
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Terus kasih like dan komentar. Semoga hari kalian menyenangkan.
***
Bab 111
Rain dan Rania makan malam di cafe milik Rain yang dulu adalah cafe milik Cantika. Sekarang tempat itu lebih mewah karena di desain ulang oleh Bintang. Ruang privat di pilih oleh Rain yang berada di lantai tiga. Dia tidak mau ada laki-laki yang menikmati kecantikan istrinya. Kedua makan malam di sana, saling menyuapi.
"Ya Humaira, malam ini kita tidur di rumah, ya?" ajak Rain untuk tinggal di rumah baru mereka.
"Nanti Mama mencari kita kalau tidak berkumpul bersama," ucap Rania.
"Besok masuk sekolah, 'kan? Kita buat alasan itu saja. Kita ke rumah papa sepulang dari sekolah," balas Rain tangannya menggenggam tangan Rania dengan tatapan berbinar yang selalu menjerat Rania, sehingga tidak bisa menolak ajakannya.
"Baiklah, tapi Nia besok harus masuk sekolah karena akan ada pembagian raport," ucap Rania.
"Kenapa sekolah kamu selalu belakangan kalau pembagian raport. Sekolah yang lainnya hari kemarin," gerutu Rain sambil memasukan puding kesukaan ke dalam mututnya, lalu menyuapi Rania secara bergantian.
"Entahlah, itu kepala sekolah dan guru yang mengurusnya," balas Rania.
***
Malam itu Rain dan Rania menginap di rumah milik mereka. Suasana yang tenang, malam yang cerah dengan terang bulan, dan tidak ada orang lain lagi di rumah itu. Membuat Rain lupa diri saat melihat Rania memakai baju dinas malam yang ada di dalam lemari bajunya. Daya pikat yang dimiliki oleh Rania sudah menjerat diri pemuda itu. Bentuk tubuh yang indah, kulit yang bersih dan bersinar yang memiliki struktur halus dan lembut. Membuat Rain ingin terus menyentuhnya.
"Kak Rain," lirih Rania dengan suara merdunya, saat suaminya mencumbu di tempat yang tidak pernah tersentuh sebelumnya oleh Rain.
"Nia, kamu terlalu menggoda malam ini. Aku takut tidak bisa mengendalikan diriku kepadamu malam ini," bisik Rain dengan napasnya yang mulai berat.
"Nia, takut." Terlihat kecemasan di raut wajah Rania.
Kedua orang itu saling tatap satu sama lain. Sehingga, bibir lembut dan ranum pun saling mereka nikmati.
__ADS_1
"Aku tidak akan menyakiti dirimu," balas Rain dengan bisikan lembutnya.
"Berjanjilah," pinta Rania dengan tatapan mata jernihnya.
"Ya, aku berjanji, tidak akan menyakiti fisik dan hati kamu. Justru aku akan selalu menjaga dan melindungi dirimu," balas Rain tangannya menyentuh wajah cantik Rania.
"Besok adalah hari ulang tahun aku, berarti sudah tujuh belas tahun," kata Rania.
"Tinggal satu jam setengah lagi," ucap Rain dengan senyum tampannya.
"Jadikan lah diriku ini hanya wanitamu satu-satunya seumur hidupmu, Ya Habibi," pinta Rania lagi dengan tatapan memohon.
"Ya, akan aku jadikan kamu wanitaku satu-satunya selama hayat masih dikandung badan," ujar Rain dengan sungguh-sungguh.
Setelah menjalankan sholat sunat, Rania pasrah saat Rain mencumbu dirinya. Namun, dia begitu menikmati setiap sentuhan yang diberikan oleh suaminya. Alunan melodi Rania yang sangat indah, membuat Rain semakin dimabuk kepayang.
Malam itu pun menjadi hari yang bersejarah bagi keduanya. Rania memberikan kehormatan dirinya untuk Rain. Begitu juga dengan Rain, dia melepaskan keperjakaan dirinya. Rupanya malam indah ini bukan hanya milik Rayyan dan Asiah saja. Rain dan Rania juga membuat malam ini terasa begitu indah bagi keduanya. Sehingga, tidak akan pernah terlupakan.
Baru saja kedua manusia yang kelelahan mengarungi surga dunia itu membaringkan tubuhnya. Bunyi alarm di handphone milik Rain berbunyi.
Rain tersenyum sambil mengusap kepala Rania. Tidak ada niatan untuk menyuruh istri segera mandi. Rania pastinya sangat kelelahan dan butuh istirahat untuk memulihkan tenaganya. Masih ada waktu 1 jam 45 menit menuju adzan subuh. Setidaknya masih bisa istirahat dahulu.
Rania setelah sholat subuh langsung tertidur menyandar pada bahu Rain yang sedang mengaji. Suara merdu suaminya itu, serasa mengiringi dirinya untuk tidur nyenyak. Rain pun membiarkan Rania tidur lagi di sampingnya sampai dia selesai mengaji.
"Terima kasih, Cinta. Kamu sudah menyempurnakan diriku," ucap Rain dan mencium kening Rania.
Kalau saja tidak ada pengambilan raport milik Rania dan Rapat direksi. Rasanya Rain ingin ikut tidur kembali bersama istrinya. Orang yang bekerja di rumah Rain itu biasanya datang jam 07.00 dan pulang jam 17.00 saat sore hari. Mereka adalah pasangan suami istri yang dulu bekerja di rumah milik orang tuanya. Namun, Rain tarik saat rumah miliknya selesai dibangun.
***
"Bi Nur, Rania sedang tidur. Kalau bangun tolong bilang jangan ke mana-mana karena saat makan siang aku akan kembali ke sini," titah Rain kepada asisten rumah tangganya.
__ADS_1
"Baik, Den. Apa bibi juga buat untuk masak siang ini?" tanya Bi Nur.
"Buatkan makanan kesukaan Rania saja, Bi," jawab Rain.
Rain pun ke sekolah Rania dan mengambil raport milik istrinya itu. Dia memberikan alasan kalau saat ini Rania sedang sakit. Ya, memang benar tadi Rania mengeluh padanya masih merasa sakit saat berjalan.
Setelah itu, dia pergi ke kantor untuk menghadiri rapat. Semua orang menatap Rain dengan tatapan aneh. Atasannya itu terlihat lebih bersinar dan senyum bahagia terus terukir di wajahnya. Bahkan rapat pun berjalan dengan cepat. Jam 10.30 Rain sudah sampai rumah.
***
Rania menelusupkan wajahnya di dada Rain. Dia suka tidur dalam posisi seperti ini. Tidur saling berpelukan.
"Nia, Sayang. Bangun, yuk! Sebentar lagi waktu Dzuhur," bisik Rain sambil mengelus pipi Rania dengan lembut.
"Masih ngantuk, Kak," ujar Rania dengan mata yang masih terpejam.
"Masih mau tidur atau kita makan siang bersama. Bibi Nur membuat ayam bakar sambal terasi dan lalapnya daun-daun hijau," bisik Rain.
Mata Rania pun terbuka lebar dan senyum diwajahnya tercipta. Dia senang kalau makan banyak lalap daun. Apalagi dengan ayam bakar yang dimasak pakai arang. Rania pasti akan makan banyak.
"Nia mau makan siang bersama. Tapi …." Rania menelan kata-katanya lagi. Dia malu bilang kalau masih terasa sakit jika dia berjalan.
Rain pun mengambil obat untuk Rania. Dia tadi membeli obat di sebuah apotek. Rain juga tahu dari nenek Aurora, ada ramuan dari leluhur yang bisa dijadikan obat.
"Hm, apa Nia, tanyakan ke bunda, ya? Obat agar menghilangkan rasa sakit ini," tanya Nia.
"Jangan! Minum obat ini saja untuk menghilangkan rasa sakitnya," balas Rain dengan muka yang memerah.
***
Rain sudah goal duluan dibanding Raihan. Padahal dia yang menikah paling dulu. Akankah Raihan mengikuti jejak Rain? Tunggu kelanjutannya ya!
__ADS_1
Sambil menunggu Rain dan Rania up bab berikutnya. Yuk baca juga karya teman aku ini. Ceritanya bagus dan seru, loh. Cus meluncur ke karyanya.