
Raihan dan yang lainnya sudah sampai ke bumi perkemahan. Kedatangan mereka membuat heboh para murid dan guru. Selain bisa melihat wajah-wajah bening yang menyegarkan mata. Makanan yang dibawa oleh mereka juga membuat semua orang senang.
"Kakak," panggil Rania dan berlari ke arah Raihan. Namun, dengan cepat Alin menghalangi dan mendorong Rania ke arah Rain.
"Kak Ian, milikku! Sana sama suamimu!" kata Alin sambil berbisik dan itu membuat Rania cemberut.
"Dasar kakak ipar kejam!" desis Rania dan itu terdengar boleh Rain.
"Kak Ian, kenapa tidak bilang-bilang kalau mau ke sini lagi?" tanya Alin membongkar rahasia mereka.
"Apa? Emang kapan kamu ke sini, Ian?" tanya Mega yang berdiri di samping Raihan.
"Diamlah," bisik Raihan dengan telinga yang memerah karena malu.
"Apa semalam Kak Ian ke sini? Setelah menelepon, Nia?" tanya Chelsea yang sedang membantu Mega membereskan makanan yang akan dibagikan ke semua orang.
"Wah, ada yang nggak bisa menahan rindu, nih!" goda Mega pada sepupunya.
Sementara Mega sedang asik menggoda Ian dan kepolosan Alin. Rain mengajak Rania menjauh dari mereka. Keduanya duduk di kursi kayu yang berada di bawah pohon yang rindang. Rain membawakan banyak makanan kesukaan Rania. Dia berharap kalau istrinya akan senang.
"Ini, makanlah!" titah Rain pada istrinya.
"Aku sedang tidak bisa makan makanan yang pedas, Kak. Perut aku sakit," balas Rania dengan tangan di letakan di perutnya.
"Kenapa? Mana yang sakit? Kita ke dokter, ya!" Rain menyentuh perut Rania. Dia takut kalau istrinya malah jatuh sakit lebih parah kalau dibiarkan.
"Ini sakit perut karena baru datang bulan dan tadi pagi Nia makan snack yang sangat pedas," aku Rania dengan malu-malu.
__ADS_1
"Pulang saja, ya. Aku akan minta izin kepada guru kalau kamu sedang sakit," kata Rain dan berdiri hendak melangkah, tetapi Rania menghentikannya.
"Jangan, Kak. Besok juga Nia akan pulang," ucap Rania sambil menggenggam jemari Rain.
"Kamu ini suka sekali membuat aku khawatir." Rain kembali duduk dan menyandarkan kepala Rania ke dadanya.
"Begini sebentar ya, Kak." Rania melingkarkan tangannya ke perut Rain. Dia merasa lebih baik saat memeluk tubuh suaminya.
"Hm." Rain mengusap kepala Rania.
***
Alin dan Chelsea membagikan makanan pada orang-orang yang ada di bumi perkemahan. Akbar yang sebagai salah seorang panitia kegiatan kemah ini juga ikut membantu. Akbar terlihat dekat dengan Alin, bahkan mereka sesekali bercanda tawa saling melempar kata-kata yang membuat orang ikut tertawa juga.
Melihat keakraban Alin dan Akbar membuat Raihan lagi-lagi teringat mimpinya semalam. Dia sangat kesal dan marah melihat Alin tertawa dan bercanda dengan laki-laki lain.
Langkah kaki Raihan yang lebar membuatnya dengan cepat sampai pada istrinya. Kedatangan Raihan yang tiba-tiba di sana malah menimbulkan masalah baru.
"Kakak Raihan ternyata sangat tinggi," kata mereka lagi sambil mengerubungi suami Alin itu.
Raihan yang hendak menghampiri Alin, malah terhalang sama para murid-murid perempuan. Meski Raihan berusaha keluar dari kerumunan para siswi itu tetap saja nggak bisa.
Alin yang melihat Raihan sedang bersama dengan teman-teman perempuannya. Dia merasa sangat marah dan kesal. Dugaan Alin kalau suaminya itu sangat suka dikelilingi oleh wanita.
"Awas kamu, Kak!" pekiknya sambil menatap tajam pada Raihan.
"Ada apa Alin?" tanya Akbar sambil medekat pada Alin dan mereka sangat dekat sekali. Keduanya terlihat seperti menempel.
__ADS_1
Raihan melotot pada Alin yang terlihat dimatanya sedang dipeluk oleh laki-laki lain. Rasa cemburu langsung menyusup ke dalam hatinya.
***
Setelah berhasil membebaskan diri para murid perempuan yang ingin berfoto bersama, akhirnya Raihan bisa sampai juga ke tempat Alin. Namun, istrinya itu tidak mengacuhkan dirinya. Alin malah sibuk dan terus berbicara dengan Akbar dan teman-teman lainnya.
"Alin," panggil Raihan.
"Hn. Maaf Kak, aku sedang sibuk," balas Alin sambil tangannya sibuk menulis sesuatu di buku kecil bergambar tunas kelapa.
"Oh, sibuk? Sibuk apaan?" tanya Raihan dengan nada sindiran.
"Kelihatannya aku sedang sibuk apa?" Alin malah balik bertanya.
"Sibuk pacaran dengan laki-laki lain," jawab Raihan dengan nada kesal.
"Apa maksud Kakak?" Alin menghentikan menulis terjemahan sandi morse. Dia menatap tajam pada Raihan.
"Sepertinya kamu mengabaikan perkata aku," desis Raihan dengan mata yang tajam.
"Perkataan yang mana?" Alin pun merasa kalau tidak pernah melakukan kesalahan.
"Jangan dekat dengan laki-laki lain!" balas Raihan dengan berbisik ditelinga Alin.
***
Raihan cemburu nih, apa yang akan terjadi selanjutnya? Tunggu di bab berikutnya, ya! Jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kirim Bunga, Kopi, dan Vote juga. Like dan Komentar untuk membuat aku semakin bersemangat 🤗🤗.
__ADS_1
Sambil menunggu Raihan dan Alin up bab berikutnya. Yuk baca karya teman aku. Tentu saja ceritanya nggak kalah seru. Meluncur ke karya Author Pipihpermatasari.