
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Terus kasih like dan komentar. Semoga hari kalian bahagia.
***
Bab 116
Rain saat mengadakan rapat dengan rekan bisnisnya di sebuah restoran. Tiba-tiba saja dia merasa pusing dan muntah-muntah. Untung saja ada Adiba, orang kepercayaan Rain yang ikut serta mengawasi. Sehingga, Rain dengan cepat di bawa ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan. Dia diduga keracunan makanan, tetapi hanya Rain saja yang mengalami hal ini.
"Sebaiknya periksa makanan yang tadi di makan oleh Tuan Rain," titah dokter yang memeriksa Rain.
"Itu sedang dilakukan, Dokter. Apa tuan kami sekarang baik-baik saja?" tanya Adiba merasa khawatir.
"Iya, kondisi imun di dalam tubuh Tuan Rain sangat kuat. Sehingga tidak terlalu membahayakan kondisinya saat ini. Untungnya juga makanan yang dia makan juga tidak terlalu banyak," jawab dokter di IGD itu.
"Apa sekarang dia bisa di pindahkan ke ruang rawat?" tanya Adiba.
"Iya, bisa. Biar kami yang tangani," jawab dokter itu lagi.
"Terima kasih, Dok. Saya akan mengurus administrasinya," kata Adiba dan pergi meninggalkan Rain.
Amira yang kebetulan masuk ke ruang Instalasi Gawat Darurat, melihat Rain yang sedang berbaring tidak berdaya. Dia menanyakan keadaan Rain kepada perawat yang ada di sana. Perawat itu pun menjelaskan kondisinya saat ini.
"Rain, kenapa kamu bisa ceroboh dan tidak waspada? Bukannya kamu selalu hati-hati akan sekitar kamu?" gumam Amira sambil melihat ke arah Rain dengan perasaan iba.
Rain menggerakkan kelopak matanya. Dia ingin membuka matanya, tetapi agak sulit. Setelah beberapa saat akhirnya dia bisa membuka mata.
"Rain," suara lembut Amira menyapa.
Pandangan Rain kini ke arah samping, di mana Amira berdiri. Dia lalu mengedarkan pandangannya. Rain pun sadar kalau saat ini sedang berada di rumah sakit.
"Kak Amira," balas Rain. Dia pun memegang kepalanya yang terasa pusing dan sakit.
"Apa kepala kamu pusing?" tanya Amira dan dia pun agak membungkuk serta memegang tangan Rain.
__ADS_1
"Ya, kepala aku pusing dan sakit," jawab Rain.
Saat itu tanpa sengaja Amira melihat ada beberapa tanda merah di leher Rain. Sebagai orang yang sudah dewasa, dia bisa menerka tanda apa itu. Ada rasa sakit di dadanya membayangkan saat Rain dan Rania bercinta. Amira pun menggelengkan kepalanya untuk mengusir pikiran kotornya.
"Dokter, pasien akan di bawa ke ruang rawat," kata salah seorang perawat yang hendak membawa Rain.
"Permisi," kata Adiba saat terlihat Rain sudah sadar dan hendak membantunya pindah brankar.
"Adiba, Rania sekarang sudah waktunya pulang," lirih Rain saat orang kepercayaan itu membantu membaringkan tubuhnya di brankar.
"Tenang saja Rain, aku akan menjemputnya untukmu. Sekarang kamu istirahat dulu, jangan buat si Tuan Putri bersedih melihat ke adaan kamu seperti ini," ucap Adiba yang selalu setia kepada sahabatnya itu.
'Begitu cinta dan sayangnya dirimu kepada Rania. Sampai-sampai orang yang kamu ingat dan khawatirkan adalah gadis itu, padahal kondisi kamu saat ini sedang sakit,' batin Amira.
***
Setelah sore hari Rain baru sadar kalau handphone dia tidak ada. Maka dia pun meminta seorang perawat untuk menghubungi nomor Adnan dan menyuruhnya membawakan handphone miliknya.
Hampir 30 menit Adnan baru sampai di sana. Dia pun menyerahkan handphone milik atasannya. Saat mengaktifkan handphone, dia mendapatkan banyak panggilan dan pesan dari Rania. Saat hendak balik menelepon baterainya habis. Semalam dia lupa mengecas handphone. Ditambah tadi pagi mereka malah asik mengarungi surga dunia. Sehingga benda pipih itu terlupakan.
"Apa mau pakai handphone milikku?" tawar Adnan sambil menyerahkan handphone miliknya.
"Terima kasih, maaf aku pinjam dulu, ya," ucap Rain sambil mengambil handphone milik Adnan.
Meski beberapa kali, nomor Rania selalu sibuk. Dia merasa ada yang tidak beres dengan istrinya.
"Adnan, kapan aku bisa pulang?" tanya Rain.
"Sepertinya jika cairan infus sudah habis," jawab Adnan.
"Apa masih lama?" Rain melihat tetesan cairan itu sangat lambat. Rasanya ingin di putar biar tetesannya deras dan cairan infusnya cepat habis.
"Bersabarlah," balas Adnan.
__ADS_1
***
Fatih sangat marah saat tahu kalau putrinya mengalami pelecehan dan pencemaran nama baik. Lalu dia menghubungi keluarga Fathur dan menginginkan nama baik Rania di pulihkan serta akan menuntut atas perbuatan putranya. Jika, sampai besok siang semua itu tidak bisa keluarga mereka bereskan, maka Fatih sendiri yang akan turun tangan. Itu artinya, kehancuran perusahaan keluarga Fathur sudah di depan mata.
Ghazali sudah dapat informasi mengenai Rain yang mengalami keracunan. Sekarang sedang menjalani perawatan dan kemungkinan malam hari baru bisa pulang. Meski dokter yang memeriksanya menyarankan dia pulang keesokan harinya.
Mentari masih menenangkan Rania yang terus saja menangis. Gadis itu marah, malu, dan sangat kesal.
"Kak Rain, ke mana, Bun? Kok, nggak bisa dihubungi. Katanya sedang berada di rumah sakit? Apa dia sedang menemui Kak Amira?" racau Rania dan membuat Mentari tidak tega bilang kalau suaminya sedang sakit dan dirawat di sana.
"Dia ada keperluan di sana? Mungkin agak malaman dia akan pulang. Yuk, kamu mending istirahat di kamar," ajak Mentari.
***
Malam harinya Rain memaksakan diri untuk pulang. Dia rindu pada istrinya. Adnan pun pulang mengantarkan atasannya ke mansion Hakim, sesuai laporan Adiba tadi sore kalau Rania sudah di jemput oleh Ghazali. Namun, ternyata Rania tidak ada mansion. Bahkan kakak, kakak iparnya, dan Chelsea juga tidak ada.
"Mereka semua pergi ke rumah Den Fatih," ucap salah seorang pelayan di mansion.
"Terima kasih, saya langsung ke sana saja," ujar Rain.
Adnan pun mengantarkan Rain ke kediaman mertuanya. Saat menuju ke sana, Rain membuka medsos milik Rania. Betapa terkejutnya dia saat melihat berita-berita di dunia maya itu. Bahkan banyak komentar pedas dan menyakiti hatinya. Rain tidak terima dengan penghinaan dan fitnah terhadap istrinya. Dia yakin, kalau foto itu adalah editan. Dia pun menghubungi Adiba yang selalu siap sedia.
"Adiba, tolong selidiki masalah Rania yang sedang heboh di media sosial. Aku ingin menuntut semua pihak yang terlibat di sini," perintah Rain kepada orang kepercayaannya.
"Ibrahim, jika ini benar ulah kamu ... tunggu saja untuk kehancuran dirimu!" desis Rain menahan marahnya.
***
"Kak Amira, lihat ini! Ini bukannya Rania?" tanya Aminah sambil menunjukan foto yang sedang menjadi tranding di dunia maya.
"Mungkin itu perbuatan orang iseng, semoga orang yang berniat jahat pada Rania, segera dibukakan hatinya. Kalau yang sudah dia lakukan itu adalah perbuatan dosa," ujar Amira mengabaikan berita yang sedang heboh itu.
***
__ADS_1
Bagaimana reaksi Rain saat bertemu dengan Rania? Tunggu kelanjutannya, ya!