Duda Vs Anak Perawan

Duda Vs Anak Perawan
#Dipecat


__ADS_3

     Yusuf duduk di sofa yang ada di ruang kerja Sarah. Atasannya itu malah menangis sesenggukan.


"Katakan kalau itu bohong!" ucap Sarah setengah berteriak.


"Aku tidak sedang berbohong," balas Yusuf dengan tenang.


"Mana mungkin kamu mau menikahi bocah tengil itu." 


"Karena aku mencintainya! Kita saling mencintai."


     Sarah menatap Yusuf dengan tajam dan terpancar akan luka di hatinya. Dia sungguh sangat kecewa dan marah.


"Kamu tidak melakukan kejahatan seksual pada bocah itu 'kan? Sehingga kamu merasa harus bertanggung jawab."


"Astaghfirullahal'adzim. Sarah, kamu pikir aku laki-laki macam apa? Aku tidak mungkin melakukan hal sebrengsek itu!"


"Apa hebatnya bocah itu dibandingkan aku!"


"Perasaan itu tidak bisa paksakan, Sarah. Aku menyukainya, Asiah juga menyukainya, dan dia juga menyukai aku dan Asiah. Kita sama-sama saling menyukai."


"Tapi, aku juga mencintaimu, Yusuf. Dari dulu aku begitu sangat mencintaimu."


"Itu hak kamu. Aku tidak bisa melarang kamu. Begitu juga dengan diriku. Hak aku untuk mencintai Zulaikha. Dan hanya dia."


     Tiba-tiba pintu Sarah terbuka dan menampilkan sosok laki-laki yang sering di panggil Pak Presdir Fathur. karena jabatan dia Presiden Direktur Makmur Jaya. Kakak kandung dari Sarah atau Papanya Baim.


"Ada apa ini? Kenapa kamu menangis, Sarah?" tanya Fathur.


     Ditanya seperti itu oleh atasannya membuat Yusuf bingung mau jawab apa? Jadi, lebih baik dia diam saja. Biarkan saja Sarah yang bicara.


"Katakan Sarah! Kenapa kamu menangis?" tanya Fathur lagi.


"Yusuf ...," jawab Sarah mencicit.


"Yusuf ada apa ini?" Presdir Fathur menatap tajam ke arah Yusuf.


"Aku mau mengajukan cuti," balas Yusuf dengan tenang.


"Lalu?" 


     Kali ini Yusuf merasa bingung bagaimana menjelaskan kejadian yang terjadi di antara mereka. Tadi Yusuf mau mengajukan cuti selama 8 hari karena mau pergi ke Amerika. Awalnya Sarah merasa sangat senang mendengar pujaan hatinya mau berlibur ke Amerika karena ada urusan keluarga. Dia juga berniat ingin ikut. Namun, begitu dia bilang mau ketemu dengan orang tua Zulaikha dan berniat meminangnya. Sarah malah menangis dengan histeris.


     Fathur yang begitu menyayangi Sarah, sangat tahu kalau adiknya itu begitu tergila-gila kepada duda beranak satu ini. Banyak pujian yang sering dilontarkan oleh adik kesayangannya tentang laki-laki yang menjabat sebagai Direktur Keuangan di perusahaan milik keluarganya.

__ADS_1


"Jadi kamu memilih bocah bau kencur itu daripada Sarah, adikku?" Suara Fathur melengking memenuhi ruang kantor CEO MAKMUR JAYA.


"Perasaan seseorang itu tidak bisa kita paksakan. Hati ini mau berlabuh pada siapapun, kadang kita tidak tahu. Dan kini aku sudah melabuhkan perasaan cinta dan sayangku untuk Zulaikha," ucap Yusuf masih dengan nada tenang.


"Kamu itu sombong sekali, ya!"


"Maaf, Tuan. Aku tidak tahu dibagian mana sombong yang ada pada diriku ini."


     Fathur merasa sangat kesal terhadap Yusuf. Memang benar kalau perasaan itu tidak bisa dipaksakan. Namun, cinta bisa hadir dengan seiring berjalannya waktu karena sudah terbiasa dengan kehadiran seseorang di sisinya.


"Baiklah. Pilih Sarah dan kamu masih bekerja di sini. Atau pilih bocah itu dan kamu hengkang dari perusahan ini!" tawar Fathur.


"Kakak!" teriak Sarah sambil berdiri meninggalkan kursi empuk miliknya.


     Yusuf sangat terkejut mendengar ucapan atasannya itu. Dia tidak menyangka kalau semuanya harus berakhir seperti ini.


"Baiklah. Aku mengerti ...," kata Yusuf.


"Apa pilihan kamu, Yusuf?"


"Aku memilih masa depanku. Zulaikha!"


     Yusuf pun berdiri. Kini berhadapan dengan Fathur.


"Tidak! Kakak aku mohon jangan seperti itu!" teriak Sarah sambil berjalan ke arah Fathur.


"Baiklah. Aku ucapkan banyak terima kasih karena selama bekerja di sini, aku merasa nyaman dan menyenangkan. Sampai jumpa. Surat pengunduran diri akan aku buat sekarang!"


"Tidak, Yusuf. Aku mohon jangan seperti ini!" Sarah beralih menarik lengan Yusuf sambil menangis.


"Kita masih bisa berteman. Seperti biasanya," ucap Yusuf sambil mencoba melepaskan tangan Sarah yang terasa begitu erat merangkul lengannya.


"Tapi, aku tidak bisa hidup tanpa kamu?"


"Sarah! Apa kamu tidak punya harga diri? Biarkan saja laki-laki itu!" bentak Fathur sambil menarik tangan Sarah, sehingga terlepas.


     Yusuf pun keluar dari ruang kantor milik Sarah. Dia menuju ruang kerjanya dan membuat surat pengunduran diri. Semua pekerjaan hari juga sudah selesai. Jadi, tidak ada beban lagi akan tugas miliknya.


***


"Om, jadi 'kan besok pergi ke Amerika?" tanya Zulaikha pada Yusuf yang sedang memasak.


"Hm," jawab Yusuf dengan senyuman.

__ADS_1


     Yusuf belum membicarakan tentang dirinya yang dipecat kepada Zulaikha. Dia juga langsung mengirimkan lamaran pekerjaan ke berbagai perusahaan tadi sore setelah pulang dari perusahaan milik keluarga Sarah.


"Jadi, yang akan pergi itu aku, Om, dan Yunus?" Zulaikha bicara dengan diiringi senyum manisnya.


     Alis Yusuf mengkerut saat mendengar nama Yunus di sebut-sebut. Dia tahu kalau Yunus itu adalah bodyguard yang menjaga Zulaikha.


"Kenapa dia harus ikut?" tanya Yusuf tidak suka.


"Kita tidak boleh berduaan. Nanti akan ada setan yang bisik-bisik agar kita melakukan dosa. Jadi, bawa saja Yunus sekalian, toh dia juga sudah di gaji untuk menjaga aku," jawab Zulaikha.


     Mendengar jawaban kekasih hatinya, Yusuf malah terkekeh geli. Biasanya gadis nakal itu paling suka kalau hanya berduaan saja tanpa ada orang lain yang akan mengganggunya.


"Kamu sudah tambah dewasa, ya sekarang!" Yusuf mencolek ujung hidung Zulaikha.


"Iya, dong! Aku 'kan sudah mau menikah," balas Zulaikha dengan senyum lebarnya.


"Hm. Seandainya aku mengajak tinggal di kampung nanti, apa kamu mau?"


"Tentu saja, mau!"


"Seandainya aku jatuh miskin, apa kamu akan pergi meninggalkan aku dan mencari laki-laki lain?"


"Harta aku banyak. Jangan takut aku akan pergi meninggalkan dirimu, Om. Aku tidak butuh harta banyak. Asalkan bisa hidup bersama denganmu baik itu dalam keadaan suka maupun duka. Aku akan selalu setia berada di sisi kamu, Om."


"Tapi, aku laki-laki yang punya harga diri. Tidak mau memakai harta istriku. Justru aku ingin mencukupi kebutuhan istriku dengan harta yang aku punya."


"Berapapun uang yang diberikan oleh Om untuk aku nanti, aku akan terima dengan ridho."


     Kedua sejoli itu bicara saling berhadapan dengan jarak wajah yang tidak lebih dari satu jengkal. Bahkan tubuh mereka nyaris menempel. Netra juga mereka saling menjerat. Yusuf lupa akan masakan yang sedang dia buat. Sampai ada suara yang mengejutkan mereka.


"Ayah dan Mama Zulaikha jangan dulu berciuman! Tidak boleh itu dosa!" pekik suara Asiah yang melihat mereka dari posisi belakang tubuh Zulaikha. Dia mengira Yusuf dan Zulaikha sedang berciuman.


     Yusuf dan Zulaikha langsung saling menjauh. Muka keduanya memerah.


"Astaghfirullahal'adzim. Masakan aku ... untung tidak gosong!" Yusuf dengan cepat mematikan kompor gasnya.


"Asiah ... kita tidak sedang berciuman," kata Zulaikha sambil menghampiri bocah kecil itu.


"Mama Zulaikha nggak bohongkan? Aku disuruh sama Nenek dan Abah untuk mengawasi Ayah dan Mama Zulaikha. Jangan sampai kalian berciuman lagi," ujar Asiah sambil menatap penuh selidik.


"Mama Zulaikha nggak bohong! Bohong itu 'kan dosa, Sayang!" Zulaikha kini selalu di curigai melulu sama Asiah.


"Sini, Mama Zulaikha cium kamu saja!" Zulaikha menciumi pipi gembul Asiah sampai anak kecil itu memekik kegelian.

__ADS_1


***


Bagaimana kisah mereka selanjutnya? Tunggu kelanjutannya ya! Jangan lupa untuk selalu klik like, komentar, favorit, hadiah, dan Vote-nya ya. Dukung aku terus. Terima kasih.


__ADS_2