Duda Vs Anak Perawan

Duda Vs Anak Perawan
BAB 106. Menjerat Cinta Dengan Cilok


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Terus kasih like dan komentar. Semoga urusan kalian dimudahkan juga.


***


Bab 106


     Untuk mendapatkan perhatian Rania, Ibrahim pun membawa banyak makanan enak. Koki di rumahnya diperintahkan membuat jajanan seperti di pinggiran jalan yang banyak disukai oleh anak remaja.


"Nia, mau nggak ini?" Ibrahim menyerahkan satu kotak makanan cilok kuah bumbu sambal goang.


     Wangi dari kuah dan beragam isi yang ada di kotak makanan itu membuat Rania menelan ludahnya. Cacing dalam perutnya pun tiba-tiba menjerit minta itu.


"I-tu apa, Pak?" tanya Rania dengan mata masih tetap memandangi kotak makanan yang sedang dipegang oleh Ibrahim.


"Cilok goang. Cobalah pasti kamu suka!" titah Ibrahim dengan senyum menawannya.


"Sepertinya enak, ya?" tanya Rania dengan senyum kaku. 


"Ini untuk kamu. Rasanya enak, aku juga sangat suka," jawab Ibrahim.


"Boleh, nih? Masalahnya teman-teman aku yang lainnya pasti ingin memakannya juga," ucap Rania malu-malu.


'Cantiknya …meski sedang malu-malu seperti ini juga,' batin Ibrahim sambil memandangi wajah cantik Rania yang dihiasi oleh senyum.


"Kalau kalian suka, besok aku akan bawakan yang lebih banyak lagi," kata Ibrahim masih dengan senyumannya terpasang seakan ingin menjerat Rania dengan pesonanya.


"Bapak baik, deh. Guru paling top!" puji Rania disertai dengan senyum manis.


'Pacar orang boleh ditikung nggak, ya?' tanya Ibrahim dalam hati.


     Alin dan Chelsea yang sangat semangat makan cilok goang itu. Apalagi Alin sangat suka jajanan saat di kampungnya itu. Rasanya sangat mirip dengan yang dijual di sana.


"Kamu, jangan makan ini, ya, Nia! Bahaya kalau ada peletnya. Bisa-bisa nanti kamu jatuh cinta sama Pak Baim," bisik Alin.


"Iya, kamu cukup lihat kita saja makan. Aku sudah bilang sama Kak Rain kalau kamu ingin makan cilok goang. Katanya dia akan buatkan. Bersabarlah!" kata Chelsea dengan suaranya pelan juga.


"Enak banget kalian. Aku yang dikasih, kalian yang makan," sindir Rania karena tadi kedua sahabatnya itu bilang masalah pelet lewat makanan, jadinya dia takut kena pelet.


***


    Sementara itu, Rain sedang berada di dapur mansion Hakim. Dia sedang privat membuat cilok goang sama Bintang. Saat Chelsea bilang kalau Ibrahim merayu Nia dengan cilok goang, maka dia pun bilang akan membuatkan makanan itu untuk istrinya.


"Ulek nih, kencur, cabe rawit, bawang putih, campur garam," titah Bintang yang sedang memiriskan cilok-cilok yang sudah masak.

__ADS_1


"Kenapa nggak pakai blender saja, Kak?" Rain melihat layah di depannya.


"Biar rasanya lebih enak," balas Bintang yang tangannya sibuk meniruskan tahu yang dipotong segitiga.


"Jangan lupa tulangnya," ucap Rain karena tadi Chelsea mengirimkan foto cilok goang kuah itu ada potongan tulang. 


"Iya, mana mungkin lupa. Tuh, ceker sama sayapnya juga kakak masukan. Ini panci anti bocor jadi aman kalau kamu mau sekalian dimasukan semuanya ke dalam kuahnya. Biar meresap sampai ke dalam," kata Bintang dan diiyakan oleh Rain.


"Rain, tumben kamu main ke sini saat masih jam kerja?" tanya Ghazali yang baru turun dari ruang kerjanya.


"Sedang menjalankan sebuah rencana, Kak," jawab Rain sambil mengulek sambal goang.


"Rencana?" tanya Ghazali.


"Ya, buat menjerat Rania," balas Bintang dengan berbisik dan membuat Ghazali tertawa terkekeh.


"Ini mah menjerat cinta istri dengan cilok goang. Jad ingat sama Zulaikha kalau melihat cilok seperti ini," ucap Ghazali dan kali ini Bintang yang tertawa.


***


    Rain menjemput Rania sebelum bel berbunyi. Dia sengaja datang lebih cepat dan memberitahu istrinya kalau dia sudah menunggunya di depan pintu gerbang sekolah.


     Sambil menunggu Rania keluar dari pintu gerbang, Rain duduk di tempat bisa Rania duduk saat menunggu dirinya. Kini giliran dia duduk di sana dan menunggu sang pujaan hati.


"Langsung pulang, yuk!" ajak Rain setelah mencium kening Rania.


"Ayo!" balas Rania dengan semangat dan senyum lebarnya.


"Nia!" panggil seseorang yang punya suara ngebass.


     Rania dan Rain pun menoleh ke arah sumber suara. Terlihat ada Ibrahim berdiri di sana menatap keduanya.


"Ada apa, Pak?" tanya Rania.


"Tugas milik kamu yang dikumpulkan tadi tidak ada. Kamu harus buat ulang atau kamu tidak akan punya nilai," jawab Ibrahim.


"Apa? Kok, bisa!" pekik Rania terkejut.


"Kalau kamu tidak percaya, silakan cek saja sendiri!" titah Ibrahim.


     Mau tidak mau Rania harus mengulang lagi mengerjakan tugas itu kembali. Namun, Rain menyuruh istrinya mengerjakan tugasnya di kantin. Sehingga, dia juga bisa ikut masuk ke sana.


"Sayang, A~." Rain membawa cilok goang tadi dan menyuapi Rania yang sedang mengerjakan tugas. Rania pun membuka mulutnya dengan senang hati.

__ADS_1


     Tidak jauh dari mereka Ibrahim menatap tidak suka kepada keduanya. Niat ingin menahan sebentar Rania agar dia bisa memberikan hadiah. Sekarang malah harus menyaksikan adegan kemesraan dua sejoli yang saling menatap dengan penuh cinta.


***


"Sayang, kamu rencana kuliah mau ke mana?" tanya Raihan pada Alin saat dalam perjalanan pulang.


"Maunya di sini saja, biar nggak jauh-jauh dari Kak Ian," jawab Alin diiringi kedipan sebelah mata.


"Kalau kuliah di luar negeri, mau?" tanya Raihan.


"Hah, luar negeri?" ulang Alin terkejut.


"Iya. Mau ke Amerika atau Eropa?" tanya Raihan.


"Tidak ah, Alin cinta dalam negeri," jawab gadis itu.


"Kalau aku harus pegang sala satu perusahaan keluarga di luar negeri, apa kamu nggak akan ikut aku ke sana?" tanya Raihan.


     Mata Alin berkaca-kaca, dia tidak mau jika dirinya harus berpisah dengan suaminya. Trauma masa kecil yang harus berpisah dengan orang-orang yang disayanginya terbayang kembali.


"Kakak akan pergi?" tanya Alin dengan suaranya yang bergetar.


"Banyak perusahaan keluarga kita di luar negeri sana. Kasihan melihat Ayah pulang pergi dan keliling hampir sebagian belahan dunia hanya untuk mengecek secara langsung perusahaannya. Jika kamu mau kuliah di Benua Eropa atau Amerika, maka aku akan ambil perusahaan wilayah sana. Sebaliknya, jika kamu ambil kuliah dalam negeri, kita bisa bertemu satu bulan sekali," ucap Raihan.


     Alin diam dan mengalihkan pandangannya ke luar jendela mobil. Air mata yang sejak tadi tertahan di pelupuk itu pun akhirnya jatuh.


"Alin," panggil Raihan dengan lembut.


"Hn," balas Alin.


     Raihan melirik ke arah Alin yang masih memalingkan mukanya. Maka dia pun menepikan mobilnya, padahal rumah mereka sudah dekat.


"Ada apa?" tanya Raihan menyentuh tangan istrinya.


"Tidak," balas Alin berusaha agar suaranya terdengar biasa.


"Kamu nangis? Apa karena aku bilang mau bekerja di luar negeri?" tanya Raihan.


"Kakak suka jika berjauhan dengan aku?" Alin bukannya menjawab malah balik bertanya.


***


Nah Raihan bikin Alin nangis, bagaimana cara dia mendiamkan agar istrinya tidak menangis? Ibrahim mau nahan Rania malah romantisan di depan mata bersama Rain. Apakah dia punya ide lainnya lagi? Tunggu kelanjutannya, ya!

__ADS_1


__ADS_2