
Sisi kemanusiaan Bilqis muncul saat mendengar kisah hidup Maria yang sudah 2 tahun hidup luntang-lantung di jalanan. Dia merasa iba pada wanita yang pernah merawatnya saat kecil itu. Namun, dia juga tidak mungkin membawanya ke apartemen milik William.
"Bilqis, sekarang kamu tinggal di mana? Maaf dulu kami menjual rumah kamu untuk melunasi utang," tanya Maria dengan suara serak karena menahan tangisannya.
"Bilqis ikut menumpang di tempat teman, Bu," jawab Bilqis jujur.
"Ibu kangen sama kamu. Apa kita tidak bisa bersama seperti dulu lagi?" tanya wanita paruh baya itu sambil menatap Bilqis dengan matanya yang basah oleh air mata.
Ditatap seperti itu oleh wanita yang pernah menghianatinya, tetap saja merasa iba. Dia menjadi dilema antara ingin membantunya atau membiarkannya.
"Bilqis akan carikan Ibu tempat tinggal yang layak. Tapi, Ibu harus bekerja untuk menyambung hidup Ibu sendiri. Nanti sesekali Bilqis akan menjenguk Ibu, kalau punya waktu senggang," kata Bilqis akhirnya.
"Bilqis terima kasih! Ibu merasa sangat senang," ujar Maria sambil memeluk tubuh gadis berbaju setelan kantor itu.
"Bilqis, siapa dia?" tanya seorang laki-laki begitu dia keluar pintu.
"Kenalkan saya Ibunya Bilqis!" jawab Maria langsung dan tersenyum ramah.
"Oh. Apakah Anda, Ibu tirinya Bilqis yang dulu sudah menjualnya pada rentenir itu?"
"Pak Zaka, Anda tidak sopan berbicara seperti itu!" kata Bilqis dengan nada marah.
"Maaf, habis dulu kan kamu menderita banget. Semua teman di kantor tahu kisah itu," ujar Zakaria.
Maria menatap tidak suka kepada laki-laki yang berpenampilan necis itu. Namun, senyum tipisnya tercipta saat dia melihat Zakaria menatap Bilqis dengan penuh cinta dan damba.
'Rupanya kamu suka sama Bilqis. Dan cinta kamu bertepuk sebelah tangan.' Maria mencemooh Zakaria di dalam hatinya.
"Apa Pak Zaka tahu tempat kontrakan yang murah, aman dan nyaman?" tanya Bilqis.
"Hm, ada. Tapi jauh dari sini. Tempat itu dekat dengan tempat pemakaman umum. Tapi banyak sekali orang di sana, jangan takut. Di sana banyak kontrakan dengan harga murah karena tempatnya juga kecil. Ya, rata-rata mereka itu adalah yang memiliki penghasilan kecil. Kalau nggak salah enam ratus ribu sebulan. Cuma satu ruang besar dan toilet. Jadi dapur, kamar tidur, ruang tamu itu satu tempat. Mau?" Zakaria melirik ke arah Maria.
__ADS_1
"Ibu terserah Bilqis saja. Karena kamu yang akan membayar itu kan?" Maria giliran menatap Bilqis.
"Ya. Itu juga nggak apa-apa. Asal bisa jadi tempat tinggal Ibu," jawab Bilqis.
***
William kini semakin bimbang, maka dia konsultasi kepada Alex. Dari dulu hanya kepada Alex lah dia bisa terbuka tanpa ada yang ditutup-tutupi.
"Bagaimana menurut kamu?" tanya William pada laki-laki berwajah semakin berkarisma seiring bertambahnya usia.
"Kasihan juga Bilqis kalau kejantanan kamu tidak bisa berfungsi," jawab Alex sambil menyeringai geli.
"Enak saja! Ini masih berfungsi dengan baik. Jika aku membayangkan … dia," balas William pelan.
"Siapa tahu milik kamu akan berfungsi dengan baik jika Bilqis sudah menjadi istri kamu," kata Alex dengan serius. Dia jadi merasa kasihan pada Bilqis jika menikahi laki-laki setengah impoten begini.
"Yang aku takutkan adalah aku tidak bisa memberikan kepuasan padanya," lirih William. Dia merasa kesal karena merasa dirinya kini punya kelemahan. Rasa bangga sebagai laki-laki yang bisa memberikan kepuasan dan kebahagiaan untuk istrinya kini seperti hilang.
"Kalau lagi seperti ini, kamu semakin mirip dou bocah tengil itu," gerutu William.
"Jangan sampai dia diembat oleh laki-laki lain. Bilqis sudah menunggu terlalu lama. Aku puji kesabaran dia dalam meluluhkan hati kamu, Kek."
"Mentari juga sudah memaksa aku sejak dua tahun lalu. Namun, aku masih ragu. Aku tidak mau mengalami perceraian lagi. Itu membuat aku trauma." William mengambil handphone miliknya di saku karena ada pesan masuk.
[Mister, Zakaria hari ini, melakukan lamaran lagi.]
"Ini orang juga pantang menyerah!" gerutu William dengan kesal. Dia pun mengirim pesan pada Bilqis.
[Minggu depan aku akan ke Indonesia. Kita bertemu dan aku akan memberikan jawaban untuk pernyataan cinta kamu, yang tempo hari. Jaga hati kamu, jangan biarkan laki-laki manapun memasukinya.]
"Aku harus kembali dan menyelesaikan pekerjaan aku untuk satu bulan ke depan," kata William sambil berdiri.
__ADS_1
"Aku mendukung kamu, Kek! Sudah saatnya kamu punya masa depan lagi. Mau ke mana kan harta kamu yang banyak itu?" goda Alex.
"Berisik, bukannya itu sudah aku kasihkan pada anak kamu dan Fatih!" William sudah memberikan sebagian hartanya atas nama Raihan, Rayyan, dan Rain.
***
Sejak hamil muda, Zulaikha semakin manja pada suaminya. Dia juga ikut pergi ke perusahaan setiap hari. Yusuf kini menjadi Presiden Direktur perusahaan milik Zulaikha. Dia memegang jabatan itu sudah 3 tahun.
"Sayang, duduk yang benar. Jangan terus menggoda aku. Pekerjaan hari ini banyak yang harus diselesaikan." Yusuf sedang sibuk membaca laporan dari beberapa divisi di kantornya.
"Justru aku yang selalu merasa gemas pada kamu, A~ang." Zulaikha yang duduk di atas pangkuan Yusuf dan menyandarkan kepalanya di bahu suaminya.
"Sudah kita pulang saja. Kerja di rumah," ucap Yusuf menyerah dan memegang kepala Zulaikha.
Senyum kemenangan tercipta di wajah Zulaikha. Dia lebih senang kalau suaminya bekerja di rumah.
"Ayo, kita pulang! Asiah juga masih sekolah. Aku rindu sama kamu, A~ng." Ibu hamil itu mengecup bibir suaminya.
***
BRUG!
"Aww ..., kalau jalan lihat-lihat dong!"
***
Kira-kira itu siapa ya? Akankah Willi dan Bilqis bisa secepatnya bersatu? Hal apa lagi yang akan dilakukan oleh si Ibu hamil yang sering membuat Yusuf gemes? Tunggu kelanjutannya ya! Jangan lupa kasih dukungan buat aku dengan kasih Bunga, Kopi, dan Vote 😍😍😍. Like dan Komentar juga untuk penyemangat aku 🤗🤗🤗
Sambil menunggu Kakek Willi dan Bilqis up bab berikutnya. Yuk baca juga karya teman aku.
__ADS_1