
Beberapa menit sebelum kedatangan Asiah ....
Laptop milik Yunus masih menyala. Dia tadi lupa mematikan saat mengawasi sambil masak. Zulaikha yang selesai mencuci tangan melihat ada seseorang, yang dirasa dia mengenal siluet tubuh orang itu.
Wajah Zulaikha langsung pucat. Dia yakin kalau laki-laki yang sedang tertangkap kamera cctv itu adalah Qorun. Jalannya yang pincang akibat di siksa oleh Kakak laki-laki, At-Tin.
Yunus yang hendak membereskan sisa makan sarapan tadi, melirik ke arah Zulaikha yang berdiri mematung di dekat kitchen set. Dia terkejut saat melihat layar laptopnya masih menyala.
"Ada yang mau aku bicarakan dengan kamu," kata Yunus sambil menyentuh bahu Zulaikha.
"Itu ..., dia 'kan?" tanya Zulaikha.
"Kalau melihat dari ciri fisik, mirip dia. Namun, untuk memastikan kita bisa mencari sudut kamera yang bisa melihat wajahnya secara jelas," jawab Yunus.
"Bagaimana mungkin dia tahu aku tinggal di sini?" tanya Zulaikha sambil menatap Yunus sebentar dan mengalihkan lagi perhatiannya ke layar laptop. Namun, laki-laki itu sudah tidak terekam lagi oleh kamera.
"Karena selama ini dia terus mencari keberadaan kamu?" jawab Yunus.
Zulaikha bergetar hebat sampai dia jatuh terduduk karena kakinya terasa lemas. Yunus pun ikut berjongkok, kemudian memapah nona majikan dan mendudukkannya di kursi meja makan.
"Apa sebaiknya kita pindah tempat tinggal dulu?" tanya Yunus.
"Aku tidak mau jauh-jauh dari Om dan Asiah," balas nona muda.
"Kalau begitu, sebaiknya kamu menjaga jarak dengan orang-orang yang kamu sayangi itu," lanjut sang bodyguard.
"Kenapa?" Zulaikha menatap penjaganya dengan penuh tanya.
__ADS_1
"Karena bisa saja mereka juga sasaran oleh Qorun untuk membalas dendam padamu," tukas Yunus.
"Maksud kamu ..., aku tidak boleh menjalin hubungan dan terlihat sangat dekat dengan mereka?" Zulaikha melihat Yunus dengan tatapan penuh luka.
"Untuk sementara. Jaga diri kalian saat di tempat umum. Ahk! tidak bisa begitu juga. Dia bisa saja menyewa mata-mata atau memasang kamera rahasia di tempat-tempat kamu sering berada." Yunus berdiri menahan rasa kekesalannya.
Seandainya Zulaikha tidak punya hubungan yang erat dengan Yusuf dan Asiah, akan mudah baginya untuk fokus melindungi nona mudanya saja. Namun, sekarang dia juga harus memikirkan keselamatan dua orang yang berarti bagi majikannya itu.
Dalam ke terdiam-an mereka itu terdengar pintu diketuk dari luar. Kedua orang itu mengalihkan perhatian mereka pada bunyi pintu.
"Asiah ...?" gumam Zulaikha.
Langkah Zulaikha terasa berat dan jarak menuju pintu serasa bertambah jauh. Yunus mencekal tangan gadis itu.
"Ingat. Demi melindungi mereka kamu harus menjaga jarak dahulu," ucap Yunus.
Zulaikha membuka pintu dan terlihat bocah cantik berjilbab sedang tersenyum padanya. Pipi chubby yang selalu menjadi sasaran ciuman karena gemas kini terlihat semakin menggoda. Zulaikha ingin sekali langsung memeluk tubuh mungil itu.
"Mama Zulaikha, ayo kita sarapan!" suara khas anak-anak menyapa pendengaran Zulaikha.
***
Saat ini Zulaikha dan Yunus berada di sebuah cafe milik Mamanya Bintang. Mereka menempati ruang khusus, sehingga tidak akan ada yang mengganggu pembicaraan penting mereka.
"Ada apa?" tanya Zulaikha dengan wajah datar.
"Kamu itu ... ramah dikit sama tuan rumah. Aku akan langsung bicara pada intinya. Qorun sudah tahu tempat tinggal kamu sekarang. Dia juga mulai menyelidiki orang-orang yang dekat dengan kamu. Termasuk si Duren dan si boneka cantik itu." Bintang bicara sambil membuka laptop miliknya.
__ADS_1
"Duren? Boneka cantik?" Zulaikha membeo.
"Laki-laki incaran kamu itu 'kan, Duda Keren! Terus bocah yang sering bersama di kembar itu suka bawa boneka cantik," jelas Bintang dengan tangan yang tidak berhenti menari di atas keyboard.
Zulaikha tersenyum tersipu malu. Dia kadang sulit menyembunyikan rahasia dari Bintang. Dengan kecerdasan di atas rata-rata si Trio Kancil itu selalu mudah mengetahui apa saja yang mereka ingin tahu.
"Aku tidak bisa lama-lama. Karena harus segera ke bandara." Bintang berdiri dan menunjukkan sebuah data yang dia berhasil di sabotase olehnya.
"Bintang ini?" Zulaikha terkejut membaca tulisan yang ada di dalam layar datar itu.
"Tenang aku akan bantu kamu untuk melindungi mereka." Bintang merapikan gamis dan jilbabnya.
"Oh, iya. Aku akan tinggal di Indonesia mulai bulan depan. Karena aku mau lanjut S2 aku di sini. Biar sering bertemu dengan Om Arya," kata Bintang lagi di iringi tawa dan pergi menuju pintu.
"Dasar bucin akut!" umpat Zulaikha.
"Aku dengar loh, Zul!" Bintang yang sudah membukakan pintu itu membalikan kepalanya dan mengepalkan tangannya.
"Kamu juga sama begitu. Bucin tuh sama duda!" Bintang tidak jadi pergi.
"Hei, meski dia duda. Umurnya belum tua. Kita hanya beda tujuh tahun sedangkan kamu bedanya sampai dua belas tahun!" Zulaikha sewot nggak mau kalah.
"Meski begitu dia masih perjaka dan nggak ada buntutnya." Bintang mana mau kalah sama teman semasa kecilnya itu, tidak ada yang boleh mengalahkan dia.
"Eh, itu bonus. Malah bagus, kawin sama bapaknya dapat bonus anak."
Selalu seperti ini akhirnya, jika Bintang dan Zulaikha bertemu. Biasanya Langit atau Angkasa yang memisahkan mereka. Meski di sana ada Yunus, laki-laki itu malah membaca data yang tadi dikirim oleh Bintang untuknya.
__ADS_1
***
Bagaimana kisah mereka selanjutnya? Tunggu kelanjutannya ya! Jangan lupa untuk selalu klik like, favorit, hadiah, dan Vote-nya juga. Dukung aku terus. Terima kasih.