, mudah dikibuli!" gumam Raihan.
"Ah, harus wudhu lagi. Gara-gara bocah bau kencur," kata Raihan lagi.
***
Pagi harinya Alin membantu Mentari dan Rania memasak. Alin tidak bisa memasak yang aneh-aneh, bisanya masak makanan biasa sehari-hari orang kampung. Itu yang diajarkan oleh Bunda, Nenek, dan Oma-nya. Mana dia tahu cara memasak lobster atau udang jumbo. Kalau makan itu dia sering setelah pindah ke Jakarta, 2 tahun lalu.
"Bunda ini, kapan udangnya dimasukan?" tanya Alin pada Mentari.
"Jika bumbunya sudah wangi dan benar-benar masak, baru masukan udangnya," jawab Mentari yang sedang menggoreng ikan gurame kesukaan mertua dan suaminya.
Sementara itu, Rania sedang membuat jus jambu merah dan jus alpukat. Dia paling suka membuat berbagai minuman. Mau itu minuman jus, kopi, teh, susu, atau minuman kekinian. Rania sangat ahli dan diakui rasanya selalu enak. Bahkan dia punya cita-cita ingin membuat kedai kopi atau cafe.
"Bunda~. Haus," kata Rayyan begitu masuk ke dapur.
Melihat ada jus jambu yang tersedia, dia langsung saja menyambar satu gelas. Raihan yang datang di belangnya pun melakukan hal yang sama. Begitu juga dengan Fatih. Kini, 3 gelas jus jambu sudah kosong. Rania hanya bisa melongo. Padahal dia sudah pas buat semua orang nanti. Jadinya berkurang dan harus buat lagi.
"Anak-anak ke mana? Tumben sepi?" tanya Fatih karena kedua putranya tidak ada di sana. Fatih memberikan ciuman di kening istrinya.
"Mereka ikut Papa dan Mama, nanti juga kembali saat waktunya sarapan," jawab Mentari sambil memberikan kecupan di pipi suaminya.
"Oh iya, ada anak-anak Ghaza menginap di rumah Mama, semalam," ucap Fatih lagi.
"Iya, makanya mereka langsung ikut Papa tadi sesudah subuh," lanjut Mentari dan meletakan 2 piring berisi ikan goreng.
"Eh, ini untuk di antar ke rumah Papa," kata Mentari saat Fatih hendak mencomot daging ikan gurame yang berukuran besar. Fatih hanya tersenyum dan mencubit hidung Mentari dengan gemas.
Rayyan malah asik menggoda Rania yang cemberut harus membuat lagi jus jambu merah. Padahal tadi sudah selesai, dan dia tinggal duduk manis.
__ADS_1
"Sudah, sini kakak bantu," kata Rayyan sambil memasukan jambu yang sudah dipotong-potong kecil itu, ke dalam mulutnya.
"Kakak hanya bantu untuk menghabiskan," gerutu Rania.
Bukan hanya Rayyan, bahkan Raihan pun melakukan hal yang sama dengan kembarannya. Sehingga membuat Rania kesal dan selanjutnya merengek. Lalu mengadu pada kedua orang tuanya.
"Raya … Ian, jangan ganggu adik kalian!"
"Tidak, Bun. Kita sedang bantu Nia, kok!"
"Ya, benar kata Raya. Kita sedang bantu Nia," lanjut Raihan.
"Iya bantu. Bantu menghabiskan. Alin, nih urus suami kamu!" Rania melirik ke arah istrinya Raihan.
Alin memperhatikan interaksi semua orang di keluarga barunya, dibuat terkejut oleh perkataan adik ipar sekaligus sahabatnya itu. Dia hanya membuka mulut tanpa bicara.
Suasana makan pagi di rumah Fatih selalu ramai. Apalagi dengan suara Rania yang cerewet. Kini ditambah ada Alin. Semakin ramai saja keadaan di sana.
***
Raihan mengantarkan Alin dan Rania ke sekolahnya. Meski banyak mobil di rumah, kedua orang tua mereka tidak memberikan izin untuk membawa mobil sebelum mereka punya SIM.
"Ada apa, Kak?" tanya Alin sambil kembali duduk dan menghadap pada Raihan.
"Ini bekal uang jajan kamu. Mulai sekarang aku yang akan memberikan uang saku setiap hari. Jadi, jangan pernah minta lagi uang sama Ayah Abi," jelas Raihan.
"Lima puluh ribu? Mana cukup, Kak," kata Alin sambil melihat uang yang ada di tangannya.
"Hei, uang segitu sudah cukup untuk anak OSIS. Jangan banyak jajan nanti bodoh. Apa kamu mau jadi murid yang bodoh?"
"Ih, amit-amit. Nggak mau lah! Mendingan jadi murid pintar agar di sayang guru. Apalagi sama guru magang yang ganteng itu," ujar Alin sambil memasukan uang pada saku bajunya.
"Iya, makanya jangan banyak jajan. Aku dan Rayya, sangat jarang jajan di kantin. Makanya, kami jadi anak-anak yang cerdas. Jangan lupa juga, sekarang kamu sudah menikah, jadi jaga diri kamu. Jangan suka lirik-lirik lelaki lain!" kata Raihan sambil tersenyum menggoda.
"Iya … iya, aku juga tahu kalau sekarang ini sudah punya suami," balas Alin dengan memasang wajah kesal.
"Eits, mau ke mana?" Raihan lagi-lagi menahan tangan Alin.
__ADS_1
"Ya mau turun dong, Kak!" Mata Alin memutar karena kesal.
"Kamu lupa ini." Raihan menyerahkan tangan kanannya tepat di muka istrinya.
"Oops, lupa!" Alin pun mencium tangan suaminya. Raihan pun mencium kening Alin.
"Kyaaaak, Kakak! Nggak perlu cium-cium aku," kata Alin sambil memegang keningnya.
"Oh, mau aku cium bibir kamu?" tanya Raihan sambil tersenyum menggoda.
Alin langsung menutup mulutnya pakai kedua tangannya dan menggelengkan kepalanya. Raihan malah tertawa terkekeh.
"Sudah sana turun, Nia dan Chelsea sudah menunggu kamu!"
Lagi-lagi Raihan menahan tangan Alin. Lalu berkata, "Mana salamnya?"
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
***
Rain mendatangi perusahaan milik keluarga Hakim. Dia mau menemui saudaranya itu.
"Ian, aku dengar kamu semalam sudah menikah. Benarkah itu?"
"Ya, begitulah. Kenapa kamu kemarin sangat sulit dihubungi?"
"Aku ada keperluan sedikit dan bertemu dengan Kiai Samsul," jawab Rain.
"Jangan-jangan kamu bertemu dengan Kak Amira," ucap Raihan sambil tersenyum jahil.
"Ya, kami bertemu," pungkas Rain dengan senyum simpulnya yang sangat tipis.
"Terlihat dari wajah kamu. Ceritakan apa yang terjadi semalam!" pinta Raihan pada saudaranya itu.
"Itu …."
__ADS_1
***
Raihan senang banget jahilin Alin 😁😁. Bagaimana kisah Rain saat bertemu Amira? Tunggu kelanjutannya ya? Jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kirim Bunga, Kopi, dan Vote juga. Like dan Komentar juga untuk penyemangat aku 🤗🤗.