
Raihan pulang setelah waktu makan siang. Saat menanyakan kabar Alin pada Bi Mar, ternyata istrinya itu belum keluar kamar juga. Terpaksa dia harus menemuinya langsung.
"Alin, buka pintunya! Kalau dalam hitungan ketiga tidak juga dibuka, aku akan mendobraknya," teriak Raihan setelah mengetuk pintu itu.
"Satu." Tidak ada jawaban dari dalam.
"Dua." Masih sepi tidak ada reaksi apapun.
"Tiga!" Alin benar-benar tidak memberikan respon akan teriakan suaminya.
Raihan pun membuka pintu kamar tidur Alin. Terlihat istrinya itu sedang tengkurap di lantai beralaskan karpet. Tangannya memegang handphone dan saat layarnya disentuh terlihat tulisan "you lose". Alin tertidur saat main game.
"Dasar bocah ingusan. Bikin orang khawatir saja," kata Raihan sambil membopong tubuh istrinya ke kasur.
"Coba tiap hari banyak diam kayak gini. Mulut nggak dipakai untuk bernyanyi, dan ngoceh sama si Meong. Kan kelihatan cantik," gerutu Raihan sambil memandang wajah Alin yang sedang tertidur pulas.
Raihan pun ikut berbaring di sana, tubuhnya terasa lelah dan berat. Sudah hampir sebulan dia kerja keras terus. Masalah pekerjaan kantor dan mencari barang bukti untuk kasus yang menimpa istrinya.
"Tidur dulu lima belas menit," kata Raihan sambil memejamkan matanya.
Lima menit kemudian ….
Alin memeluk tubuh Raihan dan dijadikan guling olehnya. Raihan tetap bergeming.
Sepuluh menit kemudian ….
Raihan memeluk balik tubuh Alin. Jadinya mereka saling berpelukan.
Satu jam kemudian ….
__ADS_1
Kedua pasang bola mata itu terbuka dengan cara perlahan. Sambil mengumpulkan nyawa, mereka terdiam dan saling memandang. Alin mengedip-ngedipkan matanya, dia takut salah lihat kalau di depannya ada laki-laki berwajah tampan. Diulurkan tangannya pada wajah Raihan.
"Coba suami aku diam kayak begini. Tidak suka cerewet pasti tampan seperti ini," kata Alin dengan suara seraknya khas bangun tidur.
"Suami kamu tampan?" tanya Raihan sambil menahan tawanya.
"Tampan, eh salah. Dia sangat … sangat tampan, tapi sayangnya dia itu cerewetnya minta ampun," jawab Alin dan membuat Raihan mengkerut kan keningnya.
"Kalau dia sangat cerewet bungkam saja mulutnya. Nanti dia pasti akan diam," balas Raihan.
"Hm, benar juga. Tapi aku takut kualat. Kata Ayah dan Bunda aku harus menghormatinya dan menjaga nama baiknya. Bagaimanapun juga Kak Ian itu suami aku," kata Alin dengan mata tertutup agak lama lalu terbuka lagi.
"Apa kamu mencintai suami kamu itu?" tanya Raihan ingin mengorek informasi mumpung keadaan Alin dalam keadaan sadar dan tidak sadar.
"Hm … sepertinya aku belum mencintainya. Tapi, aku harus belajar untuk mencintainya. Begitu kata ayah. Agar rumah tangga aku nantinya bisa bahagia bersama-sama," jawab Alin. Lalu memejamkan mata lagi dan melanjutkan tidurnya.
***
Alin melewatkan jadwal makan siangnya juga. Dia baru bangun tidur sore hari. Saat Bi Mar membangunkan untuk sholat dhuhur pun, Alin cuma bilang sedang datang bulan dan lanjut tidur lagi.
"Alin, ayo kita makan!" ajak Raihan saat berpapasan di tangga.
"Ini masih siang, eh sore," balas Alin sambil melirik ke arah jam gadang yang terlihat dari sana.
"Kamu belum makan siang. Ayo, aku masakan nasi goreng seafood kesukaan kamu," ajak Raihan sambil menuntun Alin ke arah dapur.
Raihan dan Alin pun masak nasi goreng bersama. Raihan menyiapkan dan meracik bumbunya sedangkan Alin menyiapkan dan membersihkan bahan-bahannya. Keduanya menjalankan tugas masing-masing dengan diam.
"Kamu duduklah! Biar aku yang memasak," titah Raihan saat meletakan wajan di atas kompor gas.
__ADS_1
Alin pun duduk dan memperhatikan bagaimana suaminya memasak. Dia dulu sering melihat Ayah atau Bundanya memasak untuk orang yang dicintainya. Hal yang paling menyenangkan adalah saat salah seorang dari mereka memeluk tubuh pasangannya dari belakang.
"Kak, maafkan aku." Alin memeluk tubuh Raihan dari belakang. Isak tangis dia mulai terdengar.
Betapa terkejutnya Raihan saat tiba-tiba Alin memeluknya dari belakang. Tangan yang sedang sibuk mengaduk pun, terhenti seketika.
"Kenapa meminta maaf?" tanya Raihan sambil menolehkan kepalanya. Namun, hanya pucuk kepala istrinya yang terlihat.
"Karena aku sudah menjadi anak yang pembangkang. Tidak menurut pada suami," jawab Alin.
"Anak? Bukannya itu … seharusnya, istri? Kamu kan istri aku bukan anak aku?" Raihan membalikan badannya dan mengangkat kepala Alin.
"Kapan aku bilang anak? Aku kan istri kamu, Kak!" bantah Alin.
"Tadi kamu bilang "anak", bukan "istri"!" balas Raihan.
"Aku nggak bilang "anak"!" Alin masih berkilah.
Keduanya pun kembali adu mulut. Momen romantis meniru orang tuanya gagal total. Gara-gara kata "anak".
***
Miranda melemparkan handphone miliknya ke arah tempat tidur setelah mendapat kabar dari pengacaranya. Ada kemungkinan dia bisa dilaporkan balik oleh Raihan. Barang bukti yang valid sudah didapatkan oleh pihak lawan.
"Dasar bocah kampung! Berani-beraninya mau melawan Miranda Saldono. Kita lihat saja nanti, pembalasan aku." Miranda sangat marah sampai tangannya mengepal, mata merah melotot, dan gigi bergemeletuk.
***
Alin dan Raihan sama-sama keras kepala nggak mau pada mengalah 😁. Kira-kira apa yang akan dilakukan oleh Miranda? Tunggu kelanjutannya ya! jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kirim Bunga, Kopi, dan Vote juga. Like dan Komentar untuk membuat aku semakin bersemangat 🤗🤗.
__ADS_1