
"Hei, Zulaikha! Apa yang kamu masukkan?" Yunus melihat Zulaikha memasukan banyak snack ke dalam troli.
"Apa kamu tidak bisa melihat? Jelas-jelas itu makan. Masih saja nanya." Zulaikha bersungut-sungut.
"Tapi 'kan niat kita belanja saat ini adalah bahan untuk masakan buat kita makan selama satu Minggu," tukas Yunus.
"Ya, tinggal ambil saja sayuran, buah, dan daging, atau telur yang mau di beli. Toh, aku juga yang bayar semuanya." Zulaikha sewot dan kesal sama Yunus yang sejak siang terus mengganggunya.
"Dasar majikan nggak ada—" ucapan Yunus terpotong.
"Apa? nggak ada apa?" Zulaikha membelalakan matanya.
"Nggak ada habisnya tuh uang!" jawab Yunus asal.
Setelah selesai belanja karena tanggung mendekati waktu magrib. Mereka memutuskan makan malam di restoran yang ada di dalam mall itu.
Selesai sholat Magrib, keduanya baru pulang. Zulaikha membiarkan Yunus membawa semua keresek belanjaan miliknya dan di masukkan ke dalam mobil di jok belakang.
"Dasar majikan nggak punya perasaan! Bantu bawa sedikit, kek. Ini barang segini banyak aku tenteng semua," gerutu Yunus.
Zulaikha mendengar gerutuan sang bodyguard. Dia malah tertawa dalam hati. Merasa puas karena berhasil membuatnya kesal.
***
Handphone milik Zulaikha berdering. Dia melihat siapa yang menghubunginya. Melihat nama orang yang dicintainya tertera di sana.
__ADS_1
"Assalammualaikum, Om." Sapa Zulaikha dengan nada riang seolah sudah lupa dengan masalahnya tadi pagi.
[Wa'alaikumsalam. Zulaikha, kamu sekarang berada di mana?]
"Aku sedang berada di jalan. Kenapa?" Zulaikha menjawab sekaligus bertanya.
[Asiah nungguin kamu dari tadi. Dan sekarang lagi merajuk mengunci diri di kamar.]
"Oh, ya ampun! Kenapa bisa begitu?"
[Hm ... aku rasa ada kesalahpahaman sedikit.]
"Oh. Aku sebentar lagi sampai apartemen."
***
"Assalammualaikum, Asiah! Ini Mama Zulaikha." Panggil Zulaikha sambil mengetuk pintu beberapa kali.
Yusuf berdiri di samping Zulaikha. Dia berharap kalau Asiah mau membuka pintunya. Terdengar suara kunci terbuka dan di balik pintu Asiah mengintip untuk memastikan kalau yang memanggilnya itu adalah Zulaikha.
"Mama ...!" Asiah yang mata, hidung, dan bibirnya bengkak langsung menghambur ke dalam pelukan Zulaikha.
"Kenapa?" tanya Zulaikha sambil menggendong Asiah dan berjalan menuju sofa.
"Mama Zulaikha tidak marah kan sama Ayah?" tanya Asiah sambil melihat pada Zulaikha.
__ADS_1
Zulaikha melirik ke arah Yusuf. Lalu berkata, "Kenapa Mama Zulaikha harus marah sama, Ayah Yusuf?" tanya Zulaikha balik.
"Kata Adam, kalau Papa dan Mama saling bertengkar mereka akan berpisah dan tidak akan bersama-sama lagi. Asiah nggak mau kalau Ayah dan Mama Zulaikha berpisah," jawab Asiah.
Zulaikha ingin tertawa mendengar perkataan Asiah. Sebab, dia dan Yusuf bukan suami istri. Sekarang masih dalam tahap pengejaran untuk meraih gelar itu.
"Ayah dan Kak Zulaikha, tidak akan berpisah, Sayang. Kita akan selalu bersama," kata Yusuf terjeda sesaat, "karena, Zulaikha sudah Ayah anggap adik."
Awalnya hati Zulaikha merasa melambung tinggi dan dalam hitungan detik juga langsung di banting ke bawah. Terasa sakit.
"Jadi, istri beneran juga nggak apa-apa kok, Om. Aku rela. Aku ridho." Zulaikha membalas dengan penuh senyuman menggoda.
"Pikirkan dulu sekolah kamu!" Yusuf menyentil jidat Zulaikha dan si gadis mengaduh.
"Kali-kali dicium ini kening. Jangan di sentil terus!" gerutu Zulaikha sambil mengusap keningnya. Yusuf malah tertawa.
"Itu keinginan kamu!"
"Tentu saja, Om. Dengan senang hati aku rela keningku di cium setiap hari," balas Zulaikha sambil tersenyum cantik.
Lagi-lagi Yusuf menyentil kening Zulaikha, tetapi dengan pelan. Membuat si gadis tersenyum senang.
***
Bagaimana kisah mereka selanjutnya? Tunggu kelanjutannya ya! Jangan lupa untuk selalu klik like, komentar, favorit, hadiah, dan Vote-nya juga. Dukung aku terus. Terima kasih.
__ADS_1
Mampir juga ke karya teman aku. Bagus loh ceritanya.