Duda Vs Anak Perawan

Duda Vs Anak Perawan
BAB 61. Rayyan Marah


__ADS_3

     Terdengar suara gelak tawa dan canda dari sekumpulan anak muda yang memenuhi meja di dekat dinding kaca. Hanya Rayyan saja yang sejak tadi diam. Dia tidak menyukai kebersamaan dengan istrinya diganggu oleh mereka.


"Asiah, kenapa kamu buru-buru menikah? Apa tidak sayang dengan masa muda kamu ini?" tanya Samuel.


     Rayyan menatap tajam kepada laki-laki berambut pirang. Dia menahan amarahnya sampai giginya bergemeletuk.


"Hei, Sam, dari kita semua dia yang belum pernah merasakan nikmatnya bercinta itu tinggal Asiah. Dia bisa merasakan itu kalau menikah," balas Violeta sambil tertawa.


"Ya, dan sahabat kita sekarang sudah tahu bagaimana nikmatnya rasa bercinta itu?" timpal Andreas sambil melirik ke arah Asiah. Teman-teman lainnya tertawa.


     Rayyan sangat terkejut mendengar ucapan teman-teman Asiah. Lalu dia melirik ke arah istrinya dan menatapnya meminta penjelasan. Namun, Asiah menggelengkan kepala.


"Ya, dan Asiah itu bilang selalu puas sama suaminya," lanjut Magdalena yang masih tertawa kecil.


"Benarkah itu?" tanya Samuel tidak percaya.


"Iya, Asiah itu selalu membanggakan keperkasaan suaminya," jawab Magdalena.


"Asiah selalu bikin kita iri," ucap Violeta yang masih terkekeh.


"Asiah, kamu jangan hamil dulu. Nikmati masa-masa berduaan kalian," kata Chloe.


     Mendengar ocehan teman-temannya Asiah membuat Rayyan marah dan kesal. Lalu dia pun berdiri dari kursinya.


"Maaf, ini sudah malam. Aku dan Asiah undur diri dulu. Permisi," ucap Rayyan sambil menggandeng tangan Asiah.


"Teman-teman, aku pergi duluan. Sampai ketemu besok," kata Asiah cepat sambil berdiri.


"Iya, kami mengerti, kok. Kalian sudah tidak sabar, ya." Magdalena menggoda Asiah dan Rayyan.


"Asiah jangan lupa besok kita surfing bersama!" teriak Andreas karena Asiah sudah berjalan meninggalkan meja mereka tadi.


"Oke!" sahut Asiah.


      Asiah tahu kalau kalau saat ini Rayyan sedang marah. Tatapan matanya saja sangat tajam dan tidak bicara sedikit pun. Berjalan pun di depan tidak ada rangkulan mesra.


     Saat masuk ke lift juga Rayyan masih diam dan menatap dinding pintu lift. Namun, meski Rayyan marah pada Asiah, dia tidak meninggalkannya. Tangannya masih menggenggam tangan Asiah.

__ADS_1


     Setelah masuk ke dalam kamar, Rayyan baru melepaskan genggaman tangannya. Lalu dia berdiri di hadapan Asiah dan menatapnya dengan penuh rasa marah.


"Bisa kamu jelaskan dari ucapan teman-teman kamu tadi!" titah Rayyan.


"I-tu …." Asiah tubuhnya gemetaran melihat ada kilatan kemarahan dari pancaran mata suaminya.


"Katakan Asiah!" suara Rayyan mulai meninggi.


"A-ku …." Mata Asiah mulai berkaca-kaca dan ketakutan mulai menyusup ke dalam dirinya.


"Bicara yang benar. Untuk apa kamu punya mulut kalau tidak bisa ngomong!" bentak Rayyan.


      Rayyan dari dulu selalu mengingatkan kepada Mentari. Jangan terlalu terpengaruhi oleh teman-temannya itu. Apalagi sampai mengikuti gaya hidup dan pola pikir mereka. 


     Asiah malah menundukkan kepala dengan bahu terguncang. Menandakan kalau saat ini dia sedang menangis.


"Apa kamu ingin menikah dengan aku agar bisa melakukan *_** denganku? Jawab Asiah!" Rayyan benar-benar marah. Apalagi Asiah dari tadi tidak menjawab setiap pertanyaan darinya.


"Aku sungguh kecewa padamu. Selama ini aku, Ayah Yusuf, Bunda, dan Ayah selalu memberikan pengertian kepadamu tentang bagaimana membangun dan membina dalam rumah tangga. Tapi, sepertinya itu cuma sia-sia saja. Apa kamu hanya mendengarkan dengan telinga kanan dan mengeluarkannya lewat telinga kiri. Aku kecewa, benar-benar kecewa sekali padamu!" Rayyan juga meneteskan air matanya. Dia benar-benar merasa gagal dalam mendidik Asiah.


***


     Hampir 30 menit Rayyan di kamar mandi. Dia mandi kembali karena kepalanya terasa panas, maka  dia mengguyur agar otaknya bisa berpikir dengan dingin. Saat dia keluar kamar dilihatnya Asiah terduduk di lantai sambil menangis. Hatinya terasa teriris melihat wanita yang dicintainya sedang bersedih dan menangis dengan pilu seperti itu.


     Menyadari suaminya sudah keluar dari kamar mandi, Asiah mengangkat kepalanya. Matanya merah dan bengkak. Lalu, dia berdiri dan mendekat pada Rayyan.


"Maafkan aku," cicitnya dengan suaranya yang serak karena sudah lama menangis.


"Aku … terpancing oleh obrolan mereka waktu itu dan tanpa sadar aku mengatakan sesuatu yang tidak boleh diceritakan kepada orang lain. Cukup aku dan kamu saja yang tahu. Aku … minta maaf." Asiah masih menundukkan kepalanya.


"Bukannya kamu tahu hubungan suami istri di atas ranjang jangan diumbar. Kamu juga tahu harus bisa jaga rahasia privasi kehidupan dalam rumah tangga kita," kata Rayyan yang kini sudah lembut kembali.


"Aku tahu, tapi saat itu aku lupa. Apalagi saat …." Asiah bercerita dengan suaranya yang sengau, bagaimana awal semua itu bisa terjadi.


      Rayyan rasanya ingin marah lagi pada Asiah saat mendengar ceritanya. Dia tidak menyangka kalau istrinya itu akan bercerita sampai sedetail itu pada teman-temannya.


"Astaghfirullahal'adzim, Asiah. Di mana rasa malu kamu? Ke manakan adab dan akhlak kamu? Bagaimana mungkin kamu sampai bisa bercerita tentang malam pertama kita pada mereka. Padahal kedua orang tua kita saja yang pasti akan menjaga nama baik kita, tidak tahu dan mereka juga tidak ingin tahu. Namun, kamu dengan mudahnya bercerita semua itu kepada mereka. Apa saat kamu bercerita pada mereka waktu itu, tidak merasa malu?" Emosi Rayyan terpancing lagi.

__ADS_1


"Aku khilaf. Aku terbujuk oleh napsu karena bahagia punya suami seperti kamu. Mereka selalu bercerita tentang kegiatan bercinta dengan penuh kebanggaan atau kebahagiaan. Makanya, aku juga bilang bangga dan bahagia punya pasangan seperti kamu," ucap Asiah.


"Maafkan aku, A," lirih Asiah dengan tatapan penuh penyesalan.


"Aku janji tidak akan mengulanginya kembali," tambah Asiah sambil memegang ujung jari suaminya.


     Rayyan menghela napasnya. Dia membalas genggaman tangan Asiah dan membawanya ke tepi ranjang. 


"Kita akhiri saja perjalanan bulan madu ini. Kapan-kapan kita lanjutkan lagi kalau ingin keliling Indonesia. Besok pagi-pagi sekali kita kembali ke Jakarta," kata Rayyan.


"Tapi …." Asiah mau protes, terapi tidak jadi karena melihat ada tanda-tanda tidak mau dibantah.


"Iya. Izinkan aku untuk pamit pada teman-temanku karena tidak bisa ikut liburan dengan mereka," pinta Asiah dengan tatapan memohon.


"Hn." Rayyan pun mencium kening istrinya.


"Terima kasih, A." Asiah mencium tangan suaminya.


"Jangan diulangi lagi!" Rayyan menatap wajah istrinya.


"Iya. Aku tidak akan ulangi itu lagi," balas Asiah lalu memeluk tubuh suaminya. Dia bersyukur mendapatkan maaf dari Rayyan.


***


"Hei, apa-apaan maksudnya Asiah mengirim pesan seperti ini?" tanya Violeta saat membaca pesan di grup pertemanan mereka.


"Apa Asiah itu sudah membuang kita?" lanjut Magdalena dengan mimik muka kesal.


"Ya, sepertinya dia sudah tidak membutuhkan kita lagi," ujar Violeta dengan marah, mukanya juga sudah memerah.


***


Rayyan semakin dewasa saja 😍 Asiah semoga cepat mengikutinya. Bagaimana kisah mereka selanjutnya? Tunggu kelanjutannya ya! Jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kirim Bunga, Kopi, dan Vote. Like dan Komentar untuk membuat aku semakin bersemangat 🤗🤗.


Sambil menunggu up Rayyan dan Asiah up bab berikutnya. Aku punya rekomendasi karya teman aku. Mampir, ya!


__ADS_1


__ADS_2