Duda Vs Anak Perawan

Duda Vs Anak Perawan
#Kalung untuk Asiah


__ADS_3

     Sore hari keluarga si Kembar datang menjenguk ke apartemen. Tentu saja Asiah senang bisa bertemu dengan Rayyan dan Raihan. Ketiga bocah itu bermain saat orang-orang dewasa asik berbicara.


"Asiah, aku punya hadiah untuk kamu." Rayyan mengeluarkan kotak kecil dari sakunya.


"Ini apa?" tanya Asiah saat Rayyan menyerahkan kotak berwarna merah itu.


"Buka saja!" titah Rayyan dan Asiah pun membukanya.


     Kotak dari Rayyan itu adalah sebuah kalung dengan inisial huruf R dan A yang di satukan berhiaskan banyak permata cristal. Sebuah kalung yang sangat indah. Jangan tanya, berapa harga kalung itu? Karena tidak akan percaya kalau harganya setara sebuah mobil.


     Kalung itu di pesan secara khusus karena sudah dipasang alat pelacak (GPS). Rayyan meminta sama Opa Khalid untuk membuatkan khusus untuk Asiah.


"Raya ini bagus sekali!" seru Asiah sambil tersenyum senang.


"Kamu suka?" tanya Rayyan senang.


"Iya. Tapi kenapa tulisannya RA bukan Asiah kayak punya aku?" Asiah menunjukan kalung bertuliskan namanya yang sedang dia pakai.


"Ini huruf R dan A, yang artinya R untuk Rayyan dan A untuk Asiah," jelas Rayyan.


"Oh, gitu. Bagus jadi ada nama aku sama kamu, ya?" Asiah terlihat sangat senang.


"R juga bisa untuk Raihan," potong Raihan yang sejak tadi diam saja.


"Kamu cari sendiri calon istri kamu, sana! Asiah sudah jadi milik aku," ujar Rayyan.


"Iya ... iya! Aku akan cari calon istri yang lebih cantik dan lebih lucu dari Asiah," gerutu Raihan.


"Lalu ini harus aku apakan?" tanya Asiah bingung karena dia sudah pakai kalung.


"Kamu harus pakai kalung ini sampai kamu besar. Jangan pernah dilepas apapun yang terjadi karena dengan kalung ini aku bisa menemukan kamu di mana pun kamu berada," jelas Rayyan.


"Lalu kalung dari Bunda ini, bagaimana?" tanya Asiah sedih.


"Simpan saja agar tidak hilang," jawab Raihan.


"Atau kamu bisa ubah jadi gelang. Kalau kamu takut hilang, lebih baik simpan saja." Rayyan tidak mau melihat wajah sedih Asiah.


"Kamu mau 'kan pakai kalung dari aku?" Rayyan menatap Asiah yang memandangi kalung pemberiannya.


     Asiah bingung antara ingin memakainya atau melepas kalung pemberian Bundanya. Asiah melihat ke arah Rayyan dan menyerahkan kalung ditangannya. Rayyan sedih karena dia berpikir kalau Asiah tidak mau menerima hadiah darinya.


"Tolong pakaikan!" pinta Asiah.


     Betapa senangnya hati Rayyan. Dia langsung tersenyum lebar dan menganggukkan kepalanya. Lalu dia melepaskan kalung bertuliskan Asiah dan mengganti dengan kalung berinisial RA. Kalung pemberian Bundanya di simpan di dalam kotak tadi.

__ADS_1


"Ingat, ya. Jangan pernah dilepas!" kata Rayyan dengan tegas. Asiah pun mengangguk.


***


     Fatih dan Yusuf berbincang-bincang mengenai masalah tabrak lari itu. Ternyata orang itu memang suruhan orang lain untuk mencelakai Yusuf. Polisi sudah menangkap pelaku tinggal mencari tersangka utama yang memberikan perintah.


"Anda harus berhati-hati kedepannya karena banyak orang yang suka melakukan segala cara agar bisa memuaskan napsunya," ujar Fatih mengingatkan Yusuf.


"Apa yang harus saya lakukan?" tanya Yusuf meminta solusi.


"Selalu waspada dan bisa membela diri saat ada musuh melakukan penyerangan," jawab Fatih.


"Tapi, saya tidak bisa berkelahi. Eh, maksudnya saya tidak punya kemampuan ilmu beladiri," balas Yusuf dengan jujur.


"Apa Anda tidak pernah belajar pencak silat atau karate?" 


"Dulu sewaktu kecil pernah belajar pencak silat."


"Kalau Anda mau belajar tinggal datang saja ke salah satu sanggar ilmu beladiri yang dibuat oleh para pengasuh tim keamanan. Ada banyak kok tersebar di Jakarta ini."


"Aku harus sesuaikan jadwal dengan kegiatan aku sehari-hari."


***


"Tante boleh tanya nggak?" tanya Zulaikha dengan malu-malu.


"Tanya apa?" balas Mentari.


"Bagaimana rasanya saat dulu saat menikah?" Zulaikha menundukkan kepalanya dengan semburat merah di pipinya.


"Yang pastinya senang, tapi deg-degan sampai rasanya mulas karena gugup," jawab Mentari sambil tersenyum simpul. Dia kembali mengingat saat menikah dengan William, yang penuh kebahagiaan layaknya pengantin baru. Beda saat dengan Fatih, dia malah banyak menahan rasa sakit hati di hari pernikahannya.


"Lalu saat melakukan malam pertama?" tanya Zulaikha penasaran.


     Mentari membelalakkan matanya karena terkejut. Dia tidak menyangka kalau Zulaikha akan menanyakan hal ini.


"Itu untuk urusan ranjang, kamu jangan bicarakan hal ini kepada orang lain. Ada batasan mana yang kamu bisa berbagi cerita kepada orang lain, mana yang tidak boleh kamu ceritakan pada orang lain. Agama kita melarang menceritakan kegiatan ranjang suami istri," jelas Mentari.


"Tapi 'kan banyak orang yang pastinya penasaran," kata Zulaikha.


"Untuk urusan itu emang kita bisa cari ilmunya. Bagaimana agar kita bisa memuaskan pasangan? Hanya saja kamu jangan bicarakan urusan ibadah suami istri di atas kasur secara gamblang kepada orang lain."


     Zulaikha mengangguk-anggukkan kepala tanda mengerti. Lalu senyum jahil muncul di wajah campuran bule yang dominan pribumi.


"Puasan mana antara Uncle Willi dengan Om Fatih?" 

__ADS_1


     Lagi-lagi Mentari terkejut dengan pertanyaan dari gadis nakal milik Yusuf itu. Sampai-sampai rasanya Mentari ingin menjitak kepala anak orang ini.


"Puasan sama aku 'lah. Buktinya tuh sudah ada si Kembar ditambah lagi ini yang masih proses on going menuju alam dunia," jawab Fatih yang tiba-tiba datang dari belakang mereka dan memeluk Mentari.


"Mas, lepas. Malu sama orang lain!" pinta Mentari.


"Gadis nakal ini anggap saja tidak ada," balas Fatih tetap tidak mau melepaskan pelukannya dari sang istri.


"Kalian berdua jahat!" pekik Zulaikha pura-pura marah. Lalu berteriak memanggil Yusuf, "Om ...!" 


     Yusuf yang sedang bersama anak-anak langsung mendatangi dapur karena mendengar teriakan Zulaikha. Dia ingin tahu apa yang terjadi di dapur?


"Ada apa?" tanya Yusuf begitu masuk dapur.


"Pingin," kata Zulaikha sambil melirik ke arah Mentari yang sedang di peluk Fatih.


     Yusuf malu bukan main saat melihat duo tamunya yang tidak tahu malu. Ditambah Zulaikha juga ingin dia melakukan hal yang sama. Double rasa malunya sampai membuat mukanya berubah merah. Tanpa berkata apa-apa Yusuf membalikan badannya meninggalkan ruangan itu.


"Om ...! Tunggu!" Zulaikha menyusul Yusuf dan meninggalkan Mentari dan Fatih.


"Zul! Kamu mau ke mana? Ini masak belum beres semua," teriak Mentari.


"Sudah biarkan saja dia. Sini, Mas bantu!" Fatih pun melanjutkan pekerjaan yang di tinggalkan oleh Zulaikha.


"Mas, sih. Tidak tahu malu, di rumah orang lain main peluk aja. Lihat tuh tuan rumah sampai kabur begitu!" gerutu Mentari kesal karena tingkah suaminya.


"Mas 'kan sudah ingin pulang dari tadi. Kamu malah masak di sini. Si Kembar malah asik main sama Asiah." Padahal Fatih ingin menghabiskan hari liburnya bersama keluarganya saja. Rencana awal mereka akan bertamu 1 jam. Ini sudah hampir 3 jam, masih di apartemen Yusuf.


***


     Zulaikha menyusul Yusuf dan duduk bersama anak-anak. Dia malah asik duduk sambil bermain bersama tiga bocah aktif itu dan lupa akan masakannya.


"Om, kayaknya senang ya, kalau nanti kita punya banyak seperti ini?"


     Yusuf bagai kena hantaman palu saat Zulaikha bilang anak banyak.


"Kamu ... ingin punya banyak anak?" tanya Yusuf tidak percaya. Orang lain justru ingin punya anak sedikit.


"Iya, Om. Kita buat anak yang banyak, yuk!" ajak Zulaikha penuh semangat. Tanpa sadar kalau ada tiga bocah kecil di sana mendengarkan pembicaraan mereka.


"Bersihkan pikiran kamu!" Yusuf menyentil kening Zulaikha. Sampai gadis itu mengaduh ke sakitan.


***


Bagaimana kisah mereka selanjutnya? Tunggu kelanjutannya ya! Jangan lupa untuk selalu klik like, komentar, favorit, hadiah dan Vote-nya juga ya. Dukung aku terus. Terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2