
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Terus kasih like dan komentar. Semoga hari kalian menyenangkan.
***
Bab 101
Saat tubuh Rania oleng akan terjatuh dengan cepat Rain menahan dengan sebelah tangannya. Sehingga, Rania tidak tersungkur ke lantai.
Jantung Rain seakan berhenti dan dia lupa bernapas saat tangannya menyentuh aset milik Rania yang empuk. Sungguh ini di luar dugaan Rain bisa menyentuh dada istrinya.
Selain terkejut karena hampir jatuh, Rania juga terkejut saat telapak tangan suaminya merem_as aset berharga miliknya. Ini pertama kalinya ada orang lain yang menyentuh aset kebanggaannya. Dibandingkan milik Alin apalagi Chelsea, milik Rania lebih montok. Ini turunan dari keluarga Mentari memiliki dada yang membusung.
"Kyaaaak!" Rania refleks menonjok Rain karena berani menyentuhnya.
"Awww, Nia … kenapa kamu menonjok aku?" Rain memegang hidung mancung miliknya yang kena pukulan Rania.
"Habis Kakak main pegang-pegang dada Nia, jadi itu refleks," kata Rania sambil menegakan tubuhnya dan menutupi dadanya pakai tangan.
Rania pun memakai kaus oblong yang kebesaran dan traning. Dia duduk bersandar di dada suaminya. Kedua orang itu masih menikmati indahnya bulan purnama. Mereka juga membicarakan hal yang terjadi pada mereka selama ini.
"Sejak kapan Kak Rain cinta sama Nia?" tanya Rania penasaran.
"Hmm, sejak kapan, ya? Aku tidak bisa memastikan kapan perasaan itu muncul. Kalau aku bilang sejak tidak mau dibenci atau di cuekin sama kamu, itu berarti sejak aku masih TK. Masa bocah segitu sudah tahu cinta-cintaan?" Rain tertawa geli.
"Kak Raya juga cinta sama Kak Asiah sejak mereka masih umur empat tahun lebih, lima tahun juga belum genap," balas Rania dan Rain pun mengiyakan.
__ADS_1
"Kalau rasa cinta itu muncul saat pandangan pertama, berarti aku sudah cinta sama kamu, saat kamu baru lahir. Ya Allah, ada apa dengan aku? Masa aku jatuh cinta sama bayi," kata Rain sambil menutup mukanya dengan sebelah tangannya karena yang sebelah lagi sedang merangkul Rania.
Rania tertawa terkekeh sambil mengusap sudut matanya yang sudah berair. Sejak tadi dia tertawa terus.
"Bukannya Kak Rain bilang saat itu kalau Kakak mau menikah denganku. Berarti Kak Rain melamar bayi baru berumur satu Minggu," ujar Rania masih terkekeh.
"Jangan ingatkan aku hal itu. Itu karena gara-gara Raya. Lagian kamu saat bayi itu sangat lucu sehingga aku sering mencium pipi kamu," aku Rian dan membuat Rania semakin merona pipinya.
"Lalu, sejak kapan Kak Rain melihat Nia sebagai seorang istri? Pastinya Kak Rain selama ini menganggap Nia seorang adik," tanya Rania sambil menatap serius ke arah suaminya.
"Sejak menikah juga aku sudah melihat dan mengakui kamu sebagai istriku. Hanya saja aku saat itu belum bisa membedakan mana rasa cinta dan mana rasa kagum," jawab Rain sambil mengusap pipi Rania yang kulitnya halus dan lembek seperti kulit bayi. Rasanya itu membuat Rain ingin selalu mencium bahkan kadang rasanya ingin menggigit pipi Rania.
"Memang apa bedanya rasa cinta dan kagum? Nia kira itu sama artinya," tanya Rania. Sejujurnya dia sendiri menyangka kalau itu sama saja, sama-sama suka. Mungkin, karena kagum jadi cinta atau karena cinta makanya dia jadi kagum.
"Aku pernah baca suatu artikel di koran baru-baru ini. Mendefinisikan perasaan itu agak susah. Ada rasa tertarik, kagum, suka, sayang, dan terakhir adalah cinta," kata Rain masih merangkul Rania.
"Kok, aku jadi ragu kamu cinta sama aku atau enggak," pungkas Rain.
"Ih, kok, Kak Rain bilang begitu," tukas Rania sambil menggelembungkan kedua pipinya. Dia menjadi kesal karena Rain meragukan perasaan cintanya.
"Akan aku katakan perbedaan rasa tertarik, kagum, suka, sayang, sama cinta. Nanti tinggal kamu sendiri yang menentukan perasaan kamu sama aku itu apa," ujar Rain dan menarik Rania agar duduk dipangkuannya dan saling berhadapan.
"Senyum, Ya Humaira." Rain mencolek hidung mancung Rania. Sehingga, Rania tersenyum terpaksa.
"Yang ikhlas, istri cantikku," kata Rain dan Rania pun tersenyum cantik.
__ADS_1
"Nah, begitu. Senyum cantik yang ikhlas untuk suami, biar dapat pahala." Rania pun mengangguk.
"Dengarkan, ya!" titah Rain. Keduanya saling bersirobok.
"Pertama itu rasa tertarik. Rasa tertarik biasanya muncul paling pertama kali. Rasa paling mendasar sebelum kamu bisa merasa kagum pada seseorang. Biasanya saat kamu mulai tertarik pada seseorang hal sekecil apa pun yang ada padanya, membuat kamu ingin tahu dan mengenal lebih jauh lagi tentang dia," jelas Rain.
"Rasa tertarik itu bukan hanya pada manusia saja. Karena saat Nia pertama kali melihat seblak langsung merasa tertarik. Makanya suka makan itu. Bahkan belajar membuat seblak agar rasanya enak," ucap Rania.
"Ya Humaira, rasa tertarik yang sedang aku jelaskan ini untuk perasaan seseorang atau manusia," balas Rain gemes. Rania akhirnya malah nyerengeh.
"Lanjutkan, Ya Habibi," goda Rania agar suaminya tidak cemberut.
"Rasa tertarik ini biasanya mudah sekali untuk pudar. Apalagi bila tidak dibarengi dengan kemauan untuk mengenal orang itu lebih dalam lagi. Jika, frekuensi pertemuan dan interaksi yang minim, rasa tertarik itu mungkin akan mengapung di sana. Menjadi sekadar rasa tertarik, tanpa bisa bertumbuh menjadi rasa kagum," lanjut Rain menjelaskan.
"Oh, gitu. Kayak Nia yang—" Rania langsung diam karena melihat tatapan tajam suaminya. Sepertinya Rain tahu kalau Rania pasti akan mencontohkan lagi ke makanan.
"Lanjut lagi, Ya Habibi." Rania tersenyum simpul.
"Nggak, ah. Aku mau tidur saja. Ini sudah malam," ucap Rain sambil berdiri dan Rania langsung mengalungkan tangannya di leher dan kedua kakinya melingkar di pinggang agar tidak jatuh.
"Nia," lirih Rain.
"Lanjutkan, Kak!" pinta Rania tanpa merasa bersalah. Apalagi dengan memasang wajahnya yang polos.
***
__ADS_1
Apa yang akan dilakukan oleh Rain dan Rania selanjutnya. Tungguin bab berikutnya, ya!