
"Raya .... Gawat!" teriak Raihan begitu masuk ke rumah.
"Ada apa?" tanya Rayyan dengan nada malas.
"Gawat. Asiah pindah sekolah!" teriak Raihan.
Mendengar ucapan kembarannya tentang Asiah, Rayyan hanya diam saja. Dia masih asik memainkan gamenya.
"Kamu kok diam saja?" tanya Raihan.
"Lalu aku harus apa?" Rayyan balik bertanya.
"Ya ... gimana gitu. Kalau kamu nggak bisa bertemu dengan Asiah lagi bagaimana?" tanya Raihan sambil menggoyangkan tangan saudara kembarnya.
"Terus aku harus bagaimana? Bukannya sekarang aku ini sedang dihukum tidak boleh keluar rumah!" bentak Rayyan lalu berdiri dan pergi.
Sebelum pergi dia mengedipkan sebelah matanya kepada Raihan. Dia memberikan kode.
"Bunda, Raya mau tidur. Jangan bangunkan sampai sore," kata Rayyan.
"Sayang, makan siang dulu!" titah Mentari.
"Sudah makan salad buah satu cup besar," balas Rayyan sambil menaiki lift.
Mentari menatap sendu pada putra bungsunya. Kini dilihatnya si sulung sedang mengeluarkan satu cup salad buah dan dua cup es krim berukuran sedang.
"Bun, Ian mau main ke rumah Asiah. Dia hari ini sudah pindah sekolah kata Bu Hawa," ucap Raihan sambil memasukan salad dan es krim ke dalam cooler bag.
"Lebih baik suruh Asiah ke sini saja. Bunda juga kangen padanya," ujar Mentari.
"Tidak. Ian sudah janji kemarin akan main ke rumah Kak Zulaikha," kata Raihan.
Mentari memasang wajah cemberut. Dia merasa bosan karena Rayyan juga jadi pendiam. Seharian ini kalau ditanya cuma jawab singkat.
***
Rayyan memakai baju milik Raihan dan bergaya seperti saudara kembarnya. Sementara Raihan memakai baju milik Rayyan dan berdandan kebalikannya. Dia berubah menjadi kembarannya.
"Awas jangan dekat-dekat dengan Bunda. Nanti dia akan tahu kalau kita bertukar peran," ujar Rayyan.
__ADS_1
"Iya. Aku tahu."
Kedua anak itu turun ke lantai satu. Rayyan (Raihan) pergi ke dapur mengambil minum dan snack. Sementara Raihan (Rayyan) ke depan rumah naik mobil pergi ke rumah Zulaikha di antar oleh sopir.
***
Meja tempat makan William, kini sudah tersedia banyak menu makanan. Bilqis dan Asma saling pandang, bingung mau makan yang mana? Semua terlihat enak.
"Makanlah!" titah William.
Saat hendak makan, handphone milik Yusuf berbunyi. Tertera nama 'Istri Tercinta' memanggil. Yusuf hanya tersenyum melihat mana si Gadis Nakal kini sudah berubah.
"Assalamu'alaikum, Sayang."
[Wa'alaikumsalam, A~ang ganteng suaminya Neng Zulaikha. Mau tanya, makan di mana?"]
"Di restoran Nusantara, Sayang. Kenapa?" Yusuf tersenyum bahagia saat mendengar nama panggilan untuknya.
[Oh, ya sudah kalau begitu. Jangan bicara kalau ada ulat bulu mendekat!]
Yusuf malah tertawa terkekeh. Istrinya itu benar-benar membuatnya gemas.
"Iya, Sayang. Kan sudah ada kamu yang cantik dan seksi yang selalu setia menunggu aku di rumah," kata Yusuf dan bisa di dengar oleh ketiga orang dewasa lainnya.
[Wa'alaikumsalam]
Si Mantan Duda pun memasukan gawai miliknya pada saku. Lalu, melanjutkan makannya.
"Zulaikha?" tanya William.
"Iya," jawab Yusuf.
"Wah, kayaknya dia posesif banget ya sama kamu?" tanya William lagi sambil tersenyum jahil.
"Dia itu hanya perhatian saja. Namun, saat waktu aku senggang dia nggak akan membiarkan aku untuk tidak memperhatikan dirinya. Ada saja ulahnya yang membuat aku harus tertuju padanya," balas Yusuf sambil memasukan makanannya.
Bilqis sudah tidak kuat untuk menahan air matanya. Maka dia pun memutuskan pergi ke toilet sebentar. Di sana dia menangis merasakan sakit hati karena cintanya bertepuk sebelah tangan.
Padahal dulu dia yakin kalau laki-laki tadi itu menyukai dirinya. Namun, gara-gara ibu tiri yang menyuruh Bapaknya menolak pinangan dari laki-laki pilihan hatinya. Semua jadi kacau dan dia merasakan sakit hati untuk yang ke berapa kali karena rasa cintanya itu.
__ADS_1
Setelah membasuh wajah dan mengelap dengan tisu. Bilqis pun kembali ke mejanya dan melanjutkan makannya.
William diam-diam memperhatikan keadaan Bilqis. Dia tahu kalau gadis pendiam itu sudah menangis saat di toilet.
"Mister William terima kasih untuk traktiran makanannya. Ini sungguh nikmat, apalagi aku bebas makan yang manapun aku mau," ucap Asma.
"Terima kasih, Mister. Semoga rezeki Anda semakin banyak dan lancar," kata Bilqis sambil menangkupkan tangan di dadanya.
"Sama-sama. Semoga hari kalian menyenangkan," balas William.
***
Zulaikha dan Maharani duduk di sofa sambil mencari-cari dekor yang menurutnya bagus saat pernikahan nanti. Bel pun berbunyi dan dibuka oleh Maharani.
"Siapa, Mi?" tanya Zulaikha sambil melihat tamu yang datang bersama wanita paruh baya itu.
"Assalamu'alaikum, Kak Zulaikha." Senyum menawan di perlihatkan bocah campuran bule.
"Kamu?" tunjuk Zulaikha.
"Aku Ian," balas Rayyan.
"Tumben seorang diri. Kemana satu lagi si bocah tengik itu?" tanya Zulaikha sambil celingukan melihat ke arah belakang, tetapi hanya ada satu anak yang ada di sana.
"Raya? Maksudnya?" tanya bocah itu lagi.
"Iya," jawab Zulaikha.
"Dia kan sedang di hukum di dalam rumah tidak bisa pergi kemana-mana," balas Rayyan.
"Jadi, beneran bocah itu di hukum?" Zulaikha menyeringai.
'Dasar calon mertua nggak baik hati. Senang sekali tahu aku sedang dihukum,' kata Rayyan dalam hatinya.
"Tapi kok aura kamu rasanya kayak Rayyan, ya?" Zulaikha menatap intens.
Rayyan menelan ludahnya, 'Semoga nggak ketahuan.'
***
__ADS_1
Kira-kira Rayyan akan ketahuan nggak, ya? William simpati tuh melihat Bilqis lagi sedih. Bagaimana kisah mereka selanjutnya? Tunggu kelanjutannya ya! Yuk kasih dukungan dengan kirim Bunga, Kopi, dan Vote juga. Penyemangat untuk aku kasih Like dan Komentar. 🤗🤗🤗🤗