
Asiah sungguh kesal dan marah kepada Rayyan saat ini. Seumur hidupnya baru sekarang dia merasa kecewa pada sosok yang selalu dianggapnya memberikan kebahagiaan dan kenyamanan. Jiwa labilnya sebagai remaja yang mudah terombang-ambing kini sedang melandanya.
"Aku benci sama kamu! Kamu nggak sungguh-sungguh cinta sama aku!" teriak Asiah lalu berdiri dari kursinya dan beranjak dari sana.
"Asiah, tunggu!" Rayyan berjalan cepat dan menarik tangan Asiah, tetapi gadis itu menepisnya dengan cepat dan kuat.
"Lepas! Aku nggak mau lagi meli—" ucapan Asiah terputus.
Rayyan pun langsung membekap mulut Asiah dengan sebelah tangannya dan yang sebelahnya lagi memeluk erat perut sang kekasih. Asiah berusaha melepaskan diri dari pelukan Rayyan, tetapi kekuatan pemuda itu jauh lebih besar darinya.
"Jangan ucapkan kata-kata itu lagi!" pinta Rayyan dengan suaranya yang bergetar. Pemuda itu merasakan hatinya begitu sakit saat gadis yang disukainya bicara sesuatu yang tidak dia inginkan.
"Percayalah. Kalau aku benar-benar mencintaimu. Aku di sini sedang menjalankan usaha, agar nanti setelah dewasa tidak malu saat ingin meminang kamu. Aku sudah punya usaha sendiri tanpa campur tangan keluarga aku. Aku ingin menjadi laki-laki yang layak untuk kamu nanti. Sehingga Ayah Yusuf tidak meragukan diriku ini sebagai pria yang pantas untuk dirimu," jelas Rayyan agar Asiah mau mengerti.
Posisi Rayyan memeluk Asiah dari belakang. Gadis itu menangis tergugu dan air matanya semakin banyak keluar dari netra indahnya. Tadi dia sudah berpikiran salah pada kekasihnya.
"Apa kamu saat ini membenciku?" tanya Rayyan pelan. Asiah pun menggeleng.
"Apa kamu masih menyukaiku?" tanya Rayyan dengan lembut. Asiah pun mengangguk.
"Jadi, kita sudah baikan?" tanya Rayyan dan melepaskan bekapan pada mulut Asiah. Gadis itu pun mengangguk.
"Terima kasih. Aku akan selalu menyukaimu, Aisah Sayang." Kini keduanya saling berhadapan dan beradu pandang.
__ADS_1
"I love you, Sayang!" lanjut Rayyan dengan tatapan yang hangat.
"I love you too, Aa Raya!" Asiah menarik kerah kerah baju Rayyan agar menunduk, sementara dia sendiri mengjinjitkan kakinya agar lebih tinggi.
Kini bibir kedua pemuda dan pemudi itu saling menempel. Asiah mempelajari ciuman dari Drakor atau Hollywood, yang sering dia tonton, sekarang dia praktekan sendiri.
Saat kedua sejoli sedang merasa di dunia antah berantah, orang tua mereka sangat shock. Begitu tiba di taman bunga bagian taman belakang, mereka di suguhi adegan romantis rate 18.
"Asiah!" teriak Yusuf dan Zulaikha.
"Raya!" teriak Fatih dan Mentari.
Mendengar nama mereka di teriaki, membuat kedua orang itu sadar dan melepaskan diri. Baik Rayyan maupun Asiah sangat terkejut, panik, dan takut (sama orang tua takut. Tapi lupa kalau Tuhan juga melihat apa yang sudah mereka lakukan).
Yusuf menarik Asiah agar menjauh dari Rayyan. Sementara itu, Fatih memberikan sebuah tamparan keras pada putranya. Mentari sebenarnya ingin merengkuh putranya itu dalam pelukannya. Bagaimanpun hati seorang ibu akan ikut terusik bahkan terluka, jika melihat putranya diperlukan seperti itu.
"Kalian berdua akan kami beri hukuman. Yaitu memperpanjang masa hukuman, sampai usia kalian dua puluh tahun, dilarang bertemu dan berkomunikasi, sampai kalian pantas untuk dinikahkan. Jika ketahuan melakukan pertemuan diam-diam, maka tidak akan ada pernikahan di antara kalian berdua," ucap Yusuf sambil melirik ke arah putrinya dan pemuda di depannya.
Baik Rayyan maupun Asiah sangat terkejut mendengar ucapan Yusuf. Keduanya langsung melakukan protes dengan keras. Keduanya tidak terima. Baru saja hari ini bertemu masa harus berpisah lagi.
"Tidak ada bantahan atau protes untuk hukuman kalian. Asiah kamu akan Ayah kirim ke tempat di mana Raya tidak akan bisa menemukan kamu," kata Yusuf saat melihat putrinya hendak melakukan protes lagi.
"Kenapa kalian semua kejam kepada kami?" Rayyan sangat marah.
__ADS_1
"Bukan kami yang memulai. Tetapi kalianlah yang memulai duluan. Apa kamu tahu dosa yang ditanggung oleh orang tua yang anaknya melakukan zina? Apa yang sudah kalian perbuat tadi sudah mendekati perbuatan zina." Yusuf meradang.
Rayyan lupa akan hal itu. Bukannya dulu dia sudah mempelajari ini di pesantren. Bukannya selama ini juga dirinya selalu menjaga diri. Dia selalu menjauhi hal-hal yang dilarang. Namun, semua itu jadi lupa jika berhadapan dengan Asiah. Apalagi Asiah kini berubah menjadi agresif. Maka, sudah terpikirkan olehnya untuk menikah muda saja. Untuk menghindari zina.
"Kenapa kalian tidak menikahkan kami saja?" tantang Rayyan.
"Kamu pikir menikah itu hanya permainan seperti rumah-rumahan. Akan banyak permasalahan yang di hadapi saat kalian saat menjalaninya. Secara fisik dan mental kalian berdua belum mampu menjalani kehidupan rumah tangga." Yusuf seakan berubah menjadi singa jantan yang bertugas menjaga anaknya.
Rayyan juga menyadari kalau dirinya, nanti belum tentu bisa menjalani kehidupan rumah tangga dengan kepelikkan problema-nya. Emosi usia remaja juga pastinya masih labil.
"Ayah, setuju dengan apa yang dikatakan oleh Ayah Yusuf untuk kalian berdua," lanjut Fatih sambil menepuk bahu Rayyan.
"Tapi, untuk tidak berkomunikasi, aku tidak setuju. Biarkan saja mereka menjalin komunikasi. Asal tahu batasannya," kata Mentari.
"Iya, aku juga setuju dengan apa yang dikatakan Tante Mentari," ucap Zulaikha. Bagaimanapun dia memahami bagaimana rasanya rindu ingin bicara dengan orang yang kita cintai dan sayangi.
"Baiklah. Aku tidak akan melarang komunikasi itu. Tapi, seandainya saja kalian melakukan pertemuan rahasia, meski sekali saja. Aku tidak akan memberikan restu selamanya untuk kalian," jelas Yusuf dengan tegas.
"Tapi, Yah." Asiah melirik ke arah Rayyan.
"Tidak ada bantahan lagi, Asiah. Kalau kamu mencintai dan menyayangi Raya. Maka, kalian harus ikhlas menjalani ini," ujar Yusuf.
Akhirnya, Rayyan dan Asiah mau tidak mau, harus menerima keputusan orang tua mereka. Asiah pun memberikan kado spesial untuk Rayyan sebelum dia pergi. Begitu juga dengan pemuda itu memberikan sebuah kotak musik yang berisi video dan foto milik mereka berdua. Seperti kotak musik yang pernah diberikan oleh William kepada Mentari dulu (Baca: Dipaksa Menikahi Cucu Mantan Suami).
__ADS_1
***
Mendekati Bab akhir. Bab ke depan kisah kehidupan Kakek Willi dan Bilqis setelah pernikahan mereka. Bagaimana kisah mereka selanjutnya? Tunggu kelanjutannya ya! Jangan lupa untuk selalu klik like, komentar, favorit, hadiah, dan Vote-nya juga. Dukung aku terus ya 🥰🥰