
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Setelah itu kasih like dan komentar. Semoga urusan kalian juga dimudahkan.
***
BAB 125
Rayyan masuk ke dalam kantor milik Mega dalam keadaan kacau. Rambut acak-acakan dan kemeja juga dikeluarkan tanpa jas kerjanya. Ditambah dua bocah yang ada di kedua tangannya.
"Kamu kenapa lagi?" tanya Mega.
"Titip anak-anak aku!" pinta Rayyan.
"Assalamu'alaikum, Om Mega yang ganteng dan Om Rain yang tampan dan baik hati," sapa gadis kecil yang memakai jilbab dan berseragam sekolah TK, memuji kedua pamannya.
"Assalamu'alaikum, Om Mega … Om Rain," sapa anak laki-laki yang berseragam sama seperti kembarannya.
"Wa'alaikumsalam Zarfran … Zafirah," balas Rain dan Mega bersamaan.
"Kebetulan kamu juga ada Rain. Asuh mereka berdua," kata Rayyan sambil menyerahkan tas kedua anaknya pada Rain.
"Selalu saja seperti ini. Aku juga sama sedang bekerja," sewot Mega yang sering jadi tempat penitipan anak-anak.
"Kamu kan sedang latihan untuk jadi seorang ayah. Jadi, pas banget. Anggap saja mereka anak-anak kamu sendiri.
"Raya, sebelum kamu pergi, tolong ruqyah aku dulu!" pinta Rain pada sepupunya itu.
"Hah, kenapa ingin di ruqyah?" tanya Rayyan tercengang.
"Aku takut kena gangguan jin wanita," jawab Rain malu-malu.
"Apa?" Rayyan dan Mega bersamaan sedangkan kedua anak kecil itu menutup kedua telinga mereka karena terkejut.
"Lagi-lagi semalam aku bermimpi dengan Rania. Aku takut kalau ada jin wanita yang menyerupai istriku," ucap Rain jujur.
Kedua orang laki-laki dewasa itu menahan tawanya. Mereka jadi tahu apa yang terjadi semalam pada sepupunya itu.
"Makanya, sudah aku bilang jangan suka tidur di rumah bunda. Tidur saja di rumah kamu sendiri," tukas Rayyan.
"Aku kalau rindu banget pada Nia, baru bisa terobati jika tidur di kamarnya," sahut Rain.
__ADS_1
'Iyalah akan terobati karena bertemu langsung dengan orangnya,' batin Mega.
'Gara-gara kamu, kami semua jadi sibuk antar jemput Nia, Jakarta-Yogyakarta,' gerutu Rayyan dalam hati.
"Ya anggap saja jin wanita itu adalah Nia yang asli dan datang untuk menyenangkan dirimu, Rain," ujar Rayyan sambil tersenyum jahil.
"Semoga Asiah ngidamnya tidak mau di sentuh sama kamu, Raya," balas Rain dengan berdoa sepenuh hati.
"Hei, aku akan perpanjang lagi waktu kepulangan Nia, kalau sampai Asiah tidak mau aku sentuh," sanggah Rayyan.
"Dua orang ini suka sekali buat aku pusing dengan masalah kalian. Pekerjaan aku tidak selesai-selesai!" teriak Mega.
"Om," panggil kedua anak Rayyan dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Ah, kalian jangan menangis. Yuk, kita ke Timezone!" ajak Mega sambil menghampiri kedua bocah itu dan menuntunnya pergi.
"Asik!" teriak kedua bocah kecil itu senang.
"Awas, loh, Rain. Kalau Asiah ngidam yang aneh-aneh aku akan buat kamu repot juga," kata Rayyan sebelum pergi.
"Hei, Raya. Tunggu!" teriak Rain.
"Meski sudah ruqyah mandiri, bayang-bayang Nia sulit hilang dan masih terasa nyata," lirih Rain dan pergi meninggalkan kantor milik Mega.
***
"Ameena … Amir! Ayo, cepat! Papi sudah menunggu di mobil." Alin menuntun kedua anak kembarnya yang berusia 3 tahun.
"Sayang, hati-hati. Biar anak-anak sama aku, saja," kata Raihan, lalu menggendong ke dua bocah yang wajahnya campuran antara istri dan dirinya.
"Terima kasih, ya, Mas." Alin mencium pipi suaminya yang berada di dua anak tangga di bawahnya.
"Hati-hati, Sayang. Perut kamu sudah besar," ucap Raihan.
"Hehehe, bayi kita kali ini suka sekali bergerak kesana-kemari," ujar Alin sambil mengelus perutnya yang memasuki usia 7 bulan, 4 bulan lebih tua dari kandungan Asiah.
"Mami … Papi, kita akan beltemu oma dan opa?" tanya gadis kecil berambut panjang dan di kucir dua.
"Iya, Sayang. Kita akan ketemu sama opa, oma, kakek, dan nenek," jawab Raihan dan mencium pipi putrinya.
__ADS_1
"Ho-le!" teriak kedua bocah yang ada di gendongan Raihan.
"Nanti, kalian akan bertemu juga dengan saudara-saudara kalian lainnya. Harus akur, ya? Tidak boleh berebut mainan. Kalau mau pinjam, harus minta izin dahulu, bilang boleh tidak meminjam mainannya, ya? Mengerti?" Alin jadi sosok ibu yang cerewet.
"Mengelti Mami!" sahut kedua anaknya.
***
Chelsea dan Rania sedang berada di mansion Hakim. Mereka sedang membicarakan pesta pernikahan Chelsea dan Mega yang akan di gelar bulan depan. Dulu, sebelum ke Amerika Chelsea dan Mega hanya bertunangan karena ibunya Mega sakit dan dirawat di rumah sakit karena kecelakaan. Sehingga mereka gagal menikah saat itu. Maka, keputusan diambil hanya pertunangan dan pernikahan akan dilangsungkan jika Chelsea sudah pulang ke Indonesia.
"Alin sedang dalam perjalanan pulang ke sini. Kamu berapa lama lagi koas-nya?" tanya Chelsea.
"Sekitar 8 bulanan lagi. Setelah itu aku akan pindah kuliahnya di Jakarta. Kasian sama Kak Rain," jawab Rania.
"Kasihan sama Kak Rain, atau kamu yang sudah nggak tahan hidup jauh dari Kak Rain?" goda Chelsea dengan senyum lebarnya.
"Apaan, sih! Nggak kali," bantah Rania sambil memutar bola matanya.
"Tapi, sepertinya pas hari nikahan aku, kalian pasti bertemu, 'kan? Pas itu saja jadi momentum bersatunya kembali kalian berdua," ucap Chelsea dengan alis yang di naik turunkan.
"Entahlah, aku ingin semuanya berjalan baik. Siapa tahu sebelum bulan depan aku dan Kak Rain bertemu. Apalagi sekarang Kak Rain sering bolak-balik Jakarta-Yogyakarta," kata Rania.
"Apa kalian pernah bertemu saat di Yogyakarta?" tanya Chelsea penasaran.
"Hampir. Untungnya Kak Shine duluan yang melihat aku. Sampai-sampai aku sembunyi dekat tong sampah," jawab Rania.
"Nggak menyangka kalau Kak Shine akan berjodoh dan menikah dengan Kak Amira," kata Chelsea sambil tertawa renyah mengingat kegilaan si kembar.
"Iya, Kak Shine yang Mother complax dan overprotektif sama mama Cantika, bisa juga berpaling hati pada kak Amira. Ini yang hebat adalah mak comblangnya." Rania tersenyum lebar.
"Iya-iya, kamu hebat. Kalau kamu tidak turun tangan mereka berdua tidak akan bersatu dan akan terus benci-benci tapi rindu. Yang bikin aku aneh itu adalah, kamu berhasil menyatukan cinta orang lain. Lah, kamu sendiri malah kucing-kucingan," ujar Chelsea.
"Itu karena aku punya alasan kuat melakuakan hal ini," balas Rania.
"Apa alasan kamu?" tanya Chelsea penasaran.
***
Apa alasan Rania sampai sekarang tidak bisa bersama di sisi Rain? Tunggu kelanjutannya, ya!
__ADS_1
Sambil menunggu Rain dan Rania up bab berikutnya, yuk baca juga karya teman aku ini. Ceritanya nggak kalah seru. Cus kepoin karyanya.