
Alin setiap pagi di minta oleh Raihan untuk rajin minum susu agar tubuhnya bisa lebih tinggi lagi. Meski ogah-ogahan Alin pun menurutinya daripada terus diejek dengan sebutan bocah ingusan.
"Kak Ian, aku ingin pergi ke puncak dan melihat bintang," rengek Alin sudah beberapa hari terakhir ini.
"Iya, nanti kalau aku nggak banyak pekerjaan," jawab Raihan asal yang penting istrinya diam.
"Beneran loh! Jangan bohong terus," ucap Alin dengan memasang wajah cemberut.
"Kapan aku bohong sama kamu. Aku itu banyak pekerjaan tiap harinya. Beda sama kamu yang kerjanya cuma main," balas Raihan dengan kesal.
"Enak saja main! Aku ini setiap hari diajari sama Bunda memasak dan diberi wejangan agar bisa jadi istri yang baik dan sholeha. Kakak tidak tahu kalau aku dan Nia itu setiap pulang sekolah harus ke rumah Bunda. Aku juga sama capek," sungut Alin tidak terima disebut sering main.
"Tapi kan banyak mainnya sama Nia saat di rumah Bunda," tutur Raihan terus menimpali ocehan istrinya.
"Kakak pikir kita berdua senang-senang di sana. Kita sepulang sekolah sore hari, lalu di rumah Bunda sampai Kakak datang menjemput. Sampai rumah banyak tugas sekolah, ngurus suami. Capean mana aku sama Kakak?" Alin mulai terpancing emosinya.
"Emangnya aku juga nggak capek? Belum lagi harus begadang jika pekerjaan di kantor belum selesai," sanggah Raihan sambil melotot pada Alin.
"Kak Ian jahat!" Alin langsung berdiri dan menghentakkan kakinya.
Jika sudah seperti ini, Alin akan pergi ke kamarnya dan mengunci diri. Dia selalu takut jika Raihan sudah melotot. Itu mengingatkannya pada ekspresi wajah Kakeknya yang sedang marah.
__ADS_1
Baik Alin maupun Rania tidak menginginkan menikah muda. Mereka juga suka curhat kenapa harus mengalami hal kehidupan seperti ini. Masa muda yang seharusnya di isi dengan menghabiskan waktu bersama teman dan keluarga. Mereka justru menghabiskan waktu untuk belajar menjadi seorang istri. Bukannya tidak ikhlas menjalani semua ini.
Kadang Alin juga menginginkan suaminya selalu menghiburnya dan memanjakannya. Seperti Ayahnya yang selalu membuat Bundanya bahagia dan nyaman saat berada di sisinya. Ayahnya adalah sosok suami yang terlihat sangat menjaga dan memanjakan istri. Tidak pernah sekalipun Alin melihat ayahnya itu membentak atau memarahi bundanya.
Sebaliknya dengan dirinya, Raihan itu selalu ingin didengar omongannya, tetapi tidak mau mendengar omongan Alin. Dia merasa kalau suaminya itu selalu melihat dirinya adalah bocah yang suka berbuat onar dan semaunya sendiri.
Alin saat ini terkena kasus penganiyaan terhadap Miranda dan Soraya. Kedua wanita itu melaporkan Alin kepada polisi, atas kejadian di Aquarius Sea World dulu. Dirinya harus wajib lapor dan menjadi tahanan kota.
"Awas kamu, Kak Ian! Kalau mengeluh capek dan minta di pijat, aku pura-pura tidak dengar," gerutu Alin sambil meninju gulingnya. Dia suka melampiaskan kekesalan pada suaminya dengan cara begitu.
***
Raihan melihat kalender, dia melingkari tanggal 1 dan 2 dengan pensil lalu dia menulis keterangan di sana dengan tulisan Obeservatorium Bosscha, Lembang. Lalu dia pun membuka buku agenda miliknya dan itu masih banyak pekerjaan yang harus dia selesaikan.
Baru saja dia mengerjakan pekerjaan miliknya. Handphone dia berdering dan terlihat nama Barkah di sana. Sang ajudan yang sering dia minta tolong dalam urusan di luar perusahaan.
"Assalamu'alaikum," salam Raihan begitu meletakan gawai itu di telinganya.
📞"Wa'alaikumsalam"
"Ada apa?"
__ADS_1
📞 "Pak Ian, saya sudah mendapatkan seorang ahli yang bisa membaca gerakan mulut. Dia juga sudah menerjemahkan ada yang terlihat di rekaman cctv itu."
"Bagus. Kita harus selesaikan masalah ini secepatnya dan memberikan pelajaran untuk mereka."
📞 "Baik, Pak! Besok kita akan ke kantor polisi."
"Terima kasih, ya. Maaf kamu sering aku repot kan."
📞 "Tidak apa-apa, kok, Pak. Saya juga pasti akan melakukan hal yang sama untuk istri saya jika itu sampai terjadi."
"Kalau begitu selamat beristirahat. Kamu juga harus perhatikan istri kamu itu. Jangan sering keluyuran di luar rumah kalau nggak lagi bekerja."
Terdengar suara tawa dari seberang telepon sebelum panggilan itu ditutup. Raihan pun tersenyum senang. Kasus yang membelit Alin membuatnya marah karena pihak kepolisian tidak mau melepaskan Alin dan istrinya itu harus mendekam di penjara. Raihan minta bantuan pada Opa-nya dan Alin pun bisa jadi tahanan kota. Sementara itu, dia harus membuat jadwal lagi kunjungannya ke Bandung untuk mengajak Alin melihat bintang.
"Lelah juga jadi seorang suami," gumam Raihan.
***
Alin menghubungi Ayahnya dan menceritakan apa yang sudah terjadi pada dirinya. Dia juga bilang kalau kesal dengan sikap suaminya yang berbeda jauh dengan sikap Ayahnya dalam memperlakukan seorang istri.
Raihan yang hendak memberi tahu kalau ada harapan hukumannya di cabut, sangat terkejut mendengar obrolan istrinya itu dengan mertuanya.
__ADS_1
***
Raihan akan gimana, ya reaksinya? Saat mendengar obrolan Alin. Dua orang yang masih labil membina rumah tangga yang pastinya banyak cobaan. Bagaimana kisah mereka selanjutnya? Tunggu kelanjutannya ya! Jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kirim Bunga, Kopi, dan Vote juga. Like dan Komentar juga untuk penyemangat aku biar bisa berkarya terus.🤗🤗