
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Terus like dan komentar. Semoga kalian selalu diberikan kesehatan.
***
Bab 92
Raihan yang biasanya pergi lari pagi, jika sudah sholat Subuh. Kini, dia sedang ngelonin Alin. Kedua makhluk itu merasa kedinginan, jadinya kembali naik ke kasur dan berpelukan dibalik selimut.
"Kak Ian. Kencan Minggu besok kita ke restoran bulan lalu itu, yuk!" ajak Alin.
"Restoran yang mana?" tanya Raihan tidak mengerti maksudnya.
"Restoran tempat kita merayakan satu tahun pernikahan kita," jawab Alin sambil mengusap rahang suaminya.
"Nggak, ah. Sekarang lagi musim hujan, malas keluar rumah," ujar Raihan sambil memainkan rambut Alin.
"Ya sudah kalau begitu, Kak Ian tidak boleh cium aku selama seminggu ke depan," kata Alin mengancam.
"Ya, nggak apa-apa. Aku juga tidak akan membuatkan kamu makanan dan tidak akan menyuapi kamu," ucap Raihan balik mengancam.
Hal ini merupakan bencana bagi dunia percemilan dan kesejahteraan perut bagi Alin. Dia sangat suka makanan yang dibuat oleh suaminya dan tentu saja makan pun kurang terasa nikmat jika tidak disuapi oleh Raihan.
"Kak Ian, jahat. Mau buat kurus badan Alin!" rengek Alin dengan bibirnya yang mengerucut.
"Siapa yang mulai duluan?" Raihan memencet hidung Alin gemas.
CUP
Alin mencium pipi suaminya. Itu tanda dia minta maaf dan berbaikan kembali.
"Inginnya aku di sini!" Raihan memajukan bibirnya. Mau tidak mau Alin pun mencium bibir suaminya.
Kedua orang itu bergelumul dibalik selimut sambil bersenda gurau sampai jam menunjukan 06.15 karena terlalu asik sampai lupa waktu. Hari yang dingin ingin ternyata sangat menyenangkan bagi keduanya.
***
Rain dan Rania juga kembali di balik selimut. Keduanya hanya duduk bersandar di tempat tidur. Kepala Rania bersandar pada bahu Rain dan suaminya melingkarkan tangan di pinggang Rania. Mereka membicarakan makanan yang sedang viral. Kalau sedang akur begini, Rania tidak malu bermanja-manja pada Rain sejak dulu.
"Kak, mie goreng ini kayaknya enak? Dekat lagi dari sekolah. Nanti sepulang sekolah aku mau coba," kata Rania.
"Sebaiknya jangan banyak makan yang pedas-pedas. Kemarin lusa kamu sakit perut," tolak Rain dengan lembut.
"Kalau begitu ini saja, seblak jeletot!" Rania menunjukan foto seblak yang berwarna merah dan sudah kebayang betapa pedasnya makanan itu.
"Nia, Sayangku, Humaira nya Rain Alvan Abdulmalik Andersson. Jangan makan pedas dulu, aku sebentar lagi masuk fase datang bulan," ucap Rain.
__ADS_1
Wajah Rania merah seperti tomat saat mendengar kata 'Sayangku' dan 'Humaira' untuknya. Jantung dia kembali bertalu-talu dan hatinya terasa berbunga-bunga. Senyum malu-malu pun tercipta dari wajahnya yang ayu.
"Kenapa?" tanya Rain sambil mengusap pipi ranum dan merona milik Rania.
"Kak Rain, membuat aku malu," jawab Rania dengan kerlingan mata nakalnya dan ini membuat Rain gugup.
"Malu karena apa?" bisik Rain karena suaranya tercekat di kerongkongan.
"Tadi Kak Rain panggil Nia dengan 'Sayangku' dan 'Humaira nya Rain Alvan Abdulmalik Andersson'," balas Rania masih malu-malu.
"Apa kamu suka aku panggil seperti itu?" tanya Rain dan Rania mengangguk.
"Ya Humaira," panggil Rain dengan suaranya yang lembut.
"Hati Nia meleleh, Kak," ucap Rania dengan tatapan mata berbinar.
"Ya Humaira, istriku yang cantik," panggil Rain mulai menggombal.
"Ya Habibi, ada apa?" balas Rania nggak mau kalah menggombali Rain.
Mendengar panggilan sayang dari istrinya barusan membuat hati Rain melambung tinggi. Dia harus menahan diri agar tidak sampai mencumbu Rania. Bisa-bisa nanti gadisnya ini ngamuk.
"Humaira, jangan kamu mendzolimi diri sendiri, ya. Bukannya sering sakit perut saat datang bulan, jika makan yang pedas," ujar Rain.
"Baik, kalau begitu," ujar Rania.
***
Gosip kalau Rain sedang jatuh cinta pun merebak di kantor perusahaannya. Semua orang pada kepo siapa perempuan yang beruntung itu.
"Wah, ada yang sedang berbahagia, nih," kata Adnan sambil tersenyum.
"Siapa? Aku?" tanya Rain pada sang asisten.
"Ya, iyalah. Memangnya siapa lagi kalau bukan si Bos Tampan ini," jawab Adnan.
"Apa terlihat jelas kalau aku sedang bahagia?" tanya Rain.
"Apa, kalian sudah menghabiskan waktu malam bersama?" tanya Adnan dengan berbisik.
Wajah, telinga, dan leher Rain mendadak berubah merona. Hal ini membuat otak Adnan berpikir ke arah urusan suami istri di atas ranjang. Sedangkan, dalam otak Rain yang ada bayangan Rania memanggil dirinya dengan mesra tadi.
"Sudahlah, itu bukan urusan kamu," balas Rain.
"Wah, aku tidak menyangka kalau kalian bisa secepat ini saling berbagi perasaan," tukas Adnan.
__ADS_1
"Kita berdua kan sudah hampir setahun tinggal bersama. Jadi, itu sudah wajar," ujar Rain.
"Bahkan kini Pak Bos bisa bicara panjang lebar begini mengenai kehidupan rumah tangganya," pungkas Adnan sambil tersenyum jahil.
"Sana kembali ke ruangan kamu!" perintah Rain.
"Apa Pak Bos sudah menyiapkan kado istimewa untuk anniversary pernikahan pertama kalian?" tanya Adnan.
"Aku bingung mau kasih apa sama Nia," jawab Rain.
"Kasih hadiah yang tidak akan pernah dilupakan seumur hidupnya," bisik Adnan.
"Apa itu?" tanya Rain.
***
Rona masih menghiasi pipi Rania. Seakan itu adalah blush on yang menghiasi pipi ranum gadis itu. Senyum cantiknya juga terus tercipta seakan tidak takut giginya kering.
"Ada kabar apa, nih?" tanya Chelsea berbisik.
"Pastinya ada sesuatu yang sudah terjadi antara Kak Rain dan Nia," balas Alin sambil matanya mengerling pada sahabatnya itu.
"Ih, kalian berdua selalu saja kepo! Mau tahu nggak apa yang terjadi tadi sama aku?" Rania dengan polosnya menceritakan kejadian semalam sampai tadi pagi.
"Nia, kamu membuat aku iri! Kenapa aku nggak tidur juga dengan Kak Ian semalam!" gerutu Alin.
"Pantas saja, semalam saat aku telepon kamu panggil aku Kak Baim. Aku langsung tahu kalau kamu sedang mencoba memancing amarah Kak Rain," kata Chelsea yang lagi-lagi jadi korban keisengan Rania saat menjahili Rain.
"Habis, aku kira Kak Rain mau mencium aku. Eh, tahu-tahu dia malah anteng duduk di tempat tidur. Sedangkan aku sudah mempersiapkan diri," aku Rania jujur dan membuat kedua sahabatnya itu menganga.
"Kalau begitu Kak Rain memang harus di tapol dulu," gerutu Alin.
"Jangan! Kasihan dia, nanti sakit," ujar Rania dengan memasang wajah galak.
"Terus apa Kak Rain sudah bilang cinta sama kamu?" tanya Chelsea.
Mendengar pertanyaan dari Chelsea barusan menyadarkan kembali Rania. Kalau cinta Rain itu bukan untuknya. Hatinya jadi merasa sedih karena bukan dia yang dicintai oleh Rain.
"Sepertinya kalian juga tahu siapa yang dicintai oleh Kak Rain," lirih Rania dengan suara bergetar.
***
Hadiah apa yang akan disiapkan oleh Rain untuk Rania? Bagaimana cara Rania agar Rain bisa cinta padanya? Tunggu kelanjutannya ya!
Sambil menunggu up Rain dan Rania, yuk baca karya teman aku ini. Ceritanya bagus dan seru loh!
__ADS_1