Duda Vs Anak Perawan

Duda Vs Anak Perawan
BAB 93. Mie Goreng Spesial


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Terus kasih like dan komentar. Semoga hari ini kalian diberikan kebahagiaan.


***


Bab 93


     Suasana hati Rain sedang bagus. Rasa rindu pada sang istri pun membuat dia menghunginginya saat jam istirahat di sekolah Rania.


"Assalamu'alaikum, Ya Humaira," salam Rain sambil melakukan video call.


"Wa'alaikumsalam, Ya Habibi," balas Rania dengan senyum tipisnya.


"Kamu sedang apa?" tanya Rain saat melihat Rania menyandarkan kepalanya di atas meja.


"Sedang menerima video call dari PakSu," jawab Rania dengan tidak semangat.


"PakSu itu siapa?" tanya Rain mengerutkan alis karena dia merasa tidak suka.


"PakSu itu Pak Suami," jawab Rania setelah memastikan tidak ada orang di dekatnya. Rain pun tersenyum malu.


"Alin dan Chelsea mana? Kok mereka tidak kelihatan," tanya Rain.


"Mereka sedang ke kantin bersama Alma," jawab Rania yang kini sudah kembali kepalanya bersandar di atas meja.


"Lalu, kenapa Sayangnya aku tidak pergi ke kantin?" tanya Rain dengan semburat merah di wajahnya.


     Rania pun tiba-tiba merona wajahnya karena mendengar panggilan sayang untuknya. Dia menutup wajahnya sebagian karena malu. Hanya matanya saja yang terlihat.


"Sedang tidak mood makan," jawab Rania.


"Kenapa? Nanti kamu sakit," tanya Rain dengan nada terkejut dan agak panik.


"Entahlah. Mungkin karena teringat sesuatu yang membuat suasana hati aku buruk tadi," jawab Rania jujur.


"Kamu datanglah ke depan pintu gerbang lima belas menit lagi. Aku akan antarkan makanan spesial buat kamu, Ya Humaira." Rania pun mengangguk karena dadanya terasa sesak disebabkan oleh jantungnya yang berdetak terlalu kencang.


***


     Rain pun berlari ke arah pantry. Dia pun membuat mie goreng instan yang selalu di sediakan di sana. Jika, sewaktu-waktu ada karyawan yang lembur dan ingin makan mie. 


     Kedatangan Rain ke pantry membuat beberapa OB dan OG terkejut. Mereka hendak membantu, tetapi Rain menolaknya. Dia ingin membuat sendiri mie goreng untuk istrinya.

__ADS_1


     Para OB dan OG terpesona melihat atasan mereka memasak mie. Rain terlihat keren saat masak, di mata orang-orang itu.


     Sambil menunggu mie matang, Rain juga memasak telur dan sosis. Dia agak menggerutu karena tidak ada stok sayuran di pantry.


"Sepertinya besok-besok harus di sediakan sayuran juga di dalam kulkas," gumamnya.


     Mie goreng spesial dengan telur dan sosis sudah selesai. Rain pun memasukan semua itu ke tempat makan. Tidak lupa sendok dan garpunya.


"Sip, semua sudah selesai. Tinggal antarkan ini ke sekolah," kata Rain dengan puas.


***


     Rain pun berlari menuju gerbang saat melihat ada Rania di sana. Senyum lebar langsung menghiasi wajahnya.


"Assalamu'alaikum, Ya Humaira." Rain mengulurkan tangannya dan disambut oleh Rania.


"Wa'alaikumsalam, Ya Habibi," balas Rania dengan senyum cerahnya.


"Ini aku buatkan mie goreng. Meski ala kadarnya, semoga kamu suka," kata Rain sambil menyerahkan cooler bag.


"Kak Rain sendiri ini yang buat untuk Nia?" tanya Rania tidak percaya.


     Seandainya tidak pagar besi yang menghalangi mereka. Rania pasti akan memeluk suaminya sebagai ungkapan rasa terima kasih.


"Sudah sana cepat makan! Keburu jam masuk lagi," perintah Rain.


***


     Rania makan dengan lahap dan hatinya merasa terharu, bahagia, dan bangga karena suaminya sudah susah payah memasakan makanan untuk dirinya disela-sela kesibukan kantornya.


     Alin dan Chelsea pun menggoda Rania yang tidak mau berbagi sedikit pun mie goreng itu kepada mereka. Wangi mie goreng itu membuat banyak teman-teman Rania menelan ludah. Apalagi melihat Rania yang begitu menikmati makanannya.


***


     Rayyan mendatangi kantornya karena akan ada pertemuan dengan klien yang penting. Saat mereka melakukan pertemuan di sebuah restoran. Dia tidak sengaja melihat Asiah dan teman-temannya juga makan di sana.


"Asiah sedang ada acara di sini rupanya. Aku harus bersembunyi di mana, ya?" gumam Rayyan sambil menutupi mukanya dengan buku daftar menu.


"Pak Rayyan, Anda kenapa?" tanya rekan bisnisnya.


"Pak, apa bisa ganti tempat untuk membicarakan pekerjaan kerja sama kita ini?" tanya Rayyan.

__ADS_1


"Kenapa, Pak? Apa tempatnya tidak nyaman?" tanya si klien.


"Bukan. Hanya saja aku kepikiran ingin makan ikan bakar dengan saus kacang," jawab Rayyan asal yang penting dia keluar dari restoran itu. 


    Saat di parkiran, Rayyan melihat Asiah berjalan ke arah belakang dan tidak lama Sulaiman pun mengikutinya. Penasaran ada apa dengan Asiah. Maka, dia pun izin sebentar pada rekan bisnisnya. Dia pun mengikuti mereka ke taman kecil yang ada di bagian belakang restoran itu.


     Rayyan bersembunyi di dekat pohon yang ada di sana. Untungnya Asiah dan Sulaiman memunggungi dirinya.


"Sulaiman katakan apa yang kamu tanyakan pada aku tadi?" tanya Asiah.


"Asiah, ini sudah sepuluh hari sejak aku mengungkapkan perasaan kepada kamu. Dulu kamu minta waktu satu Minggu," jawab Sulaiman.


"Maafkan aku, Sulaiman. Rasa cintaku kepada Raya tidak bisa hilang atau aku hapus. Sampai sekarang aku masih sangat mencintai dirinya meski dia itu keras kepala dan kadang sifat posesifnya aku tidak suka. Tapi—" ucapan Asiah terhenti karena dipotong oleh Sulaiman.


"Bukannya kamu dulu sering bilang kalau hubungan kalian sudah tidak harmonis. Kalian juga jadi sering bertengkar. Dan itu membuat kamu tidak bahagia," potong Sulaiman.


"Ya, meski begitu, itu ternyata hal yang wajar terjadi di dalam suatu hubungan. Dulu aku sering mengikuti egoku, tanpa memikirkan hal yang lainnya. Namun, kini aku berpikir kalau suatu hubungan akan tetap terjalin kuat jika kita saling percaya, saling terbuka, saling berbagi, dan saling komunikasi dengan baik. Aku dulu sempat khilaf, kini saat Raya pergi, aku sadar kalau aku tidak mau kehilangan dia. Dan apa yang dia lakukan itu adalah bentuk cinta dia sama aku. Bodoh, jika aku ingin melepaskan diri darinya. Bodoh, jika aku melepaskan laki-laki yang selalu ada untuk diriku sejak masih kecil itu. Aku akan menjadi orang paling bodoh di dunia, jika menyia-nyiakan cinta dari laki-laki yang aku cintai," jelas Asiah.


"Jadi?" tanya Sulaiman.


"Aku menolak pernyataan cinta kamu. Maaf, aku hanya bisa menawarkan persahabatan kepada kamu. Meski aku selalu merasa nyaman saat bersama kamu," jawab Aisah.


"Ya, sudah kalau begitu. Aku hargai keputusan dirimu," ujar Sulaiman.


"Aku harap kita akan berteman dengan baik selamanya," kata Asiah sambil tersenyum manis.


"Iya," balas Sulaiman.


     Rayyan terdiam di sana. Tidak pernah terpikirkan oleh dirinya kalau Asiah sempat berpaling dari dirinya. Padahal bagi dia, Asiah adalah satu-satunya perempuan terbaik pilihannya. Satu-satunya perempuan yang dia cintai secara spesial. Tidak pernah terlintas dalam pikirannya untuk melirik para wanita yang ada di sekitarnya. Bahkan dirinya selalu menjaga diri dan menjaga jarak dengan perempuan.


     Lagi-lagi Rayyan merasa kecewa kepada Asiah. Kali ini dia tidak bisa langsung menyalahkan Asiah. Namun, dia introspeksi diri, ada apa dengan dirinya?


***


     Asiah menjatuhkan dirinya saat tiba-tiba mendapat pesan dari suaminya yang sangat dia rindukan selama ini. Tangisannya langsung pecah.


     Saat masuk ke kamar, betapa bahagianya dia saat mendapatkan satu pesan dari nomor suaminya. Namun, tanpa dia sangka satu kalimat itu membuat hatinya hancur. Air mata kesedihan pun tumpah tanpa dia bisa bendung lagi.


***


Perasaan Rayyan berbanding terbaik dengan Rain. Pesan apa yang dikirim oleh Rayyan kepada Asiah? Tunggu kelanjutannya ya!

__ADS_1


__ADS_2