Duda Vs Anak Perawan

Duda Vs Anak Perawan
# Jodoh


__ADS_3

     William yang sedang berbicara dengan Fatih di ruang keluarga sambil memperhatikan si Kembar yang sedang belajar bersama Mentari, dikejutkan dengan getaran gawai miliknya. Ada pesan masuk dari Bilqis. 


[Mister, apa Anda akan makan malam di apartemen?


Jika iya, aku akan masak banyak.]


"Siapa?" tanya Fatih.


"Bilqis. Dia menanyakan aku apa akan makan malam di apartemen," jawab William.


"Guru si Kembar yang Kakek tolong itu, ya?" Fatih teringat kalau guru anaknya itu sudah ditolong oleh William.


"Iya," balas William singkat karena dia sedang mengetik untuk membalas pesannya.


[Maaf. Hari ini aku akan makan malam bersama keluarga.]


"Kakek balas apa?" tanya Fatih kepo.


"Aku bilang kalau makan di sini, dengan keluarga," jawab William.


"Apa gadis itu suka sama Kakek?" tanya Fatih sambil tersenyum jahil.


"Aku rasa tidak. Dia itu menyukai Yusuf. Namun, lamaran Yusuf ditolak oleh orang tuanya. Dia sedang patah hati. Ditambah baru tahu kenyataan kalau Yusuf sudah menikah dengan Zulaikha," jawab William sambil memasukan kacang ke mulutnya.


    Bicara santai sambil ngemil sudah menjadi kebiasaan William sejak kecil. Makanya dia satu server dengan Mentari. Para penggila kuliner dan jajanan di pinggir jalan.


"Aku rasa Bilqis juga cocok untuk Kakek Willi jadikan istri. Nanti kayak Mbah Buyut punya istri yang usianya terpaut jauh," ucap Fatih sambil tertawa.


"Aku sumpahin kamu cepat jadi Kakek-kakek!" ujar William kesal.


"Yang benar saja. Anak-anak aku lima tahu aja belum. Masih jauh untuk punya cucu," balas Fatih terkekeh.


"Baby, suami kamu mau cari daun muda. Diberi izin nggak?" William menyeringai menatap Fatih yang melotot ke arahnya.


"Kamu kenapa, Mas. Susah buang air besar? Di belakang ada banyak daun jambu biji yang masih muda," tanya Mentari sambil menghampiri Fatih.

__ADS_1


     William menepuk keningnya karena Mentari salah mengerti akan maksudnya. Sementara Fatih tersenyum senang.


'Mentari itu tahu aku nggak akan berpaling darinya.'


"Nggak, Sayang. BAB aku lancar. Kakek Willi kebelet ingin kawin katanya," ucap Fatih gantian menggoda William. 


"Apa sudah ada calonnya? Siapa?" tanya Mentari antusias.


"Suami kamu itu ngarang. Belum ada yang bisa menggantikan kamu di hati aku, Baby." William melirik ke arah Fatih yang mendengus lalu mendudukkan Mentari di pangkuannya.


"Maaf, Mentari sudah sold out. Khusus buat aku. Kakek cari yang lain saja," pungkas Fatih.


"Kalian berdua ini kenapa? Sudah Mas, aku lagi mengajari si Kembar," kata Mentari sambil turun dari pangkuan suaminya.


"Kakek sih, kenapa nggak cepat-cepat saja cari istri baru," gerutu Fatih.


"Tidak semudah itu Fatih. Bagaimana dengan kamu, jika Mentari—"


"Cukup Kakek! Tidak ada kata jika!" Fatih pun berdiri lalu berkata, "aku doakan Kakek supaya dapat jodoh lagi dan punya anak pengganti Liam."


***


"U, seksinya aku!" Zulaikha mulai narsis akan kemolekan tubuhnya. Apalagi dibagian-bagian tertentu sudah semakin berisi semenjak dia menikah.


"Sayang–" Yusuf masuk ke kamar sehabis pulang dari masjid. Dia menelan ludahnya saat melihat penampilan istrinya yang sangat menggoda.


"A~ang ku sayang, sudah pulang. Tunggu aku ganti baju dulu!" Zulaikha pun hendak mengganti bajunya.


"Kenapa diganti, Sayang?" tanya Yusuf sambil menghentikan tangan istrinya.


"Ini buat nanti kalau aku mau dinas malam. Sekarang sedang di perboden. Tidak boleh masuk," kata Zulaikha.


"Apa?" Yusuf tidak bisa berkata apa-apa.


"Iya, A~ang ku tercinta aku sedang kedatangan tamu bulanan," ucap Zulaikha sambil menggelitik dagu suaminya.

__ADS_1


"Ta–pi, tadi Magrib …."


"Ya, datangnya pas aku Magrib tadi."


"Berapa lama?" 


"Paling cepat satu minggu, paling lama sepuluh hari."


"Apa? Kenapa lama sekali! Tidak tiga hari atau lima hari paling lama."


"Tiap perempuan itu beda-beda, Aang. Ada yang sebentar ada yang lama. Aku termasuk yang standar."


"Jadi, nggak semangat apapun." Yusuf pun langsung berbaring di kasur dan memejamkan mata.


"Kok nggak semangat? Semangat dong, A~ang!" Zulaikha mencoba membangunkan suaminya. Namun, Yusuf menarik dalam pelukannya.


"Sudah, diam. Kita tidur sambil berpelukan saja," kata Yusuf.


"Makan malam?"


"Sudah tidak berselera. Mood lagi jatuh mending tidur."


***


    Bilqis pun makan malam seorang diri. Dia hanya masak dadar telur saja tanpa yang lainnya. Dia merasa kurang bersemangat untuk masak jika hanya untuk sendiri.


"Ternyata hidup sendirian itu sepi dan terasa hampa," gumam Bilqis.


    Setelah makan malam Bilqis pun duduk sambil menonton berita. Ternyata banyak kejadian begal. Dan itu membuatnya takut untuk lembur. Lebih baik pekerjaannya dia bawa pulang.


"Apa Mister Willi juga sering mengalami hal seperti ini? Sepi, hampa, dan tidak ada hal yang diharapkan."


    Ada sebuah pesan masuk. Senyum di bibir Bilqis langsung tercipta.


***

__ADS_1


Kira-kira pesan apa nih yang masuk ke ponsel Bilqis, yang sudah membuatnya tersenyum 🤔🤔😊😊. Aang Yusuf harus berpuasa beberapa hari kedepan 🤣🤣🤣🤣. Bagaimana kisah mereka selanjutnya? Tunggu kelanjutannya ya! Jangan lupa kasih dukungan buat aku dengan kirim Bunga, Kopi, dan Vote juga. Like dan Komentar buat penyemangat. Terima kasih 😘😘😘


__ADS_2