Duda Vs Anak Perawan

Duda Vs Anak Perawan
#Restoran


__ADS_3

     Asiah pergi ke toilet bersama Bintang. Sementara itu, yang lainnya memesan makanan. Michael dan Yunus selalu berada dalam posisi awas dan siaga.


     Dari arah pintu masuk datang seorang laki-laki bertubuh tinggi besar seperti beruang. Dia duduk di meja paling dekat dengan pintu. 


"Kayaknya aku juga mau ke toilet," ucap Zulaikha.


"Biar aku antar," kata Yunus.


    Mendengar ucapan Yunus barusan membuat Yusuf membelalakkan matanya. Dia tidak suka kalau laki-laki yang mengaku temannya Zulaikha itu dekat-dekat dengan kekasihnya.


"Tidak! Aku saja yang mengantar Zulaikha ke toilet!" Yusuf langsung ikut berdiri ketika melihat si Gadis Nakalnya beranjak dari kursinya.


"Om, yakin mau antar aku ke toilet wanita?" tanya Zulaikha dengan lirikan menggoda. 


"Iya. Ayo!" Yusuf berjalan terlebih dahulu. 


"Om ... tunggu!" Zulaikha berlari mengejar Yusuf lalu menggandeng tangannya.


    Yunus pun mengikuti mereka dari belakang. Hanya Michael yang masih duduk di meja mereka. Dia masih mengawasi keadaan sekitar.


     Laki-laki bertubuh besar itu pun beranjak dari kursinya. Mengikuti langkah kaki ketiga orang tadi.


***


     Asiah dan Bintang baru saja ke luar dari toilet. Mereka berpapasan dengan Zulaikha dan yang lainnya di lorong menuju toilet.


"Wah, kalian mau ke mana? Beriringan begini." Bintang bertanya kepada Zulaikha.


"Toilet," bisik Zulaikha dengan senyum jahilnya.


"Pergi kencan ke toilet!" ejek Bintang dengan senyum miringnya.


"Hei! Ini bukan kencan namanya! Di mana ada orang pergi berkencan ke toilet?" Zulaikha sewot dengan memasang wajah kesal.


"Ada. Kamu!" tawa Bintang langsung terdengar.

__ADS_1


    Bintang sengaja menahan Zulaikha dan yang lainnya. Dia melihat ada laki-laki yang mengikuti mereka dari belakang. Dia hanya ingin mengecek laki-laki itu. Apa sengaja mengikuti Zulaikha? Atau kebetulan ke toilet. 


'Auranya gelap,' kata Bintang dalam hatinya ketika melihat sorot matanya.


    Begitu laki-laki itu masuk ke dalam toilet khusus laki-laki. Bintang langsung menarik Zulaikha dan menyuruh Yunus tetap di tempatnya.


"Bintang, aku ingin buang air kecil!"


"Ikut ke toilet karyawan saja. Ada orang berbahaya!" ucap Bintang dengan langkah lebar menarik tangan Zulaikha dan tangan sebelah memangku Asiah.


     Yusuf mengikuti langkah mereka menjauhi toilet umum untuk pengunjung. Dia sesekali melirik ke belakang, di mana Yunus masih berdiri.


     Zulaikha pun ikut ke toilet karyawan. Setelah itu kembali ke meja dan memakan pesan tadi.


"Peter sudah tiba di parkiran dan mobil baru juga terparkir tepat di samping mobil kita tadi," jelas Bintang pada Michael. Pengawalnya itu manggut-manggut.


"Biar aku saja yang jadi umpan. Dia terlihat kuat dan terasa gelap auranya," ucap Michael.


"Baik. Berhati-hatilah!" lanjut Bintang.


     Raut muka Zulaikha menjadi pucat saat tatapan mata laki-laki bertubuh tinggi besar itu terus menatapnya. Dia tidak bisa memalingkan wajahnya.


"Apa apa Zulaikha?" tanya Bintang.


"Orang itu menakutkan!" ucap Zulaikha tanpa mengalihkan tatapannya dari laki-laki tadi.


     Bintang tahu maksud Zulaikha. Yusuf pun memegang tangan si Gadis Nakalnya. Dia bisa merasakan dingin dan basah oleh keringat. Asiah pun dibawa ke pangkuan Bintang.


"Yunus kerjakan tugas kamu dengan baik, ya. Aku mau jaga calon adik ipar." Bintang mengedipkan sebelah matanya pada pemuda yang sejak tadi curi-curi pandang padanya.


    Bagaikan di hipnotis Yunus menganggukkan kepalanya. Dia sudah lama tidak bertemu dengan Bintang. Kemarin waktu di Indonesia, hanya sebentar saja mereka bertemu. Bintang langsung pergi lagi.


     Bintang dan Asiah terlebih dahulu keluar restoran dan masuk ke mobil Peter. Kemudian Zulaikha dan Yusuf menyusul selang beberapa menit kemudian.


    Lelaki itu pun ikut beranjak bersama mereka. Michael berjalan mendahului Zulaikha dan pura-pura menjatuhkan gelas minuman di dekat laki-laki tadi. Sehingga perhatiannya teralihkan sesaat.

__ADS_1


     Ketika laki-laki itu melesatkan pisau kecil ke arah Zulaikha dan Yusuf saat mereka mendekat. Namun, Yunus melihatnya dan mendorong tubuh Zulaikha dan Yusuf. Sehingga pisau itu gagal kena sasaran.


     Michael pun menendang tangan laki-laki itu dan menonjok rahangnya hingga tersungkur ke lantai. Perbuatan mereka mengundang kehebohan di sana.


"Yunus, bawa mereka ke dalam mobil. Cepat!" perintah Michael. Dia melanjutkan perkelahian dengan laki-laki itu.


     Tanpa menunggu lama Yunus pun menarik Zulaikha dan Yusuf ke luar restoran dan masuk ke dalam mobil Peter. Bintang dan Asiah sudah menunggu di sana.


"Ayo, kita berangkat!" perintah Bintang begitu ketiganya sudah masuk mobil.


     Peter pun melakukan mobil itu menuju pinggiran kota di mana vila keluarga Zulaikha berada. Saat menuju ke sana tidak ada lagi gangguan. Mereka juga dikawal oleh Langit yang mengikutinya dari belakang.


***


     Mobil yang membawa Yusuf dan yang lainnya sudah masuk ke pintu gerbang besi yang tinggi. Dia menatap takjub pemandangan halaman yang dipenuhi oleh pohon tinggi dan banyak patung-patung yang ada di sana.


    Begitu turun dari mobil ada beberapa pelayan menyambut kedatangan mereka. Bahkan tuan dan nyonya rumah pun menyambut kedatangan mereka. Mereka memeluk tubuh putri semata wayangnya yang sudah lama tidak mereka temui langsung.


"Mami ... Papi!" Zulaikha memanggil mereka.


"Zulaikha, Sayang." Keduanya pun meneteskan air mata bahagia.


     Yusuf melihat haru pertemuan keluarga kecil itu. Selama ini yang dia tahu, orang tua Zulaikha itu tidak peduli padanya. Mengabaikan keadaan anaknya yang ada di negri sebrang. Namun, kini dengan mata kepalanya sendiri dia melihat kalau mereka itu sangat sangat pada kekasihnya itu.


"Kamu 'kah laki-laki yang sudah berani mencuri hati putri kami?" Suara Clive terdengar tajam di telinga Yusuf.


"Kenalkan nama aku, Yusuf." 


"Papi, jangan galak sama Om ganteng! Aku balik lagi ke Indonesia kalau Papi begitu," ucap Zulaikha dengan memasang wajah cemberut.


"Jangan gitu, Sayang! Papi sangat rindu sama kamu," balas Clive.


"Papi!" Maharani menatap suaminya dengan kesal.


"Selamat datang, calon menantu!" Clive merentangkan kedua tangannya dan memeluk Yusuf.

__ADS_1


***


Bagaimana kisah mereka selanjutnya? Tunggu kelanjutannya ya! Jangan lupa untuk selalu klik like, komentar, favorit, hadiah, dan Vote-nya. Dukung aku terus. Terima kasih.


__ADS_2