Duda Vs Anak Perawan

Duda Vs Anak Perawan
BAB 135. Rania Akan Melahirkan


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Lalu, kasih like dan komentar. Semoga hari kalian menyenangkan dan sehat selalu.


***


BAB 135


     Saat ini Rain malah yang merasa mulas, tetapi bukan ingin buang air besar. Cantika pun membuatkan teh tawar hangat untuk ketiga laki-laki yang sejak tadi memegang perutnya yang terasa mulas.


"Kenapa malah kalian yang mulas bukan Nia yang akan melahirkan?" Mentari mengelap keringat di kening Fatih.


"Kalian ini lucu sekali," lanjut Cantika sambil mengusap peluh di kening dan leher Alex.


"Aku dulu merasa seperti ini saat melihat kamu melahirkan Rain. Tapi, ini terlalu lama rasanya," lirih Alex.


"Benarkah itu, Pa?" tanya Rain.


"Iya, melihat Mama kamu yang kesakitan saat hendak melahirkan, papa juga ikut merasa mulas," jawab Alex.


"Jangan-jangan kalian juga sama karena Nia mau melahirkan kalian juga merasakan mulas itu," kata Cantika.


"Maafkan aku, Kak. Aku harap hal ini tidak terjadi pada kalian semua," ucap Rania sendu.


"Ini bukan salah kamu, Sayang." Rain membawa Rania ke dalam pelukannya.


"Aduh, Allahuakbar." Rania mengusap-usap perutnya.


"Sebaiknya kita ke rumah sakit saja sekarang, yuk!" ajak Rain.


"Papa setuju."


"Ayah setuju."


     Alex dan Fatih bicara bersamaan. Mereka pun langsung membawa segala perlengkapan kelahiran bayi Rania. Baik Fatih maupun Alex sama-sama menjinjing tas milik calon bayi dan milik Rania. Mereka pun berangkat dengan mobil milik Fatih yang memuat orang banyak.


***


"Mom, perut aku mulas dan rasanya ingin mengejan," kata Chelsea yang sedang bersandar pada Mega.


"Beb, apa kamu akan melahirkan sekarang?" Mega menjadi panik.


"Apa mulasnya sudah semakin sering teras" tanya Bintang.

__ADS_1


"Iya, Mom," jawab Chelsea.


"Kita ke rumah sakit sekarang!" ajak Angkasa.


"Aku telepon Bang Gaza, biar dia siapkan tempat untuk Chelsea. Ini maju sepuluh hari dari perkiraan dokter," ucap Bintang sambil menelepon Ghazali.


    Chelsea di antar oleh Mega, Angkasa, Bintang, dan Paris. Mega duduk bersama Chelsea dan mengusap-usap lembut perut istrinya. Angkasa yang membawa kendaraan, dia adalah orang yang paling tenang dalam menghadapi situasi apapun.


***


     Rayyan mendatangi rumah mertuanya karena Asiah menelepon dan meminta membujuk anak-anaknya. Dia pun sengaja membawa boneka Winnie the Pooh kesukaan Zafirah dan Robot Transformers kesukaan Zarfran.


"Lihat, papa bawa apa?" Rayyan menyerahkan dua paper bag. Satu ukuran sangat besar dan satunya lagi berukuran standar.


"Apa ini, Pa?" tanya kedua anak berusia lima tahun lebih itu.


"Buka, saja!" titah Rayyan sambil tersenyum.


     Kedua bocah itu bersemangat membuka kado pemberian papanya. Saat anak-anak sedang sibuk, Zulaikha dan Yusuf menyelinap pergi dari rumahnya. Jadwal penerbangan mereka malam nanti sebenarnya. Hanya saja saat ini adalah kesempatan untuk mereka agar bisa meloloskan diri dari jeratan cucu-cucunya.


     Asiah tersenyum pada suaminya. Rayyan tahu bagaimana membuat orang-orang yang disayangi dan dicintainya olehnya itu tersenyum bahagia.


"Terima kasih, A," ucap Asiah dan memberikan kecupan sekilas mumpung anak-anaknya sedang fokus membuka kado.


"Zahra sedang bersama siapa?" tanya Rayyan karena anak bungsu tidak kelihatan.


"Zahra ditinggal di rumah bersama nenek. Tadi saat hendak tidur, dia rewel mungkin karena akan tumbuh gigi," jawab Asiah.


"Kalau begitu sebaiknya kita cepat pulang," ajak Rayyan. 


"Tuh, si kembar yang sulit untuk diajak pulang dari tadi," tutur Asiah sambil berdiri dan menghampiri kedua anaknya yang sudah berhasil membuka kadonya.


     Akhirnya, Rayyan bisa membawa pulang kedua anaknya. Mereka lupa akan acara bulan madu kakek nenek mereka.


***


    Raihan yang sedang berada di kantornya mendapatkan kabar kalau adiknya akan melahirkan. Dia malah merasa tidak tenang. Pikirannya pun seakan kacau tidak bisa fokus.


"Bos, ini ada-ada saja. Rania itu kan sudah punya suami yang akan mendampingi dan memberikan dukungan padanya," ucap sang asisten.


"Entahlah, pikiran aku saat ini selalu teringat pada Nia. Apalagi dia akan melahirkan anak kembar tiga. Aku jadi merasa ikutan panik. Aku mau ke rumah sakit saja, ah. Daripada di sini tidak tenang hati dan pikiran aku," ucap Raihan sambil beranjak dari kursinya.

__ADS_1


"Dasar si bos itu sister complex, apa sewaktu istrinya melahirkan dia juga seperti itu?" gumam laki-laki berkacamata itu.


***


"Alin, Sayang. Kita ke rumah sakit, yuk!" ajak Raihan setelah masuk ke rumahnya.


"Mau apa ke rumah sakit, Mas?" tanya Alin yang sedang sibuk bermain dengan Ali sambil mengawasi si kembar Ameena dan Amir bermain.


"Nia, katanya mau melahirkan," jawab Raihan sambil mencium kening Ameena dan Amir bergantian.


"Apa?" Alin terkejut.


     Mereka pun pergi ke rumah sakit tanpa anak-anak. Untungnya mereka menurut saat disuruh untuk tidur siang. 


***


     Setelah diperiksa oleh dokter Rania harus melahirkan dengan cara cesar karena posisi bayi yang saling tumpang tindih. Tidak bisa melahirkan secara normal seperti Cantika dan Bintang.


"Ya Habibi, jika aku meninggal saat melahirkan nanti. Jaga dan besarkan anak-anak kita dengan penuh kasih sayang," ucap Rania.


"Semua akan baik-baik saja, Ya Humaira," balas Rain dengan mata yang berkaca-kaca. Dia merasa sangat sedih saat mendengar ucapan istrinya barusan.


"Umur itu siapa yang tahu. Justru aku ingin meninggal saat berada di jalan yang benar. Bukankah semua orang mengharapakan itu," kata Rania sambil mengusap air mata di pipi Rain.


"Kamu akan baik-baik saja. Anak-anak kita juga akan baik-baik saja," balas Rain dan mencium tangan Rania.


"Aku sangat bahagia bisa menjadi istrimu, Kak. Bisa memberikan keturunan untuk kamu juga. Allah itu terlalu sangat baik kepadaku," ucap Rania dengan senyum manis menghiasi wajahnya.


"Iya, Allah itu sayang kepada semua hamba-Nya," pungkas Rain dengan menatap mata indah milik Rania yang selalu menjerat dirinya.


"Aku ikhlas dan ridho, jika ini adalah akhir hidupku. Maafkan aku yang selama ini sudah membuat Kak Rain dan semua orang kesusahan. Aku juga minta maaf karena sudah menjadi istri yang tidak baik, untuk Kak Rain. Kakak maukan memaafkan segala dosa-dosaku padamu?" pinta Rania.


"Iya, bukannya kita sudah memaafkan semua yang sudah terjadi di antara kita," kata Rain dengan berlinang air mata.


"Kamu laki-laki paling baik yang aku kenal, Kak. Terima kasih sudah menjadi pendamping hidupku. Sampaikan maaf aku untuk semua orang," titah Rania kepada suaminya.


"Tuan, Nyonya Rania akan kami bawa ke ruang operasi," kata seorang perawat yang datang ke ruangan itu.


     Orang-orang yang menunggu di depan tadi pun memberikan dukungan kepada Rania. Saat akan masuk ke ruang operasi, Rain meminta izin kepada dokter agar dia bisa ikut serta ke dalam.


***

__ADS_1


Apakah Rania akan baik-baik saja atau akan terjadi sesuatu kepadanya? Lalu, bagaimana dengan Chelsea yang sama-sama akan melahirkan? Tunggu kelanjutannya, ya!


__ADS_2