Duda Vs Anak Perawan

Duda Vs Anak Perawan
BAB 44. Dicuekin


__ADS_3

    Raihan menjemput Alin dan Chelsea sedangkan Rania pulang ke rumah orang tuanya. Ketiga orang itu sudah buat janji dengan Mega dan mereka akan bersama-sama belanja.


"Rain, kamu datang ke sini mau apa?" tanya Raihan saat sedang berada di toko peralatan kemping.


"Aku hubungi Rania nggak di angkat-angkat, jadi aku pikir dia sedang di sini bersama kalian," jawab Rain dengan dada bergemuruh karena sudah lari dari parkiran sampai ke sana.


"Nia, nggak beli perlengkapan kemping karena sudah punya, katanya bekas tahun lalu masih bagus," kata Alin.


"Oh, syukurlah," balas Rain dengan wajah lega.


     Raihan melirik ke arah Rain. Dia melihat sepupu sekaligus adik iparnya itu dengan intens.


"Kalian sedang tidak marahan 'kan?" tanya Raihan dengan dingin dan mendesis.


"Ya, sepertinya Nia sedang marah padaku. Aku kemarin terlambat menjemput, sampai Ayah yang mengantarkan Nia pulang ke apartemen," jawab Rain dengan pelan karena merasa bersalah.


"Sana, rayu dia agar tidak marah lagi!" suruh Raihan.


"Baik," balas Rain dengan senyum tipisnya. Dia pun lekas pergi mencari Rania.


"Ada apa dengan Kak Rain?" tanya Alin dengan memasang wajah penasaran.


"Sedang mencari sesuatu yang indah," jawab Raihan sekenanya.


"Ish, Kak Ian. Lihat saja, besok-besok aku juga akan cuekin kamu. Aku akan balas dengan hal yang sama," gerutu Alin.


"Oh, ya. Kita lihat siapa yang tahan lama dan yang nggak?" Raihan tersenyum miring.

__ADS_1


"Ok. Kita lihat siapa yang tahan meski di cuekin," tantang Alin dengan memasang wajah kesal dan marah.


     Mega dan Chelsea hanya menghela napas dan memutarkan bola matanya. Mereka sudah merasa tidak aneh dengan kelakuan pasangan suami istri ini.


"Aku yakin kalau Om Fatih dan Tante Mentari tahu, mereka berdua pastinya akan diomeli," bisik Mega.


"Benar, mereka itu sering berbuat sesuatu yang konyol dan unfaedah," balas Chelsea.


     Setelah selesai membeli perlengkapan kemping, keempat orang itu makan bersama. Seperti biasa, Alin kalau dekat dengan Raihan, bawaannya ingin disuapi kalau makan. Namun, saat ini dia sedang taruhan dengannya. Jadi, makannya hanya sedikit dan lama.


     Raihan tahu kalau saat ini Alin ingin di suapi olehnya. Dia hanya bisa tersenyum tipis.


'Nah, siapa coba yang kuat dicuekin?' kata hati Raihan.


     Siapa sangka kalau Alin bisa menghabiskan semua makanannya seorang diri tanpa disuapi oleh suaminya. Dalam hati Alin, dia juga tidak mau kalah. Dia akan berusaha dan membuktikan kalau dirinya juga bisa mandiri.


***


"Assalamu'alaikum, Sayang." Rayyan mencium pipi Asiah.


"Wa'alaikumsalam, Aa." Asiah pun membalikan badannya dan mencium tangan suaminya tak lupa dengan bibir sensual milik Rayyan juga.


"Sedang buat apa?" tanya Rayyan basa-basi karena dia sudah jelas dapat melihatnya apa yang sedang di masak oleh Asiah.


"Puding susu," jawab Asiah dengan senyum menawannya.


"Asik. Istri siapa sih, ini? Pengertian banget kalau hari ini aku ingin makan ini," kata Rayyan kembali memeluk Asiah dari belakang.

__ADS_1


"Perasaan aku mengatakan kalau orang yang aku cintai ingin makan sesuatu yang manis dan lembut," balas Asiah.


"Sekarang, sudah pandai menggombal, ya!" Rayyan kembali menciumi pipi dan leher Asiah dengan gemas sehingga istrinya tertawa geli, meski tertutup kain kerudungnya.


"Kan, aku belajar dari Aa," balas Asiah.


***


    Berbeda dengan Rayyan yang sedang memadu kasih dengan istrinya. Rain kini sedang berusaha meluluhkan kemarahan Rania. Dia bahkan tidak diizinkan masuk ke dalam kamarnya.


"Kalian kenapa? Apa sedang bertengkar?" tanya Mentari pada menantunya.


"Sepertinya Nia marah sama aku, Bun. Gara-gara kemarin terlambat menjemput dari sini," jawab Rain dengan nada menyesal.


"Kenapa biasa begitu?" tanya Mentari. Lalu Rain pun menceritakan kejadian yang terjadi padanya di hari kemarin.


"Rain, Nia itu masih terhitung remaja yang labil. Apalagi emosinya. Bimbinglah dia dengan perlahan dan lembut. Jangan biarkan dia jadi istri pembangkang terhadap suami. Kamu harus banyak bersabar dalam menghadapi Nia. Bunda ingatkan kalau Nia itu anak yang sangat baik, tetapi dia tidak pernah melupakan apa yang pernah orang lain perbuat kepadanya. Jika orang itu berbuat baik padanya, maka Nia akan mengingatnya dengan nilai yang baik. Tapi sebaliknya juga, jika dia pernah melakukan sesuatu yang buruk padanya, maka dia akan mencap orang itu dan Nia tidak akan pernah menganggapnya lagi. Pegang kuatlah diri Nia, jangan sampai dia lepas darimu. Dia perasa orangnya, tetapi di sisi lain dia juga bukan orang yang mudah memaafkan."


"Ya, Rain tahu, Bun. Nia itu jika sudah sayang dan suka sama seseorang, maka dia akan loyal kepadanya. Namun, sebaliknya. Jika orang itu dibenci oleh Nia, maka selamanya dia akan mengabaikannya."


"Maka itu, coba lah hilangkan sifat buruk Nia, yang itu. Dia itu harus rajin diajak komunikasi dengan baik." Mentari bisa memahami karakter semua anak-anaknya.


"Rain akan berusaha melakukan yang terbaik untuk Nia, Bun." Dalam hatinya Rain sedang memikirkan bagaimana cara agar bisa masuk ke dalam kamar Rania dan bicara kepadanya.


***


Alin atau Raihan nih, yang tidak akan kuat lama-lama dicuekin 😆. Rain mulai ketar-ketir, takut masuk ke daftar list orang yang dibenci oleh Rania. Rayyan dan Asiah masih sayang-sayangan 😍. Bagaimana kisah mereka selanjutnya? Tunggu kelanjutannya ya! Jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kirim Bunga, Kopi dan Vote juga. Like dan Komentar untuk membuat aku semakin semangat untuk terus up 🤗🤗.

__ADS_1


__ADS_2