Duda Vs Anak Perawan

Duda Vs Anak Perawan
#Bilqis Menghilang (2)


__ADS_3

    Menghilangnya Bilqis membuat William agak terpukul. Ketika dirinya sudah memutuskan akan melabuhkan hatinya dan membina rumah tangga dengan gadis pemalu itu, malah harus kehilangan jejaknya.


     Sudah 2 bulan berlalu dan tidak ada tanda-tanda ke mana Bilqis pergi. Kamera cctv yang terakhir dilihatnya adalah pagi hari saat dia keluar apartemen. Dengan membawa satu tas kecil. Begitu juga di tempat kerjanya. Dia hanya bilang akan pergi berobat karena penyakit yang dideritanya.


     Selama ini William pulang pergi Amerika-Indonesia, dan masih mencari keberadaan Bilqis. Dia juga mendatangi Zakaria yang seolah terus menghindarinya. Bahkan kalau bertemu mereka selalu bertengkar dan kadang adu jotos dan berakhir dengan Zakaria masuk ke rumah sakit.


    Hari itu William ingin menenangkan dirinya. Saat Rania ingin di antar ke rumah Abah dan Ummi yang ada di kampung pelosok, dia pun menyanggupinya.


"Daddy, ingat ya! Di sana itu kita tidak boleh sembarangan bicara. Apalagi bicara yang kasar. Tidak boleh buang sampah sembarangan, terus kita bisa mandi di sungai. Nanti kita berenang, ya?" kata bocah yang baru masuk sekolah dasar itu.


"Iya. Daddy tahu. Terus mana Chelsea? Katanya dia mau ikut juga ke sana," tanya William sambil melihat ke arah pintu yang sudah terbuka.


    Rania yang dalam pangkuan William juga melirik ke arah pintu. Lalu menggerutu, "Dia itu suka sekali datang terlambat!"


    William hanya tersenyum geli saat melihat Rania memasang wajah cemberutnya. Diciumi nya pipi chubby milik anak perempuan Fatih itu dengan gemas.


"Kamu itu jangan suka marah-marah nanti cepat Tua," goda William sambil menggelitik perutnya sehingga Rania tertawa terpingkal karena geli.


***

__ADS_1


    Mereka menaiki mobil dengan membawa seorang sopir karena William harus menjaga kedua anak perempuan itu yang suka tertidur jika melakukan perjalanan jarak jauh.


     Tempat yang mereka datangi adalah pesantren Tahfiz yang dibangun oleh Abah dan Ummi orang tua Zahra. Dulu tempat itu masih kecil kini sudah semakin bertambah luas. Muridnya juga kini sudah ada sekitar 500-an orang.


    Kehadiran Rania sudah ditunggu-tunggu oleh Abah dan Ummi. Mereka selalu menganggap semua anak Fatih dan Mentari adalah cucu kandung mereka.


"Assalamu'alaikum, Abah … Ummi," teriak Rania begitu turun dari mobil dan diikuti oleh Chelsea. Mereka pun mencium tangan Abah dan Ummi dengan takzim.


"Wa'alaikumsalam, cucu Ummi yang cantik. Tumben nih, cuma sama Daddy saja kesininya. Yang lainnya nggak ikut?" tanya Mirna sambil mencium pipi Rania.


    Setiap Rania main ke sini, Chelsea juga suka ikut. Dia paling senang saat berenang di sungai. Main di sawah atau ladang, melihat hewan-hewan ternak yang banyak berkeliaran di sana. 


"Yang lain sedang sibuk. Rania ke sini mau menghibur Daddy yang sedang bersedih," bisik gadis kecil itu di dekat telinga wanita tua yang sedang membungkuk.


"Emangnya, kenapa? Daddy bisa sedih seperti itu?" tanya Mirna dengan berbisik juga.


"Mommy Bilqis hilang dan belum ditemukan," jawab Rania.


"Mommy Bilqis itu siapanya Daddy?" tanya Ummi lagi.

__ADS_1


"Hmmm, dia itu calon istrinya Daddy," jawab bocah berjilbab pink muda itu lagi.


***


    Rania dan Chelsea langsung bermain bersama anak-anak yang mondok di sana. Mereka semua adalah anak laki-laki karena pondok itu baru dibangun satu komplek asrama. Meski begitu anak-anak di kampung sana mau laki atau perempuan bebas main di saat jam-jam tertentu.


    Suara anak-anak yang sedang bermain dengan riang dan canda, terdengar di tanah lapangan yang berada di dekat komplek pondok. Rania  dan beberapa anak lainnya bermain petak umpet. Saat itu dia sedang giliran bersembunyi dan mengambil tempat di dekat batang pohon.


"Rania, kamu sedang ngapain di situ?" tanya William saat melihat bocah anak perempuan itu berjongkok di dekat pohon dan sesekali dia memperhatikan sekitarnya. Agar tidak ketahuan sama anak yang bertugas sebagai penjaga.


"Stttt! Diam Daddy! Nanti Rania ketahuan," jawabnya sambil berbisik kesal. 


    William pun tersenyum geli melihat muka cemberut dari anak mantan istrinya itu. Dia pun duduk kembali di kursi rotan yang ada di bawah pohon kersen.


     Rania yang berpindah tempat sembunyi karena nyaris ketahuan gara-gara William. Dia pun memicingkan matanya saat melihat seseorang yang memiliki siluet tubuh dari seseorang yang dia kenali. Seolah ada kekuatan yang mendorong dirinya untuk meneriakkan nama seorang.


"Mommy Bilqis!" teriak Rania dengan sangat kencang dan membuat William yang sedang minum memuncratkan air di dalam mulutnya.


***

__ADS_1


Benarkah itu Bilqis🥺🥺? Tunggu kelanjutannya kisah mereka selanjutnya ya! 😊😊 Jangan lupa kasih dukungan buat aku dengan kirim Bunga, Kopi, dan Vote 😍😍. Like dan Komentar untuk membuat aku semakin bersemangat untuk up bab berikutnya 🤗🤗🤗


__ADS_2