
Ghazali sudah siap dengan seragam kebanggaannya. Baju anti peluru yang berbahan lentur yang memudahkan dia bergerak. Tidak lupa senjata rahasia miliknya. Dengan mengendarai mobil sport pemberian Uncle Arthur–Papa Alex–yang khusus dibuatkan untuknya. Dia menuju ke lokasi yang di dapat dari Tim Keamanan yang sudah melakukan penyelidikan lewat kamera cctv di seluruh jalur yang dilalui oleh mobil pengantar sayuran.
Terlihat mobil Fatih sudah terparkir di sisi bahu jalan. Maka dia pun menepikan mobilnya di sana.
"Kak, emang sudah jelas siapa yang sudah menculik Asiah?" tanya Ghazali.
"Aku takutnya ada Qorun di sana. Kamu tahukan kalau laki-laki itu seorang psikopat. Akan terjadi hal gila jika tidak cepat-cepat kita selamatkan anak-anak itu." Fatih juga sudah mengenakan baju kebesaran ketika menjalankan misi.
"Apa dia kerja sama dengan kelompok kejam lainnya?"
"Mana aku tahu. Pokonya kita selesaikan lima menit. Tidak boleh melebihi sepuluh menit!" Fatih mengacungkan jari-jarinya dan berlari meninggalkan adiknya.
"Jangan gila, Kak! Kita tidak tahu musuh itu siapa? Berapa jumlahnya?" Ghazali pun berlari mengikuti Fatih.
***
Yusuf yang baru saja selesai minum obat dan mulai merasa ngantuk. Dikejutkan dengan dering telepon. Dia melihat nama guru dari sekolahan putrinya yang tertera di sana.
"Assalammualaikum. Bu Hawa, ada apa?"
[Wa'alaikumsalam, Pak Yusuf. Begini ... kami mau memberi tahu sesuatu kepada Anda ....]
Bu Hawa pun menceritakan kejadian yang sudah terjadi pada Asiah dan kedua temannya di sekolahnya. Dugaan penculikan yang sudah terjadi kepada ketiga anak itu.
Yusuf mendengar berita mengejutkan itu dengan perasaan berkecamuk. Dia pun bergegas pergi dari sana. Meski langkah kaki gontai dan terseok-seok, serta kepala yang berat dan sakit. Dia memaksakan diri untuk mendatangi Yayasan Al-Huda dan mencari tahu keberadaan putrinya.
"Asiah, tunggu Ayah. Apapun yang terjadi, Ayah akan menyelamatkan kamu!" desis Yusuf sambil berjalan menuju kumpulan mobil taksi yang tidak jauh dari rumah sakit.
***
Para penculik itu sedang menunggu kedatangan Qorun. Tiga orang anak tergeletak di lantai kotor.
"Bos. Aku sudah menghubungi perusahaan MAKMUR JAYA dan mereka setuju memberikan satu milyar sebagai uang jaminan untuk cucu mereka." Si Jaket Hitam memberikan laporan hasil kerjanya.
__ADS_1
"Bagus! Kapan perjanjian penyerahan uang itu?" tanya Si Bos.
"Nanti jam sepuluh malam," jawab Si Jaket Hitam.
"Bodoh. Kenapa nggak siang hari ini saja! Kalau kelamaan para polisi itu akan bergerak juga," sembur Si Bos.
"Habis mereka saat ini sedang berada di Malaysia sedang melakukan kerja sama dengan pengusaha di sana."
"Bos. Ternyata anak yang satu lagi adalah cucu seorang pejabat dan orang tuanya pengusaha. Kakeknya bernama Noah. Anggota legislatif." Lapor Si Jaket Biru sambil menunjukan foto keluarga besar Adam.
"Waw, hebat! Tidak menyangka kita dapat bonus ikan hiu!" Sorak Si Bos.
***
Fatih dan Ghazali mendatangi sebuah bangunan kosong dan terbengkalai. Mereka sudah melakukan siasat untuk melakukan penyelamatan Asiah. Keduanya berpencar masuk lewat jalan yang berbeda. Fatih masuk lewat jalur depan sedangkan Ghazali masuk lewat pintu lainnya.
Sebelum itu Fatih membocorkan semua ban mobil yang terparkir di halaman. Mobil boks yang dipakai untuk mengantarkan sayuran pun ada di sana.
***
Asiah mulai membuka matanya dia terkejut saat dirinya sedang berbaring di lantai kotor. Mulutnya tidak bisa mengeluarkan suaranya karena di plester pakai lakban. Kedua tangannya di ikat dibelakang tubuhnya. Dia merasa ketakutan. Air matanya pun keluar dari mata indahnya.
Dia melihat Adam dan Baim masih tidak sadarkan diri. Asiah ketakutan saat mendengar suara pria dewasa dengan banyak orang. Dia kembali memejamkan matanya dan terus berdoa.
'Ya Allah, tolong Asiah! Selamat Asiah dan teman-teman dari orang-orang jahat ini,' kata Asiah berdoa dalam hatinya.
***
Sama halnya di sekolah, teman-teman Asiah juga berdoa untuk keselamatan ketiga anak itu. Para guru juga sibuk menghubungi orang tua murid yang hilang dan memperketat penjagaan lagi di lingkungan sekolah.
Rayyan dan Raihan ingin keluar dari lingkungan sekolah dan mencari tahu kabar tentang temannya itu. Namun, mereka tidak diizinkan keluar dari lingkungan sekolah.
Yusuf pun sampai ke sekolah dengan langkah berat dan mata sembab. Dia sangat mengkhawatirkan putrinya itu.
__ADS_1
Dilihatnya ada Zulaikha dan Yunus yang juga baru datang setelah di beritahu Tim Keamanan Keluarga Hakim kepada Yunus. Meminta untuk memperhatikan orang-orang di sekitar Zulaikha.
"Om ...." Zulaikha merasa sangat bersalah. Dia merasa gara-gara dirinya, Asiah dan teman-temannya menjadi korban penculikan.
"Kamu, jangan menyalahkan dirimu. Mungkin saja ini bukan ulah orang itu. Tapi ulah orang lainnya. Bukan hanya Asiah yang mereka bawa 'kan?" Yusuf menghapus air mata Zulaikha.
Zulaikha menggelengkan kepalanya. Dia merasa yakin kalau Asiah diculik pasti karena dirinya.
"Padahal aku bilang akan melindungi kalian. Kenyataannya aku saja tidak bisa melindungi diri aku sendiri," ucap Zulaikha terjeda, "aku ini bodoh, lemah, dan tidak bisa apa-apa!"
"Jangan menyalahkan diri kamu! Aku harus bilang berapa kali," bentak Yusuf. Zulaikha menyandarkan kepalanya di dada Yusuf dan menangis.
Polisi sudah dapat informasi kalau penculik sudah menghubungi keluarga Baim dan Adam. Mereka meminta uang tebusan sebanyak masing-masing anak 1 Milyar. Namun, tidak ada yang meminta uang tebusan kepada Yusuf. Padahal dia juga pasti akan memberikan uang tebusan sesuai keinginan si penculik. Meski harus menjual semua aset kekayaannya.
"Yunus, kenapa tidak ada yang menghubungi aku? Apa Asiah bersama mereka saat ini?" tanya Yusuf bertubi-tubi.
"Ya. Tuan Fatih dan Ghaza sedang melakukan penyusupan ke tempat mereka,. Jadi Anda tenang saja. Jangan terlalu panik." jawab Yunus dengan tenang.
"Bagaimana aku tidak panik? Ini menyangkut putri aku!" pekik Yusuf.
"Sama ini juga menyangkut masa depan keluarga Hakim," balas Yunus.
Sebenarnya Yunus ingin ikut melakuakan penyusupan itu. Dia penasaran ingin melihat aksi dari seorang Fatih Green Hakim. Sebab, Fatih jarang terjun langsung kalau ada sesuatu yang berbahaya. Dia lebih suka berada di belakang layar dan menyuruh Ghazali untuk melakukan segala perintahnya.
Otak berharga Fatih bisa berpikir dengan cepat dalam mengatur strategi dan bisa memikirkan beberapa kemungkinan hal yang akan terjadi kedepannya. Tipe banyak berpikir suka memerintah dan malas bergerak. Makanya dia lebih suka menyuruh William dan Ghazali dalam menjalankan ide pikirannya. Berbeda dengan Alex, cepat berpikir dan lebih suka bergerak sendiri tanpa banyak menyuruh orang untuk melakukan ide pikirannya. Kecuali jika bergerak secara Tim.
"Kenapa aku tidak diizinkan ikut melakukan pembebasan Sandra," gumam Yunus saat melihat beberapa rekannya sudah bersiap, lewat rekaman di laptopnya.
***
Bagaimana kisah mereka selanjutnya? Tunggu kelanjutannya ya! Jangan lupa untuk selalu klik like, komentar, favorit, hadiah, dan Vote-nya juga ya. Dukung aku terus. Terima kasih.
__ADS_1