
Saat pulang tadi, Rayyan langsung mengecek keberadaan Asiah. Dia sengaja pulang cepat agar bisa menghabiskan waktu dengan istrinya. Ketidak berasalan Asiah di rumah, membuat Rayyan melakukan pengecekan melalui GPS yang terpasang di cincin pernikahan mereka. Dia pun mengirimkan 2 orang dari tim keamanan keluarga Hakim untuk memantau Asiah. Dia sangat marah saat melihat istrinya berduaan dengan teman mereka. Bahkan keduanya saling bercanda, tertawa, dan menghabiskan banyak waktu dengan berbincang-bincang di toko buku.
Rayyan kali ini memaafkan Asiah. Dia tidak mau terjadi pertengkaran hebat gara-gara hal seperti ini.
"Aku harus terus lagi untuk mengingatkan dia," gumam Rayyan sambil menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa dan lengan yang menutupi matanya.
***
"Sayang, apa kamu tahu apa itu kewajiban seorang istri terhadap suaminya?" tanya Rayyan pada Asiah yang kini sedang memeluk tubuhnya.
Ditanya seperti itu oleh suaminya, Asiah menelan saliva-nya dan dengan suara pelan dia menjawab, "Seorang istri senantiasa mentaati suaminya, selama suaminya itu tidak bermaksiat kepada Allah."
"Benar, Sayang. Apa aku selama ini pernah mengajak kamu dalam bermaksiat kepada Allah?" Rayyan mengangkat dagu Asiah dan melihat netranya.
"Tidak pernah," balas Asiah dengan pelan.
"Kalau begitu aku termasuk suami yang pantas ditaati oleh istrinya?" Rayyan mengusap pipi Asiah.
"He-eh," balas Asiah dengan mengangguk.
"Lalu kenapa kamu tidak mentaati perkataan aku?" tanya Rayyan masih memandangi wajah Asiah.
"Maksud Aa, apa?" Asiah malah balik bertanya, dia mendudukkan tubuhnya dan berhadapan dengan Rayyan.
"Bukannya aku pernah bilang, kalau kamu tidak boleh berbohong. Lalu, kenapa kamu berbohong kepadaku tadi? Aku juga sudah pernah mengingatkan dirimu untuk menghindari jalan berduaan dengan laki-laki yang bukan mahram, agar terhindar dari fitnah dan zina. Lalu, kenapa kamu hanya pergi berduaan saja dengan Sulaiman, tidak bersama dengan yang lainnya juga?" Rayyan masih menatap Asiah.
"I-tu … dari mana Aa tahu kalau aku hanya pergi berdua dengan Sulaiman saja? Apa Aa memata-matai aku? Aa mengirimkan seseorang untuk terus membuntuti aku?" Raut wajah Asiah terlihat tidak suka.
"Sepertinya kamu tidak memahami apa yang aku ucapkan tadi," kata Rayyan.
"A, aku paling tidak suka kalau ada yang mengikuti ke mana pun aku pergi! Aku juga ingin punya hak untuk melakukan apa saja yang aku suka dan apa yang aku mau! Aa pikir aku akan selingkuh dengan laki-laki lain, sehingga harus terus diawasi!" pekik Asiah dengan nada tinggi.
"Asiah, tidak sepantasnya seorang istri berbicara dengan nada lebih tinggi kepada suaminya. Apalagi nada suara kamu barusan masuk dalam kategori membentak," kata Rayyan dengan tenang.
Asiah sudah ingin bicara, tetapi tidak jadi. Dia lebih memilih mengatupkan kembali bibirnya. Dia tahu apa yang baru saja dia lakukan itu salah.
"Aku hanya mengingatkan dirimu sebagai seorang suami. Sudah sepantasnya kalau aku memberikan teguran kepada dirimu yang sudah berbohong. Aku akui kalau tadi aku meminta orang untuk mencari kamu karena tidak ada kabar dari kamu. Baik aku maupun kedua orang tua kamu, tidak ada yang tahu keberadaan kamu tadi. Kami melakukan ini semua karena rasa peduli dan sayang kami terhadap dirimu, Asiah," kata Rayyan masih dengan suaranya yang lembut dan tenang.
"Asiah belum punya teman perempuan. Hanya Sulaiman yang bisa diajak mencari bahan untuk mengerjakan tugas," ucap Asiah dengan pelan dan bernada sendu.
"Kenapa kamu tidak mencoba mencari teman perempuan yang mempunyai tabiat baik?" tanya Rayyan.
__ADS_1
"A, setiap orang itu punya sisi baik dan buruk. Tidak ada manusia yang luput dari kesalahan," balas Asiah.
"Aku tahu. Tapi, bukannya orang yang baik itu adalah manusia yang bertaubat jika dia sadar sudah melakukan perbuatan salah dan dosa. Bukan manusia yang sudah tahu itu salah, tapi tetap saja terus dia lakukan," ujar Rayyan.
"Lalu, Aa inginnya apa?" tanya Asiah.
"Kejujuran. Suatu hubungan akan kuat jika mereka saling jujur, memahami, dan memaafkan. Dan semua itu akan dipererat jika komunikasi kita baik. Dengan bicara jujur, kita bisa saling memahami satu sama lain. Kalau ada kesalahan kita bisa saling maaf dan memaafkan satu sama lainnya. Kalau salah satu dari kita suka berbohong, maka akan hilang rasa saling percaya. Karena tidak adanya rasa saling percaya maka akan sulit untuk saling memahami. Akhirnya yang ada itu saling mencaci maki dan sulit untuk meminta maaf dan untuk memaafkan. Dan akhirnya yang ada hanya kehancuran," jelas Rayyan masih dengan suaranya yang pelan dan lembut.
Air mata Asiah mengalir membasahi pipinya dengan begitu deras. Dia paham akan maksud perkataan suaminya itu. Dia sangat mencintai Rayyan, sehingga tidak mau kalau harus sampai kehilangan dirinya.
"Aku tidak mau hal itu terjadi pada kita. Aku tidak mau berpisah dengan kamu," lirih Asiah sambil menghapus air mata di pipinya dengan menggunakan kedua tangannya.
***
Raihan mengecek kamar tidur Alin dan terlihat kalau istrinya itu sedang tidur dengan terlentang selimut yang hampir jatuh, bantal ada yang di lantai dan di ujung kasur. Guling berada di kepalanya.
"Kamu pasti mimpi buruk tadi," gumam Raihan sambil mengambil bantal dan selimut yang ada di lantai.
Posisi tidur Alin pun di benarkan oleh Raihan. Bantal sudah terpasang untuk menyanggah kepalanya. Guling dipelukan Alin dan selimut pun sudah terpasang sampai leher karena cuaca mulai masuk musim penghujan.
Wajah polos Alin selalu bikin gemes Raihan. Dia mencium kening, kelopak mata, hidung, dan pipi milik istrinya.
"Aku tidak akan pernah meninggalkan kamu, Sayang," bisik Raihan sambil mengusap kening Alin yang mengkerut.
"Alin, kamu ini sebenarnya selalu mimpi buruk apa? Selalu bilang tidak mau ditinggalkan atau bilang jangan pergi," tanya Raihan tanpa berharap jawaban dari Alin yang sedang tidur.
"Jangan tinggalkan Alin! Kumohon jangan tinggalkan Alin!" teriak Alin dalam tidurnya.
"Alin, sadarlah! Hei, bangun!" Raihan membelai kepala Alin sampai gadis itu terbangun.
"Kak Ian!" Alin pun langsung memeluk tubuh suaminya sambil menangis.
"Ada apa? Kamu mimpi buruk?" tanya Raihan dengan lembut.
"Iya. Alin mimpi Kak Ian pergi! Alin tidak mau ditinggalkan," jawab Alin dalam isak tangisnya.
"Aku tidak akan pergi ke mana-mana," kata Raihan.
"Beneran?" tanya Alin.
"Iya, bener," jawab Raihan.
__ADS_1
"Kalau Kakak pergi, bawa Alin juga," ucap Alin sambil menguraikan pelukannya.
"Kalau aku pergi ke toilet, kamu mau ikut juga?" tanya Raihan dengan senyum jahilnya.
"Kak Ian nakal!" Alin memukul pelan dada suaminya sampai Raihan tertawa terkekeh.
"Kalau itu keinginan kamu, aku akan membawa kamu ke mana pun aku pergi," ucap Raihan dengan serius dan sungguh-sungguh.
"Alin tidak mau berpisah dengan Kak Ian," kata Alin sambil menatap lekat wajah suaminya.
"Aku tahu. Karena kamu itu bucin sama aku," ujar Raihan dengan senyum penuh kemenangan.
"Siapa yang bucin? Kak Ian yang bucin. Sehari tidak lihat Alin saja sudah tidak bisa tidur dan merasa tidak tenang. Sehari belum memeluk dan mencium Alin, nggak bisa fokus bekerja. Sehari nggak menjahili Alin, kepalanya pasti sakit," sewot Alin dengan bibirnya yang mengerucut dan itu terlihat menggemaskan di mata Raihan.
Tanpa banyak membuang waktu dan kesempatan, Raihan langsung saja mencium bibir ranum milik istrinya dengan lembut dan mesra. Alin yang awalnya terkejut pun mulai memberikan balasan kepada suaminya.
***
Sementara itu di apartemen, Rain terlihat sang tidak tenang di dalam ruang kerjanya. Dia mondar-mandir memikirkan ucapan dari Rania tadi saat makan malam. Lalu, dia pun ke luar dari sana dan berjalan menuju kamar istrinya dengan langkah kaki yang lebar.
"Nia, apa kamu masih bangun? Aku ingin bicara," kata Rain sambil mengetuk pintu di depan matanya.
Rain pun berdiri sekitar lima menit di sana. Sekali lagi dia memanggil istrinya sambil mengetuk pintu itu. Namun, meski beberapa kali dia melakukan itu tidak ada jawaban dari dalam kamar.
"Apa Nia sudah tidur? Ini sudah jam sembilan malam ternyata," gumam Rain sambil melihat ke arah jam di dinding.
Entah apa yang membuat Rain membuka pintu kamar istrinya. Baru saja dia membuka sedikit pintu itu terlihat Rania yang sedang berdiri di depan lemari baju yang ada cermin besar di pintunya, hanya menggunakan pakaian dalam saja.
"Astaghfirullahal'adzim." Rain langsung menutup pintu itu. Jantung dia berdetak berpuluh-puluh kali lipat dan tubuhnya bergetar. Seumur hidupnya dia baru melihat tubuh Rania yang sudah terbentuk layaknya wanita dewasa.
'Rania kini sudah jadi perempuan dewasa,' batin Rain. Muka dia pun merah padam.
Sementara itu, Rania juga terkejut saat mendengar ada suara pintu yang ditutup. Dia cepat-cepat memakai piyama tidurnya. Lalu berlari ke arah pintu dan membukanya sedikit.
***
🙈🙈 Mata Rain sudah ternoda karena mau masuk seenaknya. Raihan dan Alin semakin uwu saja. Rayyan masih terus berusaha agar Asiah tahu apa yang dia lakukan itu demi kebaikan mereka. Apakah hubungan mereka akan berjalan baik kedepannya? Pastinya akan banyak onak yang akan mereka lalui. Jangan lupa tunggu kelanjutannya ya!
Sambil menunggu Rayyan dan Asiah up bab berikutnya. Yuk baca juga karya teman aku! Ceritanya nggak kalah seru loh.
__ADS_1