
Bilqis berangkat kerja dengan berjalan kaki, tidak punya uang seribu rupiah pun. Dia juga tadi sarapan karena William membayarnya. Kini dia pergi ke kantor tidak membawa apa-apa. Niatnya nanti mau pinjam uang sama Asma, rekan kerjanya.
"Assalamu'alaikum," salam Bilqis dengan senyuman manis menghiasi wajah teduhnya.
"Wa'alaikumsalam," balas Asma sambil tersenyum.
"Asma boleh minta tolong nggak?" tanya Bilqis dengan penuh harap.
"Boleh. Apa itu?" Asma menatap Bilqis.
"Aku mau pinjam uang seratus ribu. Apa kamu punya? Ini Sya Allah aku ganti saat gajian nanti," kata Bilqis.
"Ada, buat apa? Tumben kamu nggak punya uang," ucap Asma sambil mengeluarkan dompetnya dari dalam tas cangklong berwarna hitam.
"Aku sedang butuh saja. Terima kasih, ya! Semoga Allah juga mempermudah segala urusan kamu," kata Bilqis dengan setulus hati. Betapa bahagianya dia kini memegang uang untuk keperluan dia. Meski itu uang pinjaman. Dari kantornya ke rumah membutuhkan ongkos dan dia tadinya bingung mau pulang ke rumah pakai apa.
'Ya Allah, permudahkan lah aku dalam membayar utang aku ini,' kata Bilqis berdoa dalam hatinya.
***
Saat makan siang pun Bilqis pergi ke minimarket dan beli beberapa buah mie instan. Dengan harga yang murah dan ada bonus beli 5 dapat gratis 1 jadi uang 10.000 bisa dapat 6 mie. Bilqis sudah merasa bersyukur karena ada untuk makan saat ini dan untuk keesokan harinya.
Dia merebus mie instan itu di pantry kantor. Memasaknya tanpa tambahan apapun lagi. Hanya mie saja yang diberi kuah banyak.
"Alhamdulillah, perut sudah kenyang. Semoga makanan ini menjadi berkah bagiku," ucap Bilqis karena dia tahu kalau terlalu banyak makan mie instan akan buruk pada kesehatan.
Hari ini pun Bilqis lalui dengan semangat. Kejadian buruk yang menimpanya kemarin membuat dirinya jadi seorang hamba yang bersyukur. Dia terlepas dari Samiri dan mendapat tempat tinggal yang sangat layak. Meski kini dia sebatang kara. Rasa sakit hati pada ibu tirinya yang sudah menjual dirinya kepada Samiri. Membuat Bilqis tidak mau tinggal atau berurusan dengan dia lagi. Padahal selama ini dirinya selalu melakukan yang terbaik bagi keluarga dan melakukan apa yang diminta oleh ibu tirinya itu.
***
Ongkos transportasi akan murah jika naik Transjakarta. Maka Bilqis pun memilih naik bus itu yang menuju ke daerah tempat tinggalnya dulu. Meski nanti dia harus jalan sekitar 1Km. Dia harus benar-benar hemat.
Saat sampai pintu pagar rumahnya. Keadaan di sana sangat ramai. Terlihat orang-orang yang asing bagi Bilqis.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum," salam Bilqis pada mereka yang sedang bermain di teras rumah. Sementara dia berdiri di luar pagar.
"Ya, ada apa?" tanya seorang wanita tua saat melihat Bilqis.
"Saya adalah pemilik rumah ini. Sebelum–"
"Enak saja milik kamu! Rumah ini milik anak aku. Dia sudah membelinya!" hardik wanita tua itu.
"Iya, saya tahu, Nek. Saya ke sini mau mengambil barang-barang milik aku yang kemarin tidak sempat saya bawa," balas Bilqis dengan lembut.
"Tidak ada! Semua barang di rumah ini sudah diberikan pada tetangga dan sisanya dibuang," bentak wanita tua itu lagi.
"Bilqis!" Terdengar suara teriakan seseorang.
Wanita berjilbab itu mencari sumber suara. Ternyata teman sepermainannya yang memanggil.
"Sini!" Gadis itu melambaikan tangan.
"Maaf, Nek. Sudah mengganggu. Permisi." Bilqis pun meninggalkan wanita tua itu.
"Ada apa Nur?" tanya Bilqis.
"Aku berhasil membawa beberapa barang milik kamu. Mudah-mudahan itu masih bermanfaat buat kamu. Soalnya banyak orang yang mengambil barang di rumah kamu secara gratis. Aku juga meminta sebagian pada orang-orang yang sudah membawa barang milik kamu itu. Hanya saja ada yang mau membalikan ada juga yang nggak mau karena barang itu merasa sudah jadi miliknya." Nur pun mengajak Bilqis ke kamarnya.
Ruang yang berukuran kecil itu berantakan dengan barang milik Bilqis. Di atas ranjang ada banyak baju dan buku.
"Ini semua barang kamu yang bisa aku dapatkan untuk kamu. Belum sempat aku rapihkan karena orang-orang pada milih. Kalau aku sedapatnya saja aku bawa. Tas kerja, sepatu, jam tangan, dan gamis yang sering kamu pakai aku amankan dulu. Kalau buku sih, aku yakin nggak akan ada yang bawa," kata Nur sambil terkekeh.
"Nur terima kasih, ya. Aku tidak tahu harus mengucapkan apalagi. Semoga kebaikan kamu ini Allah balas lebih dan lebih baik." Bilqis menangis terharu.
"Aku ridho melakukannya. Hanya saja aku dengar handphone dan laptop milik kamu sudah dijual sama Kakak tiri. Aku terlambat tahu. Jika tahu dari awal akan aku beli." Terlihat wajah Nur menjadi kesal.
"Tidak apa-apa. Apa di semua barang ini ada yang kamu suka? Jika ada kamu boleh mengambilnya," ucap Bilqis.
__ADS_1
"Tidak. Aku tahu kamu sedang kesusahan. Barang ini sangat berarti buat kamu sekarang," balas Nur.
"Kamu terima gamis ini, ya! Ini masih baru, belum pernah aku pakai." Bilqis menyerahkan sebuah gamis yang masih ada bandrol dengan harga yang sangat mahal. Gamis yang rencananya akan dipakai oleh dia saat acara lamaran dengan Yusuf.
"Ini baju sangat mahal sekali harganya," kata Nur saat melihat harga yang tertera di gantungan kertasnya.
"Tidak apa. Kamu pantas mendapatkannya." Bilqis dan Nur pun berpelukan.
***
Seharian ini Zulaikha benar-benar di manja oleh Yusuf. Makan di suapi, tidur dipeluk dan dibelai, mandi juga dimandikan. Pokoknya bagi Zulaikha menjadi pengantin baru itu sangat menyenangkan.
"Sayang, besok kita pulang ke Jakarta pagi-pagi sekali, ya! Agar tidak macet." Yusuf membelai rambut Zulaikha yang ada di pangkuannya.
"Lebih baik siangan saja, A~ng. Kalau habis subuh inginnya tiduran lagi dalam pelukan kamu," kata Zulaikha menggoda suaminya.
"Nanti merengek lagi, katanya sakit," ucap Yusuf balas menggoda istrinya.
"Sekarang sudah enggak karena sudah dikasih ramuan sama Ibu. Besok juga mau minta lagi dan minta juga buat bekal ke Jakarta," ujar Zulaikha senang.
"Astaghfirullahal'adzim. Istri aku tidak malu sama mertua, minta dibuatkan ramuan terus," pungkas Yusuf.
"Kenapa meski malu? Bukannya semua suami istri pasti melakukan hal itu," ucap Zulaikha tanpa merasa bersalah.
"Sayang, jujur sama Aang. Kamu tadi bicara hanya pada Ibu dan Mami saja kan? Tidak ada orang lain di sana?" tanya Yusuf pada Zulaikha karena tadi istrinya di panggil juga sama Ibunya.
"Hm, kayaknya ada beberapa orang lain, deh," jawab Zulaikha sambil mengingat-ingat kejadian siang tadi.
"Astaghfirullahal'adzim, Sayang. Dengarkan Aang! Kamu tidak boleh membicarakan atau membahas apa yang sudah kita lakukan di kamar terutama apa yang kita berdua lakukan di atas ranjang, maksudnya hubungan intim kita, kepada orang lain. Mau itu kelebihan atau kekurangan pasangan kita," jelas Yusuf sambil menangkup wajah istrinya. Istrinya ini sering membuatnya beristighfar.
"Kok orang lain malah sering bicara urusan ranjang mereka." Zulaikha pun duduk dan memandang wajah suaminya.
"Apa kamu tahu kalau seorang Istri itu ...."
__ADS_1
***
Kira-kira apa yang akan diucapkan oleh Yusuf kepada Zulaikha? Bagaimana kisah Bilqis mencari kebahagiaan setelah hidupnya yang dulu sering menderita? Tunggu kelanjutannya ya! Eits, jangan lupa untuk kasih aku Bunga, Kopi, dan Vote. Like dan Komentar yang bisa buat aku semakin bersemangat. Terima kasih.