Duda Vs Anak Perawan

Duda Vs Anak Perawan
#Kedatangan Keluarga dari Kampung


__ADS_3

     Hari ini Asiah berangkat ke sekolah di antar oleh Zulaikha. Tangan Yusuf masih terasa linu kalau terlalu sering di gerakan. Tanpa di tahu kalau keluarganya akan datang mengunjunginya. 


"Assalammualaikum, Bu," sapa Yusuf saat ibunya menelepon.


[Wa'alaikumsalam. Yusuf, saat Ibu sedang ada di lantai bawah apartemen kamu. Apa kamu bisa jemput?]


"Apa? Ibu datang ke apartemen Yusuf dengan siapa?"


[Dengan, Sholeh dan Ayah mertua kamu.]


"Abah? Tunggu! Yusuf jemput ke bawah, sekarang."


***


     Yusuf pun menjemput Ibu, Mang Sholeh, dan Abah Taha. Dia tidak menyangka kalau akan kedatangan tamu dari kampung halamannya. Ada rasa senang, terharu, dan tidak percaya. Selama ini mereka kalau diajak Yusuf untuk ikut ke kota selalu tidak mau.


"Ibu dengar dari Asiah kalau kamu mengalami kecelakaan. Kenapa kamu tidak bilang sama kami?" tanya Hajar dengan wajahnya yang tersirat akan kecemasannya.


"Maafkan Yusuf, Bu. Kemarin tidak memberi tahu karena tidak mau membuat keluarga di kampung merasa khawatir. Yusuf juga baik-baik saja," jawab Yusuf berusaha agar Ibu dan yang lainnya merasa tenang.


"Baik-baik saja, bagaimana? Lihat kamu, Suf! Kepala kamu masih di balut perban dan tangan kamu banyak lukanya," ucap Abah Taha.


"Ini luka akan cepat sembuh karena dokter sudah memberikan obat yang terbaik," jelas Yusuf.


"Apa pelaku yang menabrak kamu sudah ditangkap?" Kali ini Mang Sholeh yang bertanya.


"Alhamdulillah, sudah, Mang," jawab Yusuf dengan wajahnya yang tenang dan membuat semua orang senang.

__ADS_1


     Keempat orang itu pun mendengar kronologi saat kejadian itu terjadi. Namun, Yusuf tidak menceritakan kalau kejadian kecelakaan itu adalah perbuatan sengaja yang ingin mencelakai dirinya. Dia tidak mau membuat khawatir orang tuanya. Yusuf juga menanyakan kabar Ayahnya yang masih di kampung dan keluarga lainnya. Hampir 2 jam mereka berbicara.


"Yusuf tempat tinggal kamu nyaman, ya." Hajar merasakan sejuknya dari AC yang menyala. Sofa yang empuk dan pemandangan kota terlihat dari kaca jendelanya yang lebar.


"Ini milik perusahaan, Bu. Mana kebeli tempat mahal seperti ini oleh Yusuf. Lagian Yusuf lebih suka punya rumah di kampung. Kalau sudah cukup uang untuk modal, kayaknya Yusuf lebih memilih usaha di kampung. Agar bisa tinggal bersama Ayah, Ibu, dan Abah. Bagaimana pun juga kalian adalah orang tua yang harus Yusuf jaga dan urus."


     Hajar senang kalau anaknya bisa menjadi orang yang sukses. Sebenarnya dari dulu Yusuf ingin membuat usaha di kampung. Saat ini dia sedang mengumpulkan uang. Hasil selama 5 tahun kerja di kota. Dia sudah bisa memperbaiki rumah orang tua dan mertuanya, meski rumah mertuanya di sewakan karena dia ikut tinggal di rumah Yusuf agar ada yang mengawasi dirinya. Kesehatan yang menurun membuat Yusuf meminta Ayah mertua untuk menempati rumahnya yang kosong saat ini. Yusuf membangun rumah di samping rumah orang tua dan beberapa kerabat dari pihak Ayahnya. Dia juga membeli sawah dan kebun yang dikelola oleh Mang Sholeh. Tanah lahan kosong untuk membangun tempat usahanya. Saat ini uang yang dikumpulkan itu untuk membangun toko grosir dan modal untuk isinya yang akan menjual kebutuhan sehari-hari masyarakat di kampung sana.


"Ayah dan Ibu mau istirahat dulu?" tanya Yusuf.


"Sudah di sini saja juga merasa nyaman, kok," jawab Abah.


"Lebih nyaman di kamar, Abah. Yuk, tidurnya di kamar." Yusuf menyuruh mertuanya tidur di kamarnya sedangkan ibu dia di kamar satunya lagi. Kalau Mang Sholeh di kasur lantai di depan TV. Perjalanan jarak jauh membuat tubuh renta mereka kelelahan.


"Untungnya persediaan bahan makanan masih ada di kulkas." Yusuf pun memasak buat makan siang mereka.


***


"Assalammualaikum, Nenek. Ada Abah dan Mang Sholeh." Asiah menghambur menyalami dan memeluk mereka satu per satu. Mereka pun senang melihat Asiah lagi secara langsung setelah beberapa bulan mereka berpisah.


"Yusuf ini calon istri kamu? Cantik bener!" Hajar terpesona melihat Mentari yang datang dengan membawa 2 kantong keresek berukuran besar dan menyerahkannya kepada Yusuf.


"Bukan, Bu. Ini Bundanya si Kembar, teman Asiah," jawab Yusuf. Untung tidak ada Fatih di sana. Bisa-bisa dia nanti marah karena cemburu.


"Assalammualaikum, Bu. Kenalkan saya, Mentari. Ini kedua anak saya," sapa Mentari sambil mengenalkan kedua anak kembarnya.


"Ini anak bule. Suami kamu bule, ya?" tanya Hajar sambil mengusap kepala Rayyan dan Raihan.

__ADS_1


"Campur, Bu. Neneknya anak-anak yang orang luar," jawab Mentari. Dia selalu merasa sedih karena nggak ada milik dia yang menempel pada rupa mereka. Si Kembar itu wajahnya kopian dari Fatih.


     Terjadi pembicaraan menarik di antara mereka. Sikap ramah dan menyenangkan dari Mentari membuat tamu di rumah Yusuf malah betah mengajaknya bicara. Yusuf sendiri tidak percaya kalau seorang Nyonya dari kalangan konglomerat itu tahu cara bertani dan mengembangbiakan ikan. Cara merawat bibit-bibit ikan agar bisa bertahan hidup sampai besar. 


"Saya tidak menyangka kalau Nyonya bisa menernakkan ikan lele dan gurame," kata Yusuf.


"Karena di belakang rumah orang tua ada beberapa kolam ikan, lumayan hasilnya kalau kita bisa mengelolanya. Apalagi keluarga Mas Fatih suka sekali dengan bakar ikan. Setidaknya kita sebulan sekali selalu kumpul bersama dan main bakar-bakaran. Pak Yusuf dan Asiah kalau mau ikutan juga boleh," ucap Mentari sekalian saling mengenal dengan calon besan.


"Asiah mau ikutan main bakar ikan dengan si Kembar," ujar Asiah tiba-tiba.


"Boleh. Biasanya keluarga kita awal bulan selalu kumpul bersama. Jangan malu atau canggung. Para tetangga juga suka ikutan. Kita kayak makan bersama banyak orang," jelas Mentari.


"Aduh, Nyonya. Maaf ya, tadi saya kira calon istrinya Yusuf," kata Hajar malu.


"Tidak apa-apa, Bu." Mentari tersenyum ramah.


"Aduh Nyonya cantik bener. Pastinya suami Nyonya cinta banget, deh." Hajar masih saja mengagumi wajah Mentari yang masih terlihat muda dan cocok dengan Yusuf.


"Lalu mana calon istri kamu? Ajak kemari biar kenalan sama Ibu," tanya Hajar kepada Yusuf.


Deg!


     Yusuf mendadak jantungan saat ditanya calon istrinya. Dulu dia berniat mengenalkan Bilqis dan saat ini hatinya memilih Zulaikha, anak gadis SMA.


'Ibu, setuju nggak, ya? Kalau aku kenalkan Zulaikha yang masih sekolah,' batin Yusuf.


***

__ADS_1


Bagaimana kisah mereka selanjutnya? Tunggu kelanjutannya ya! Jangan lupa untuk selalu klik like, komentar, favorit, hadiah, dan Vote-nya juga ya. Dukung aku terus. Terima kasih.


__ADS_2