
Sambil bergandengan tangan Raihan dan Alin mencari barang yang di maksud. Saat memilih topi pun, Raihan merekomendasikan warna-warna yang kurang di sukai kaum pria. Orange, pink, ungu, magenta, coklat tua, dan selalu mengomentari warna yang akan dipilih oleh Alin.
"Ini, bagus," kata Raihan sambil memberikan topi berwarna kombinasi pink, merah, dan abu-abu.
"Enggak suka," balas Alin sambil menggelengkan kepala.
"Kalau begitu ini," ucap Raihan memberikan topi warna biru terang.
"Bagusan ini," kata Alin sambil memegang topi warna putih.
"Itu akan mudah kotor dan setelah itu akan dia buang," ujar Raihan saat melihat harga topi itu lumayan mahal.
"Tapi, ini sangat bagus. Bahannya juga bagus. Model terbaru dan akan pantas jika dipakai oleh Ka—"
"Kamu ini sudah aku beri tahu yang bagus dan sesuai dengan selera laki-laki," potong Raihan mencoba meyakinkan istrinya.
"Kakak beneran suka sama topi ini?" tanya Alin dengan melihat Raihan dengan penuh selidik.
"Tentu saja suka," jawab Raihan dengan meyakinkan.
"Ya, sudah. Aku beli ini saja. Eh, sekalian sama kaus oblongnya juga," pungkas Alin sambil mengajak Raihan ke bagian baju-baju casual untuk laki-laki.
Lagi-lagi Raihan memberikan rekomendasi warna yang tidak matching dengan warna topi tadi. Meski terjadi perdebatan di antara mereka. Alin akhirnya mengalah dan membeli kaus yang dianngap bagus oleh suaminya.
Senyum puas tercipta dari bibir sensual milik Raihan. Dia senang sekali menjahili Alin hari ini.
***
"Kita makan dulu atau langsung monoton?" tanya Alin sambil menggandeng tangan Raihan.
"Mending kita pulang. Makan di rumah sambil nonton film sekalian," jawab Raihan. Sebenarnya dia malas karena sejak tadi orang-orang memperhatikan mereka. Apalagi di saat ini Alin memakai seragam sekolah dan dia pakai jas.
__ADS_1
"Tapi aku ingin nonton film di bioskop. Layarnya juga lebar, sehingga puas saat melihatnya," ucap Alin dengan memasang wajah cemberut.
"Kita nonton bioskop di rumah Opa Khalid," balas Raihan dan menarik Alin ke luar Mall.
'Memangnya ada bioskop di rumah Opa? Setahu aku ada mini bioskop di rumah Ayah Fatih karena aku sudah pernah nonton film di sana,' kata Alin dalam hatinya.
'Jangan-jangan, Kak Ian mau mesra-mesraan dengan aku!' kata Alin dalam hati dengan girang.
'Bagaimana ini? Kalau nanti Kak Ian tiba-tiba ingin mencium aku.'
'Kyaaaaak! Aku malu membayangkannya.' Alin terus saja bicara dalam hatinya.
Mereka pun sudah sampai di basement, dan Raihan membukakan pintu mobil untuk Alin. Namun, istri kecilnya itu malah tetap berdiri sambil tersenyum-senyum malu dan tidak masuk ke dalam mobil.
"Alin, kamu sakit? Muka kamu merah." Raihan memegang kening Alin untuk mengukur suhu tubuh.
"Tidak panas, kok! Tapi, kenapa bisa merah begini?" Kali ini Raihan menangkup pipi Alin dan terasa hangat.
"Hangat. Apa kamu memakai kosmetik ilegal? Sehingga mengalami iritasi kulit," tanya Raihan sambil menatap Alin dengan penuh selidik.
"Lalu kenapa muka kamu menjadi merah seperti ini?" tanya Raihan dengan mengerlingkan matanya.
"I–itu, ra-ha-si-a." Alin pun buru-buru masuk ke dalam mobil, sebelum pipinya kena jembel oleh Raihan.
"Dasar bocah ingusan bau kencur," geram Raihan sambil berjalan memutar ke kursi pengemudi.
"Ka-kak, i-tu …." Alin menunjuk ke arah mobil milik Rayyan.
Raihan melihat ke arah yang ditunjuk oleh Alin. Dia melihat kembarannya dengan Asiah sedang berciuman di dalam mobilnya.
"Ish, mereka itu sudah kelewat batas," gumam Raihan sambil melihat ke arah mobil sport mewah warna merah kesukaan Asiah.
__ADS_1
"Me-mereka sedang berciuman 'kan?" tanya Alin dengan gugup.
"Apa kamu mau juga?" tanya Raihan sambil melirik ke arah Alin dan kini mereka saling beradu pandang.
"Bo–boleh," jawab Alin gugup dan pipinya kembali memerah.
"Tunggu empat atau lima tahun lagi, ya," ucap Raihan sambil tersenyum geli karena melihat ekspresi wajah istrinya.
"Kak Ian jahat!" Alin memukul-mukul tubuh Raihan. Pemuda itu malah tertawa terbahak.
***
Kini Raihan dan Alin menonton film Hollywood di mini bioskop di rumah Khalid. Raihan memilih rumah kakeknya dari pada di rumah orang tuanya. Dikarenakan dia tidak mau diganggu oleh orang lain. Terutama oleh Rania dan kedua adik lainnya lagi. Dia sengaja memutar film horor kesukaannya. Tanpa dia tahu, kalau Alin itu juga penyuka film bergenre horor.
"Kamu suka dengan film-nya?" tanya Raihan sambil melirik ke arah Alin.
"Stttt, jangan ganggu, Kak. Lagi seru-serunya," jawab Alin tanpa melepaskan matanya dari layar lebar itu.
Raihan menatap tak percaya pada istrinya itu. Dia kira Alin akan ketakutan dan tidak suka dengan film bergenre horor. Raihan pun senang, akhirnya punya teman yang nanti bisa diajak pergi menonton bersama.
***
Saat malam hari, Alin mendatangi ruang kerja Raihan. Dia melihat suaminya sedang bekerja lembur karena tadi malah bermain seharian dengannya.
"Kak, kita makan, yuk!" ajak Alin sambil menarik sebelah tangan Raihan.
"Tunggu ini sebentar lagi selesai," balas Raihan dan membuat Alin kesal.
"Kalau Kakak nggak berdiri juga, aku cium!" Ancam Alin sambil bertolak pinggang. Belakangan ini dia jadi sering seperti Rania. Kalau lagi kesal suka bertolak pinggang sambil mengembungkan pipinya.
"Dengan senang hati istriku! Ayo cium aku! Aku pasrah," kata Raihan dengan senyum menawannya dan malah membuat Alin terpana.
__ADS_1
***
Akankah Alin melaksanakan ancamannya pada Raihan? Bagaimana reaksi Raihan saat dikasih kado oleh Alin? Tunggu kelanjutannya ya! Jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kirim Bunga, Kopi, dan Vote juga. Like dan Komentar untuk membuat aku semakin bersemangat 🤗🤗.