
Bisik-bisik orang-orang di ballroom hotel sambil melirik ke arah Rania, membuat Rain merasa tidak nyaman. Dia melirik ke arah istrinya yang asik sedang berbicara dengan kakak iparnya. Tiba-tiba Rain merangkulkan tangannya di pinggang Rania. Hal ini membuat gadis itu terkejut dan jantungnya berdebar kencang.
Mata indah Rania melirik kepada suaminya. Namun, wajah Rain biasa saja tetap datar dan lurus ke arah depan. Ini membuat Rania kesal, berbeda dengan kakaknya yang merangkul pinggang istrinya dengan tatapan penuh cinta dan senyum tampan menghiasi wajahnya.
Maka, Rania pun membiarkan Rain berbuat sesuka hatinya karena dia juga menyukainya. Apalagi saat hendak duduk, Rain menggeserkan kursi untuknya. Senyum Rania langsung mengembang.
"Terima kasih, Kak Rain." Rania tersenyum cantik dan itu malah memancing kegaduhan orang-orang di dekat meja mereka.
"Gila, semakin cantik saat tersenyum," celetuk laki-laki yang kursi mejanya berhadapan dengan Rania.
"Siapa tuh, perempuan cantik itu? Dia campuran bule, apa tinggal di Indonesia?" ucap salah seorang yang di belakang Rain.
"Nia … Kak Asiah! Kalian sudah datang ternyata," kata Alin begitu dia sampai meja mereka.
"Kita baru saja datang," balas Rania sambil mengarahkan pandangannya pada sahabat yang merangkap kakak ipar.
"Ini gara-gara Kak Ian, masa aku sudah capek-capek dandan cantik, malah disuruh hapus lagi. Sampai-sampai lipstik di bibirku habis," bisik Alin begitu sudah duduk di samping Rania.
"Kak Ian dan Kak Raya itu begitu menjaga pada istrinya. Takut kalau banyak yang mengincar kalian," ucap Rania dan itu jelas terdengar oleh Rain.
Mood Rain menjadi buruk. Bisik-bisik orang yang memuji istrinya, terutama kaum Adam, sudah membuat kesal dirinya. Kini dirinya terasa disindir oleh Rania.
'Apa aku kurang menjaga Rania dari para lelaki?' batin Rain sambil menatap ke arah istrinya.
"Aku ke toilet dulu, ya!" Rania berdiri dan diikuti oleh Rain.
"Kak Rain mau ke mana?" tanya Rania saat melihat suaminya juga ikut berdiri.
"Mengantar kami ke toilet," jawab Rain dengan wajah datar suara pelan.
"Apa?" teriak Rania saking terkejutnya.
"Ayo, bukannya kamu mau ke toilet," ajak Rain sambil menarik tangan Rania.
"Tapi, Kak—"
__ADS_1
"Aku tidak mau terjadi sesuatu padamu, saat sedang di toilet nanti. Bisa saja ada pria cabul di sana," potong Rain.
Mendengar perkataan suaminya barusan Rania langsung merangkulkan lengannya. Dia nggak suka berurusan dengan para laki-laki seperti itu. Dulu dia dan Chelsea saat masih sekolah dasar pernah berurusan dengan pria jenis begitu, untungnya ada Mega yang kadang ikut jalan-jalan dengan mereka.
"Kak, jangan nakut-nakutin aku begitu," kata Rania dengan sarat wajah ketakutan.
"Kenapa juga aku harus takut sama laki-laki cabul, sekarangkan aku bisa berkelahi," lanjut Rania sambil melepaskan rangkulan pada lengan suaminya.
Rain langsung merangkul pinggang istrinya sehingga tubuh mereka menempel lagi. Dia benar-benar tidak mau Rania lepas dari dirinya. Apalagi masih banyak laki-laki yang menatap ke arahnya.
***
Rayyan dan Asiah makan sambil saling menyuapi tentu saja sebelah tangannya merangkul pundak istrinya. Berbeda dengan pasangan Rain dan Rania, kedua pasangan ini saling menjaga pasangannya dari para predator lawan jenis.
Asiah sering mendapati banyak wanita berpenampilan seksi dan glamor menatap terang-terangan pada suaminya. Maka, dia menunjukan kalau laki-laki tampan ini miliknya. Bahkan Asiah tidak segan-segan mencium bibir suaminya. Tentu saja perbuatan dia membuat para wanita itu berdecih atau mendengus.
Berbeda dengan pasangan Raihan dan Alin. Keduanya terlihat santai, bahkan sedang makan dalam satu piring. Raihan menyuapi Alin dengan telaten, agar istrinya itu menghabiskan makanannya.
Pola pikir Alin yang masih polos, tidak terlalu menanggapi tatapan para wanita pada suaminya. Dia pikir itu hak mereka mau melihat siapa saja karena mereka punya mata.
***
Rania sudah selesai dan saat dia berjalan tanpa sengaja dia bertabrakan dengan seorang laki-laki. Sebelum terjatuh laki-laki itu memegang sebelah tangan Rania dan menariknya.
"Anda tidak apa-apa?" tanya laki-laki yang tubuhnya hampir sama dengan Rania sehingga wajah mereka saling berhadapan dan sejajar.
'Cantik banget!' kata laki-laki itu dalam hatinya.
"Iya, saya tidak apa," jawab Rania sambil mundur 2 langkah.
"Eh." Kedua pasang netra itu kembali saling bersiborok saat ujung jilbab Rania mengait pada kancing lengan laki-laki itu.
"Maaf," kata laki-laki itu.
"Iya, tidak apa-apa. Ini semua tidak disengaja. Biar aku saja yang melepaskannya," ucap Rania sambil memegang ujung jilbabnya.
__ADS_1
Tangan Rania pun berusaha membuka benang yang mengait pada kancing laki-laki itu. Sementara itu, pemuda itu menatap Rania dengan lekat dan penuh kekaguman.
Rain yang sedang bicara dengan rekan bisnisnya. Langsung meminta izin untuk undur diri. Dia dengan cepat berjalan ke arah Rania.
"Sayang, ada apa?" Panggilan dari Rain membuat tubuh Rania bergetar. Dia pun berhasil melepaskan benang itu, lalu menatap suaminya.
'Kak Rain, panggil aku 'Sayang', salah nggak?' tanya Rania dalam hatinya.
Laki-laki itu juga menatap ke arah Rain yang kini berdiri di depannya dan langsung merangkul bahu perempuan yang dipanggilnya 'Sayang' barusan. Kini kedua laki-laki itu saling menatap tajam seolah ada laser yang keluar dari mata mereka.
***
"Raya ... Asiah? Kalian juga datang ke pesta ini?" Terdengar suara orang yang tidak asing bagi keduanya.
"Sulaiman!" Rayyan dan Asiah panggil bersamaan. Keduanya terkejut, lagi-lagi bisa bertemu dengan sahabat kecilnya itu.
"Iya, kami tamu undangan. Kamu sendiri?" tanya Rayyan.
"Papa tiri aku masih kerabat jauh dari yang punya acara pesta ini," jawab Sulaiman.
"Oh, suatu kebetulan bisa bertemu dengan kamu," ucap Raihan sambil tersenyum kepada Sulaiman.
"Ian! Senang bisa berjumpa dengan kamu," balas Sulaiman dan mereka pun berpelukan.
"Ini pertemuan pertama kita, ya?" Raihan duduk kembali.
"Iya, kalau sama Raya dan Asiah, aku sudah beberapa kali bertemu," ujar Sulaiman diiringi senyum manisnya.
"Siapa dia?" bisik Sulaiman pada Rayyan karena Raihan sedang menyuapi kembali Alin.
"Ian, masa kamu tidak mau mengenalkan kekasih kamu pada sahabat kita," kata Rayyan.
***
Siapa laki-laki itu? Kalian akan tahu jika buka kembali bab para tokoh Panah Asmara Miliarder Muda. Di sana ada nama laki-laki yang akan jadi saingan Rain 😁🤭. Aduh Sulaiman ada di mana-mana, ya 😊 setiap Rayyan dan Asiah mendatangi suatu tempat. Bagaimana kisah mereka selanjutnya? Tunggu kelanjutannya ya! Jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kirim Bunga, Kopi, dan Vote juga. Like dan Komentar untuk membuat aku semakin bersemangat 🤗🤗.
__ADS_1
Sambil menunggu Rayyan dan Asiah up bab berikutnya. Yuk baca karya teman aku, yang pastinya nggak akan kalah seru loh ceritanya.