
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Lalu jangan lupa like dan komentar. Semoga kebaikan teman-teman dapat mendapatkan balasan yang lebih baik.
***
BAB 84
"Alin," kata Raihan datar dan masih menatapnya tajam.
Alin tahu kalau saat ini perintah suaminya itu harus turuti. Jadinya, dia pun mulai melemparkan buah jambunya.
"Tangkap, Kak!"
Raihan tahu akan kebiasaan istri kecilnya itu. Melemparkan buah hasil petikannya dan dia yang akan menangkapnya di bawah.
"Hal, dapat." Raihan menangkap satu persatu buah jambu yang dilemparkan oleh Alin kepadanya.
"Nek Widuri, titip." Setiap buah yang dia tangkap maka akan dikasihkan ke Widuri yang berdiri di sampingnya.
"Sudah, Kak. Bersiap-siaplah!" ujar Alin dengan kedua tangan memegangi dahan yang berada di atas.
"AUOOOO!" teriak Alin sambil mengayunkan badannya dan melompat ke bawah.
Raihan yang sudah terbiasa akan kelakuan istrinya seperti ini, dengan mudah dapat menangkap tubuh Alin yang kecil baginya. Alin pun sudah jatuh ke dekapan suaminya.
"Wow, hebat! Sepertinya seru," ucap Rania saat melihat sahabatnya itu dengan mata berbinar.
"Nakal, ya!" Raihan memencet hidung Alin dengan gemas.
"Suamiku hebat seperti biasanya," balas Alin sambil menyeringai lebar.
Tadi Rain dan yang lainnya sedang berada di dalam rumah pun akhirnya ke luar karena mendengar teriakan Raihan. Betapa terkejutnya Rain saat tahu istrinya juga sedang berada di atas pohon.
"Nia … turun, Sayang!" teriak Widuri sambil menengadahkan kepalanya, kedua tangannya penuh dengan buah jambu yang berhasil dipetik oleh Alin tadi.
"Astaghfirullah, Nia!" Mega terperanjat karena terkejut saat melihat sepupunya juga sedang berada di atas dahan pohon.
"Nia, turun!" titah Rain.
"Oke. Tangkap ini!" Rania melemparkan beberapa jambu yang berhasil dia petik tadi kepada Rain dan Mega. Kedua pemuda itu pun berhasil menangkap semua jambu itu.
"Bagus. Tangkap aku, Kak!"
"Apa?" Rain tidak mengerti.
__ADS_1
"AUOOOO!" Rania pun melakukan hal yang sama seperti Alin tadi. Mengayunkan tubuhnya dan melompat ke bawah.
"Saya~ng!" teriak Rain panik karena Rania tiba-tiba melompat ke arahnya.
Berbeda dengan Raihan yang hampir tiap hari kerjanya menangkap tubuh Alin yang suka melompat dari atas pohon. Rain ini baru pertama kali menangkap tubuh Rania yang melompat dari atas pohon yang tinggi.
Hap!
Rain berhasil menangkap tubuh Rania. Namun, keduanya terjatuh ke tanah karena Rain yang dalam posisi tidak siap dalam menahan tubuh Rania.
"Aduh~" ringis Rain merasakan sakit di belakang tubuhnya.
Rania juga terkejut karena dalam bayangannya, Rain akan bisa menangkap tubuhnya seperti kakaknya tadi bisa menangkap Alin. Dia yang mendengar suara ringisan dari suaminya, mengarahkan wajahnya ke arah samping.
CUP
Baik Rain maupun Rania bersamaan memalingkan mukanya, sehingga terjadilah ciuman tidak sengaja itu. Kedua orang itu tidak menyangka kalau akan terjadi hal seperti ini.
'Lembut,' ucap kedua orang itu dalam hati masing-masing.
"Hm! Mau sampai kapan kalian berciuman di tempat umum begini dan di depan orang lain," kata Raihan yang melihat Rain dan Rania yang terjatuh ke tanah.
Rania yang tersadar kalau saat ini mereka sedang berciuman langsung bangun dan menjauhkan dirinya dari Rain. Jantung dia berdisko ria, ini pertama kalinya di mencium seseorang di bibirnya.
Tidak terima dengan kejadian barusan yang sudah merenggut keperawanan bibirnya. Rania pun memukuli Rain.
"Kak Rain jahat!" teriak Rania sambil memukuli dada bidang laki-laki itu.
"Kenapa?" tanya Rain tidak mengerti sambil mencoba menahan kedua tangan Rania yang dipakai untuk memukuli dadanya.
"Sudah mencuri ciuman pertama aku. Kembalikan. Ayo, kembalikan!" jawab Rania.
Semua orang yang ada di sana diam saja menyaksikan Rania berteriak kesal. Apalagi kedua tangannya sudah bisa ditahan oleh Rain. Sehingga gadis itu menginjakan kakinya ke kaki Rain.
Jantung Rain yang sejak tadi bertalu-talu seperti genderang perang. Kini ditambah dengan terasa ada ribuan kupu-kupu yang menari dalam perutnya. Senyum lebar pun tiba-tiba tercipta di wajah tampan, tetapi datar itu.
"Barusan itu tidak sengaja. Jadi, tidak dianggap berciuman," sanggah Rain.
"Tidak. Tetap saja bibir kita sudah saling menempel. Pokoknya kembalikan ciuman pertama aku. Aku nggak mau berciuman sama orang yang tidak mencintaiku. Aku mau berciuman dengan orang yang aku cintai dan mencintaiku!" tegas Rania.
Mendengar kata-kata Rania, ada rasa sakit yang dirasakan oleh Rain. Dia merasa marah, kesal, dan cemburu.
"Baiklah aku akan kembalikan ciuman pertama kamu," kata Rain.
__ADS_1
CUP
Rain kembali mencium bibir Rania dengan pelan dan lembut. Lagi-lagi kedua orang ini merasakan adanya sengatan listrik yang menjalar pada tubuh mereka. Rain yang merasakan kelembutan struktur bibir milik istrinya malah melakuakan lebih dari sekedar menempelkan bibirnya. Dia melu_mat bibir Rania. Kedua orang itu memejamkan mata, sehingga tidak melihat kalau sekarang ada 7 pasang mata yang menyaksikan langsung adegan romantis dan manis itu.
Perbuatan Rain membuat Rania juga lupa segalanya. Dia tanpa sadar membalas ciuman dari suaminya. Dia menyukai ini, sampai-sampai lupa segalanya. Keduanya baru berhenti ketika napas mereka terasa habisan oksigen.
"Jangan marah lagi. Aku sudah kembalikan ciuman pertamamu itu," bisik Rain dan Rania pun menganggukan kepalanya.
Orang-orang yang ada di sana masih menatap mereka dengan beragam ekspresi dari wajah mereka. Raihan menatap dengan kesal, Alin menatap dengan terpesona, Chelsea menatap mereka dengan tak percaya, Mega menatap mereka dengan iri, sedangkan ketiga orang lansia menatap mereka dengan terkejut.
***
Asiah semalam menginap di rumah mertuanya. Dia yang merindukan suaminya tidak mau pulang ke rumah saat tahu kalau Rayyan tidak ada di rumah orang tuanya.
"Asiah, kamu mau tinggal dulu di sini?" tanya Mentari.
"Iya, Bunda. Sampai Rayyan pulang dari menjalankan misi dari Ayah," jawab Asiah dengan nada sendu.
"Mas, kira-kira Raya berapa lama akan pergi?" tanya Mentari kepada Fatih.
"Kata Yusuf sampai perusahaan itu normal kembali. Mudah-mudahan saja tiga tahun sudah kembali normal, kalau melihat kemampuan Raya. Kalau orang biasa pastinya tujuh sampai sepuluh tahunan," jawab Fatih.
"A-pa? Tiga tahun. Maksudnya Raya dan aku akan berpisah selama tiga tahun, Yah," tanya Asiah dengan tatapan terkejut dan terpukul.
"Itu paling cepat, Asiah. Asal jangan sampai sepuluh tahun," jawab Fatih.
"Tidak, Ayah. Asiah tidak mau berpisah dari Raya begitu lama. Asiah akan ikut! Asiah mau bersama Raya," kata Asiah sambil menangis.
"Kamu selesaikan dulu kuliahmu. Agar Raya tidak semakin kecewa kepadamu," ucap Fatih.
'Asiah, maafkan kami. Kami melakukan semua ini demi kebaikan kamu,' batin Fatih dan Mentari.
***
Setelah makan malam Asiah kembali mengurung diri di kamar suaminya. Dia sangat merindukan kehadiran lelaki yang dicintainya itu. Begitu kuat rasa rindunya sampai dia memakai baju dan celana training milik suaminya dan memeluk bantal milik Rayyan.
"A, aku kangen!" kata Asiah bermonolog. Dia menangis sampai jatuh tertidur.
Mentari dan Fatih merasa kasihan kepada menantu mereka. Keduanya pun menghubungi Yusuf dan membicarakan tentang kejadian barusan.
***
😍😍 Akhirnya Rain bisa juga mencium Rania. Asiah sudah tahu rasanya bagaimana ditinggalkan oleh orang yang dicintai dan rasanya sakit. Bagaimana kisah mereka selanjutnya? Tunggu kelanjutannya ya!
__ADS_1