Duda Vs Anak Perawan

Duda Vs Anak Perawan
BAB 16. Merayakan Ulang Tahun Bersama


__ADS_3

     Wajah Alin langsung memerah mendengar ucapan suaminya. Dia sekarang menjadi gugup, apalagi jantungnya berdetak semakin kencang.


"Alin, Sayang~ mana ciumannya?" Goda Raihan sambil memajukan bibirnya.


"Kyaaaak! Kak Ian jangan lakukan itu, aku belum siap," kata Alin sambil menutup mulutnya.


"Bukannya kamu yang mengancam aku duluan dengan ciuman," balas Raihan sambil berdiri dan mengikis jarak dengan Alin yang berjalan mundur.


"Tunggu, Kak. Jangan berbuat macam-macam! Nanti aku akan teriak," lagi-lagi Alin mengancam Raihan.


     Raihan terus maju dan mendesak Alin sehingga terperangkap dalam kungkungannya. Alin tidak bisa mundur lagi karena sudah menempel ke dinding.


"Teriak saja, karena tidak akan ada yang mendengar suara teriakan kamu. Ruangan ini kedap suara," bisik Raihan dan malah membuat tubuh Alin bergetar.


"Kak, jangan begini. Aku takut," kata Alin dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


      Tatap Raihan tidak lepas dari Alin, dan membuat gadis itu semakin ketakutan. Sekuat tenaga Raihan menahan tawa, tetapi dia merasa kasihan juga sama Alin. Ditarik tubuh istrinya itu ke dalam pelukan dia dan membelai kepalanya.


"Hua … Kak Ian jahat!" Tangis Alin pecah dalam pelukan Raihan.


"Makanya kamu itu jangan bicara seenaknya. Pikirkan lagi kalau akan bicara, jangan asal cuap," kata Raihan masih memeluk tubuh Alin.


"Itu karena Kakak nggak cepat-cepat saat aku ajak makan. Padahal aku sudah memasak dengan sepenuh hati," ucap Alin.


"Ya sudah, ayo kita makan sekarang!" Raihan mengerutkan keningnya saat melihat Alin menghapus air mata memakai bajunya.


"Kenapa kamu pakai baju aku? Ih, jorok deh, ini anak." Raihan melihat bajunya yang basah oleh air mata Alin.


"Masih bagus nggak ada ingusnya," ucap Alin sambil berjalan dan menggandeng suaminya untuk turun ke lantai bawah.


***

__ADS_1


     Betapa terkejutnya Raihan saat melihat ada nasi kuning berbentuk kerucut dan di pinggirnya banyak lauk pauknya. Juga di hiasi dengan mentimun, daun kemangi, dan kerupuk.


"Ini … kamu yang buat?" tanya Raihan sambil menatap tak percaya kepada Alin.


"Iya. Aku dulu sering buat yang seperti ini jika ada keluarga yang ulang tahun. Hari ini 'kan Kak Ian ulang tahun. Jadi, aku buatkan spesial untuk suamiku," kata Alin sambil tersenyum malu-malu.


"Terima kasih, aku sangat senang sekali!" Raihan kembali memeluk tubuh Alin dan mencium pucuk kepalanya beberapa kali.   


     Hal ini membuat Alin berteriak-teriak dalam hatinya. Betapa bahagianya dia, saat Raihan memperlakukannya dengan intim.


"Boleh aku coba?" tanya Raihan duduk di depannya.


"Makan yang banyak, Kak!" titah Alin sambil tersenyum.


      Raihan pun menyuapkan nasi kuning plus tempe goreng. Dia suka dengan masakan istrinya ini. Lalu dia pun menyuapi Alin agar makan bersama dengannya. 


      Awalnya Alin malu saat Raihan menyuapinya. Namun, lama-lama dia menikmatinya. Alin juga gantian menyuapi kerupuk pada Raihan. Mereka benar-benar menikmati makan malam berdua. Nasi kuning yang banyak itu mereka habiskan berdua, sampai ke keyangan.


"Semoga Kakak di berikan umur yang panjang dan selalu dalam keadaan sehat. Rizki-nya juga semakin banyak, dan–" Alin terdiam beberapa saat karena terpesona oleh tatapan mata dan wajah suaminya.


"Dan?" Raihan masih menatap Alin.


"Dan … hanya aku satu-satunya perempuan yang mendampingi Kakak sampai akhir hayat," lanjut Alin dengan bibirnya yang bergetar.


"Hm, insya Allah." Raihan mengambil tangan Alin dan menciumnya.


"Jadilah istri yang sholehah dan menurut sama suami," kata Raihan dan Alin pun mengangguk.


"Oh, iya. Hampir lupa," kata Alin dan memberikan kado berukuran lumayan besar pada Raihan.


"Kenapa meski kasih kado segala," ucap Raihan sambil tersenyum. Dia lupa dengan barang yang sudah di rekomendasikan olehnya tadi.

__ADS_1


"Kakak harus pakai hadiah dari aku ini, ya!" pinta Alin.


"Iya, tentu saja. Ini adalah hadiah pertama dari kamu untukku. Akan aku jaga sebaik mungkin," balas Raihan diiringi senyum menawannya.


***


     Saat di dalam kamar Raihan membuka kado pemberian dari istrinya. Dia ingin tahu apa yang sudah disiapkan untuknya.


"Apa ini?" Raihan sangat terkejut saat membuka kotak dus yang berisi kaus dan topi yang tadi mereka beli.


"Jadi, dia beli hadiah untuk laki-laki itu adalah aku?" Raihan merasa kesal sendiri.


"Tahu kalau beli hadiah buat ulang tahun, aku akan minta hadiah spesial darinya," gerutu Raihan.


"Mana aku sudah janji akan memakainya," gumam pemuda yang kini memijat pelipisnya.


"Nggak menyangka hadiah pertama dari istriku malah barang yang begini," ujar Raihan sambil membereskan hadiahnya.


"Seandainya waktu bisa diputar, aku nggak akan ajukan rekomendasi barang seperti ini." Raihan masih saja meracau gara-gara kejahilan dirinya malah kena dirinya sendiri.


***


      Alin sangat bahagia sekali malam ini. Dia pun menghubungi sahabat-sahabatnya. Dirinya sudah tidak sabar untuk berbagi kebahagian.


"Ke mana sih, mereka? Kok nggak pada aktif semua," gerutu Alin sambil melihat pada layar handphone miliknya.


"Apa mereka sudah tidur, ya?" gumam Alin sambil menyimpan benda pipih itu di meja belajarnya.


     Malam itu pun Alin tidur dengan perasaan bahagia. Berbeda dengan adik iparnya yang kini sedang menghadapi masalah besar.


***

__ADS_1


Siapa yang sedang terkena masalah? Rayyan atau Rania? Tunggu kelanjutannya ya! Jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kirim Bunga, Kopi, dan Vote juga. (Noveltoon ada gif baru dengan menonton iklan sama dengan kasih 10 tips untuk author, loh! Teman-teman boleh coba 🤭) Like dan Komentar juga untuk penyemangat aku 🤗🤗.


__ADS_2